RSS
Facebook
Twitter

Jumat, 25 Oktober 2019

Terjebak Birokrasi


Aku ingin, mendapat pekerjaan yang membuatku berkecukupan. Hingga aku tak perlu mempertimbangkan saran orang lain bahwa untuk bisa aman secara finansial harus punya 2-3 sumber penghasilan.

Selasa, 22 Oktober 2019


Selalu ada alasan dibalik alasan. Termasuk saat ini Allah belum memberi amanah terhadapku untuk memimpin sebuah keluarga.

Kamis, 17 Oktober 2019

Bahagia Dengan Diri Sendiri


Belakangan aku sedang merasa tak bahagia karena sesorang yang ku harapkan bisa memberi kebahagian ternyata tak memberi imbal balik atas usaha ku membahagiakannya.

Aku sadar, ini sudah sangat tidak sehat dan ku rasa inilah waktu yang tepat untuk me re-definisikan arti kebahagiaan itu sendiri.

Mulai sekarang, aku tidak boleh menggantungkan kebahagiaan ku berdasarkan apa yang orang lain lakukan kepadaku.

Aku harus menciptakan cara bahagia sendiri.

Tidak dengan perbuatan seperti yang tertulis di buku-buku motivasi tapi aku harus menciptakan bahagiaku mulai dari pikiranku sendiri.

Ku rasa ini waktu yang tepat untuk mengubah prinsip sebelumnya yaitu dengan membahagiakan orang lain akan mebuatmu bahagia. I will not doing that anymore.

But don't worry, I will try to be a nice people. Just that. Without any reason.

Jadi, bagaimana pikiranku bisa menemukan bahagia?

Setelah kurang lebih 5 jam berfikir :
Aku takkan mengganggumu lagi seperti dulu, tapi bolehkah aku meminjam keberadaanmu masuk ke dalam pikiranku?

Tentang Mewujudkan Impian Orang Lain


2 Mei 2016, untuk beberapa alasan menjadi salah satu hari yang takkan pernah bisa ku lupa. Pun aku yakin juga takkan dilupakan oleh berapa sahabat UKMP yang kala itu membulatkan tekad untuk bersama-sama menuju puncak gunung ungaran.

Bukan tergolong gunung yang susah, pun juga tak bisa dibilang mudah untuk ditaklukkan. Bukan menaklukkan gunungnya ya, tapi muncak adalah tentang menaklukkan ego supaya bisa bersama menuju puncak tertinggi.

6 jam melalui jalan setapak. Satu hal yang mungkin menjadi momok bagi kami yang 80% bahkan sama sekali belum pernah mendaki gunung manapun.

Pun bagi saya yang hanya bermodal pernah sekali kesini sebelumnya, saat itu membulatkan tekad untuk kembali kemari unthk mengejar terbitnya matahari dari tempat terbaik di semarang ini.

Lebih dari itu, nekad adalah kata yang paling tepat untuk digambarkan saat itu, karena kali ini peran yang berbeda yang harus saya pikul, yaitu sebagai penanggungjawab rombongan. Memangnya saya bisa apa?

Saat itu, saya hanya bermodal percaya kepada teman-teman bahwa kita bisa melalui ujian ini dengan baik tanpa merusak alam, tanpa melanggar perintah Nya dan tentu dengan ijin Nya.

Hari itu, adalah satu hal paling gila yang pernah kita lakukan, yang saya pikirkan saat itu hanyalah keselamatan teman-teman.

Tak perlu digambarkan betapa amatir nya kita saat itu, peralatan dan persiapan yang sangat seadanya benar-benar menjadi penghambat dalam perjalanan kali ini.

Namun, pada akhirnya kita berhasil melaluinya. Bahkan saya tak mendengar salah seorang dari kita yang mengeluh selama perjalanan.

Hal yang bisa dipelajari dari perjalanan kali ini adalah ketika kita baik ke alam maka sebaliknya alam akan ramah ke kita, kemudian muncak adalah tentang kebersamaan menuju puncak, mungkin beberapa ada yang bisa berjalan lebih cepat, namun takkan ada artinya jika salah satu dari kita ada yang tertinggal.

Akhirnya, bolehkah saya mengklaim bahwa hari itu saya telah membantu mewujudkan salah satu impian kalian? Dan hari itu juga menjadi salah satu hari yang tak kan bisa kalian lupakan?