RSS
Facebook
Twitter

Tampilkan postingan dengan label My Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Life. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Agustus 2022

Tugas, Rasa Syukur dan Tanggung Jawab

The Sun


Belakangan situasi keos semakin melebar, tak hanya di area A, pun juga melebar ke area H.


Ketika situasi seperti ini terjadi, kembali teringat bahwa 'Surya' disematkan menjadi nama tengah bukan tanpa alasan.


Pemberian ini tentu menjadi harapan bagi pemiliknya kelak bisa menjadi cahaya untuk lingkungan sekitarnya.


Di saat kondisi yang semakin tak menentu seperti ini, Sang Surya tak boleh bergantung dan menunggu munculnya cahaya lain.


Bangkitnya kesadaran bahwa dia memiliki tugas dan kemampuan untuk menghangatkan lingkungan sekitar.


Disitulah jati diri dan takdir yang harus telah tersemat harus dijalani dengan penuh rasa syukur dan tanggung jawab.


Pilihannya adalah 

Mewarnai atau diwarnai

Membentuk atau dibentuk

Dia seharusnya tau takdirnya ada di sisi mana.

Kamis, 03 Februari 2022

Who am i?

Boleh lelah, namun tak boleh menyerah


Salah satu harapan yang ingin bisa aku capai adalah bisa mendefinisikan siapa diriku.


27 tahun menjalani kehidupan ternyata aku belum bisa menemukan jawabannya.


Dulu semasa kecil sempat punya beberapa prestasi di bidang lukis, namun ketika melihat keatas ternyata banyak yang jauh lebih baik akhirnya ku tinggalkan dunia lukis.


Lalu sempat menemukan potensi dalam bisa kepenulisan karya ilmiah, namun ternyata kurang dalamnya riset membuat tulisanku seringkali hanya mentok di 10 besar.


Selanjutnya, sempat menemukan kebahagiaan ketika bermain futsal, pun sempat berprestasi juga. Namun tetap harus ditinggalkan karena pekerjaan yang nomaden sehingga sulit sekali menetap di 1 komunitas futsal yang sama.


Kini justru bekerja di bidang yang berbeda dari ketiga hal diatas yaitu dunia instrumentasi. Beruntung kali ini tak jauh berbeda dari jurusan kuliah yang diambil, sehingga terpakai juga beberapa ilmu yang di dapat di dunia kuliah.


Namun lagi, dunia ini belum cukup kuat untuk membuatku meantap mengucapkan "i was born to be an instrumentation engineer".


Oiya satu lagi, yang paling mendekati dari definisi diri justru dari kegiatan sampingan yaitu mendesain grafik, video dan ppt. Namun cuan yang dihasilkan masih sedikit. Jadi juga belum bisa cukup kuat untuk jadi jawaban atas pencarian ku selama ini.


Kedepan, aku yakin masih ada sesuatu yang tercipta dari ku sehingga aku bisa mantap mengatakan aku adalah seorang _____


Mungkin 1 atau 2 percobaan lagi aku akan menemukannya. Semakin banyak mencoba maka semakin banyak jatah gagal yang akan tercoret. Lebih baik gagal ketika sudah mencoba dari pada menyesal karena tidak pernah mencoba.

Minggu, 12 September 2021

Kenapa harus membeli Original Jersey?

 


Sebagai seorang fans dari suatu klub sepak bola, khususnya saya sendiri seorang Milan fans. Pasti semuanya punya keinginan untuk mempunyai jersey klub yang didukungnya.

 

Nah, dalam hal ini ada beberapa perbedaan pandangan. Ada yang suka membeli jersey KW asalkan bisa setiap tahun memiliki seri jerseynya dengan tujuan entah untuk kepuasan pribadi atau untuk menunjukkan identitasnya sebagai seorang fans dari klub sepak bola tersebut.

 

Tapi ada juga yang lebih suka membeli jersey original karena selain dari kualitas, hype atau ya karena mereka memang punya uangnya hehe.

 

Saya sendiri suka Milan mulai dari medio 2006, dan tentu jersey yang saya beli pertama adalah jersey KW yang kualitasnya sangat biasa saja namun kesannya sangat mendalam karena itu jersey pertama saya.

 

Namun sebagai seorang ‘bayi’ yang baru suka Milan pada saat itu saya punya 1 impian bahwa suatu saat saya akan punya jersey original yang harganya tak masuk akal itu, milik saya sendiri.

 

Bukan menjadi rahasia umum, kalau Indonesia adalah penghasil jersey terbaik di dunia. Maka dari itu, yang dijual di Milan store dan beberapa official store klub lain adalah jersey buatan Indonesia.

 


Seperti yang bisa dilihat, ini adalah beberapa detail hasil jerpretan jerseynya yang jelas tertulis made in Indonesia?

 

Nah, jadi apakah tidak sia-sia membeli jersey ‘Made In Indonesia’ jauh-jauh dari italia. Tentu tidak, karena produk premium ini hanya memang dipasarkan disana dan sampai saat ini saya belum menemukan akses untuk membeli produk made in Indonesia ini bahkan di Indonesia sendiri.

 

Jersey original yang di jual di Indonesia justru berasal dari Thailand, Myanmar dsb. Ini membuktikan kalau kualitas produksi kita sudah level dunia sehingga justru dijual di official store sana. Secara kualitas Indonesia sudah mampu bersaing di level intenasional, tinggal bagaimana kita memasarkan dan membuat brand nya saja.

 

Kembali ke topik utama, kenapa sih kita harus membeli jersey original?

 

Sebagai fans sepak bola kita tentu sering mengkritik klub yang kita dukung ketika mengalami kekalahan, terkait kebijakan transfer atau negosiasi gaji pemain yang sangat panjang dan alot.

 

Mengkritik memang bagus, namun akan lebih solutif jika kita berkontribusi langsung untuk menyelesaikan beberapa permasalahan tersebut.

 

Salah satunya adalah dengan membeli jersey original karena walaupun sangat kecil, hal ini berdampak secara langsung terhadap keuangan klub yang kita dukung kebanyakan dari layar kaca ini.

 

Jadi, buat yang belum punya jersey original sebaiknya dikurang-kurangin lah mengkritik klub yang anda dukung kalau anda belum punya jersey original.

 

Terakhir, Ya pada akhirnya, 15 tahun setelah momen pertama kali menjadi fans Milan, impian kecil itu pun terwujud. 2021 akhirnya menjadi tahun yang saya kenang sebagai pencapaian pribadi. Ya, akhirnya saya memiliki jersey original pribadi yang langsung saya beli dari Milan store dan dikirim langsung dari italia sana.

 

Untuk hal ini saya ucapkan apresiasi yang setinggi-tingginya untuk istri saya yang membantu saya mewujudkan salah satu impian kecil saya ini.

 

1 Mimpi telah terwujud, dan Mimpi selanjutnya adalah menonton pertandingan Milan langsung dari stadion San Siro (Kalau proyek pembangunan stadion baru Milan kembali belum terlaksana). Nah, ketika itu terwujud, saya akan kembali cerikan itu disini, sekian terimakasih.

Jumat, 30 Juli 2021

Melawan Stigma Penyitas Covid-19

Tahun ini, 2021 sepertinya akan menjadi tahun bersejarah bahwa di dunia pernah mewabah sebuah virus bernama “Covid-19” yang menyerang sistem imun manusia. Saya adalah salah satu penyitas yang berhasil melewati virus tersebut.


Cerita bermula ketika kami ditugaskan melakukan pekerjaan kalibrasi outage di PLTU Paiton Unit 7. Tanggal 15 Juni 2021 kita berangkat menuju lokasi dan sebagai aturan prokes dari tempat kami bekerja, bahwa semua pekerja wajib tes SWAB ANTIGEN berkala seminggu sekali untuk mendeteksi ada tidaknya virus covid di dalam tubuh.


23 Juni 2021 kami ber-11 di tes, hasilnya 5 orang dinyatakan positif dan langsung dipulangkan dan dilakukan karantina dengan memisahkan tempat kita menginap. Waktu itu saya masih negatif, dan dengan pede-nya mengira mungkin karena imun-ku masih kuat menolak virus-virus tersebut.


Sebagai tindakan pencegahan besok paginya kita semua 1 tim harus melakukan tes SWAB PCR yang katanya lebih akurat dibanding tes sebelumnya.


Malamnya, saya baru merasakan badan terasa tidak enak. Tenggorokan gatal, badan pegal-pegal, lemas dan lidah terasa pahit. Mungkin ditambah sedikit ansomnia, ah kurang tau juga soalnya waktu itu nafsu makan sangat menurun drastis.


Besoknya setelah tes SWAB PCR keluar, saya jadi positif. Hmm.. sudah saya duga, dengan kondisi tubuh selemah ini sepertinya saya memang harus istirahat dulu.


Kemudian saya teringat, 2 atau 3 hari sebelum hari itu saya justru mengurangi konsumsi Vitamin C karena takut terjadi kontaminasi antara Susu Bear Brand yang baru diberikan tepat 2 atau 3 hari itu. Rencananya akan dimunum sore atau malamnya namun kecolongan dan menjadi lupa. Mungkin itu salah satu faktornya.


Singkat cerita kami pun dikirim pulang ke Sidoarjo untuk dilakukan karantina mandiri. Saat itu kami disediakan tempat di Hotel Delta Mayang yang merupakan tempat khusus isoman penyitas covid-19.


Disitu kami diperlakukan sangat baik, tempat yang nyaman, makan 3 kali sehari, vitamin dan obat yang sesuai gejala serta kami masih bisa keluar ke balkon hotel setiap jam 10 pagi untuk berjemur.


Setelah mengalami demam dan pegal-pegal selama 2 hari, saya juga mengalami batuk yang obatnya saya dapat dari hotel ini juga. Jadi, setiap pagi kami di telfon oleh (mungkin) perawat yang menanyakan gejala yang dialami serta ketersediaan obat sesuai gejala tersebut.


Singkat cerita 10 hari berhasil dilewati, hari ke 11 saya pulang ke rumah dengan modal kata dokter bahwa virus ini akan mati di hari ke 10. Namun, keraguan saya adalah saya masih batuk-batuk bahkan sampai hari ke 20 sekian.


Sumber lain dari beberapa akun dokter di twitter dan instagram juga senada dengan pernyataan dokter dari hotel tadi, namun kita masih belum diperbolehkan masuk kantor saat itu.

Hasil PCR pada hari ke 13

Oiya, hari ke 13 saya melakukan tes PCR lagi dan hasilnya masih positif dengan nilai CT 30,64. Menurut beberapa litaratur memang tes PCR memang masih bisa mendeteksi bangkat yang berada di dalam tubuh.


Supaya cepat negatif tubuh harus segera melakukan metabolisme dengan membuang virus yang ada di dalam tubuh. Namun sayangnya kemampuat tiap orang dalam hal metabolisme tubuh tentu berbeda-beda sehingga jangka waktu seseorang untuk dinyatakan negatifpun berbeda.


Jadi, selama tubuh kita memiliki imun yang baik serta kita selalu mematuhi aturan prokes, insyaallah covid dan bahkan penyakit pun akan menjauh. Ayo mulai hidup sehat supaya kita bisa menjalani kehidupan yang lebih baik lagi.

Sabtu, 19 September 2020

Berandai-Andai

 


Di usia 26, mungkin merupakan usia yang cukup matang untuk menikah dan aku sangat berharap untuk bisa menikah di usia maksimal 27.

 

Sebagai orang dengan gaji pas-pasan, banyak hal yang mau tidak mau harus ditahan untuk tidak dilakukan demi tujuan menabung untuk pernikahan. Mulai dari tidak sering main dan nongkrong, mengurangi anggaran makan harian hingga yang lebih parah mengurangi jatah bulanan ke orang tua.

 

Semoga aku tak menjadi anak durhaka karena ini.

 

Apakah semua pengorbanan itu sebanding demi sebuah pernikahan? Demi hidup dengan orang baru yang belum tentu kadar cintanya setidaknya mendekati 50% dari cinta orang tua kepada kita.

 

Beberapa teman kantor yang usianya diatasku juga bahkan belum terlihat memiliki calon. Apakah usia segini memang belum terlalu matang untuk menikah ya?

 

Aku sendiri terkadang merasa masih kekanak-kanakan dan emosional dalam menanggapi permasalahan. Apakah aku pantas menikah dalam kondisi yang setengah dewasa seperti ini?

 

Kata orang, bisa learning by doing kok. Ah, klise.

 

Namun, jika berandai-andai pernikahan bukan menjadi tujuan terpenting dalam hidupku, mau diapakan semua tabungan yang dikumpulkan bertahun-tahun ini?

 

1.       Untuk Orang Tua

Hidup matiku tak lebih berharga dibanding kebahagiaan mereka. Aku mungkin tak pandai mengungkapkan dan mengekspresikan betapa aku mencintai kedua orang tuaku. Namun, bila menikah bukan menjadi tujuanku selanjutnya, aku siap memberikan semua uang ini untuk orang tua dengan hanya menyisakan uang untuk bertahan hidup selama sebulan saja.

 

2.       Membuka Usaha

Sebagai anak dari seorang pedagang mie ayam, jiwa dagang sudah mengalir didarahku. Namun, karena resikonya masih 50:50 aku harus rela untuk saat ini tidak mengambil resiko itu hanya demi mempertahankan tabungan ini.

 

3.       Men-DP Rumah

Sepertinya membeli rumah dengan sistem KPR yang katanya haram ini merupakan satu-satunya alasan paling masuk akal buat karyawan bergaji pas-pasan dan tak punya harta warisan ini. Kalau sudah punya rumah sendiri rasanya sudah sangat aman mengingat rumah pun bisa dijadikan investasi karena harganya bisa dipastikan selalu naik dari tahun ke tahun.

 

4.       Memulai Hidup lagi di tempat baru

Beberapa rekan dan kenalan sudah membuka pintu untuk mengajak saya bergabung ditempatnya. Beberapa lowongan yang lebih menggiurkan juga berseliweran di media sosial. Namun saya putuskan saat ini masih bertahan di kota ini sampai saat ini.

 

Keempat opsi tersebut merupakan opsi yang juga memiliki resiko yang besar yaitu apabila mengalami kegagalan atau kendala bisa berakibat terhadap tertundanya pernikahan sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Makanya hal tersebut belum dilakukan secara maksimal saat ini, semoga suatu saat bisa terealisasi sebelum atau sesudah menikah, Aamiin.


Senin, 14 September 2020

Senin, 14 September 2020

Dimasa pandemi ini Rapid Test dan Swab Test (Apa itu Rapid dan Swab?) menjadi lahan bisnis baru bagi rumah sakit dan klinik kesehatan hal yang wajar dilakukan siapapun untuk mendeteksi ada tidaknya virus corona dalam tubuh seseorang.  


Protokol kesehatan semacam jaga jarak ±1 meter, pakai masker ketiga pergi kemanapun, face shield dan APD lengkap bagi tenaga kesehatan, selalu rutin cuci tangan pakai sabun dll menjadikan pergerakan umat manusia sangat-sangat dibatasi.


Karena Covid-19, pertengahan tahun 2020 ini sudah tidak ada konser musik, banyak tempat wisata ditutup untuk meminimalisir terjadinya kerumunan, dan akses ke transportasi sangat dibatasi dengan manjaraki tempat duduknya.


Akibatnya banyak sektor usaha yang tidak bisa berjalan, pengangguran semakin meningkat, ekonomi semakin terjun bebas, warga dibatasi pergerakannya sehingga banyak masyarakat yang stress karena tak bisa kemana-mana.


Salah satu strategi ‘New Normal’ yang diterapkan di Indonesia adalah untuk menggunakan transportasi umum semacam kereta jarak jauh dan pesawat terbang kita diwajibkan untuk melampirkan hasil rapid atau swab test terlebih dahulu yang biaya testnya cukup mahal untuk seukuran masa pandemi kali ini.


Sebagai seorang kontraktor, pergerakan perusahaan tempat bekerja pun menjadi sangat dibatasi. Beberapa perusahaan yang menggunakan jasa kami mensyaratkan untuk teknisi yang berangkat harus sudah dinyatakan aman dari Covid-19 melalui Rapid atau Swab Test.


Untuk itulah, hari ini saya pertama kalinya harus menjalani Rapid Test di Laboratorium Klinik Prodia. Di Sidoarjo sendiri ada beberapa tempat yang bisa digunakan untuk melakukan test ini. Namun setelah beberapa pertimbangan akhirnya diputuskan untuk melakukan Rapid disini.


Singkat cerita, setelah ±2 jam lebih mengantri tibalah giliran saya untuk melakukan Rapid. Oiya, sewaktu pendaftaran bagian resepsionist sempat mengatakan kalau metodenya yaitu metode ECLIA yang katanya lebih akurat dibanding Rapid Test. (Apa itu ECLIA test?) Saya tak ambil pusing tentang metode tersebut karena memang saya tak punya gejala apapun dan biaya nya yang hanya IDR 150.000 membuat saya langsung mengiyakan saja.

Tangan Setelah ECLIA test

 

Sempat ditakut-takuti oleh beberapa teman, ternyata sewaktu darah diambil tidak begitu sakit. Terus terang saya sama sekali tak melihat jarum suntiknya karena saya memalingkan wajah ke arah sisi yang berlawanan. Namun yang saya rasakan jarum yang masuk ke siku dalam tangan saya sangat tipis sehingga sakitnya masih bisa diminimalisir, masih lebih sakit ketika saya pertama melakukan scalling gigi beberapa waktu lalu, haha.


Setelah selesai, saya langsung pulang karena hasilnya baru bisa diambil lagi nanti pukul 18.00 WIB. Singkat cerita, selepas maghrib dalam kondisi klinik yang sudah sangat sepi saya langsung mengantri mengambil hasil lab nya dan berikut adalah hasilnya :

 

Hasil Rapid Test

Seperti dilihat diatas Alhamdulillah hasilnya adalah Non Reaktif, alhasil saya sudah memenuhi syarat untuk berangkat ke salah satu pabrik minyak goreng di Gresik untuk hari rabu depan.

Rabu, 24 Juni 2020



Sewaktu kuliah, saya baru sadar kalau gaji guru sangat rendah. Padahal waktu itu saya adalah calon sarjana pendidikan yang harusnya setelah lulus diproyeksikan untuk menjadi guru.

Waktu itu juga saya baru sadar kalau ibu saya yang hanya seorang tenaga kerja honorer mempunyai bayaran yang sangat kecil. Sangat tidak masuk akal karena bayarannya bahkan masih dibawah tenaga bantu yang bapak pekerjakan di warung mie ayamnya.

Bahkan saya sempat berpikiran kenapa tidak ibu saya saja yang bantu di warung? Kan penghasilannya lebih besar.

Jumat, 22 Mei 2020

Lomba di Universitas Tanjungpura

Selama menjadi mahasiswa, setidaknya saya sudah berkeliling 4 pulau besar di Indonesia yaitu Sumatra yang diwakili ke Universitas Riau dan hampir ke UNP Padang namun tidak jadi berangkat karena masalah dana, kemudian ke Kalimantan yang diwakili ke Universitas Tanjungpura, lalu ke Sulawesi yang diwakili ke Universitas Hasanuddin dan juga gagal berangkat ke Manado karena dana tombokan yang begitu besar dan yang terakhir tentu pulau yang saya tinggali yaitu Jawa yang diwakili pernah ke Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, ITS Surabaya, Untirta Banten, PKTJ Tegal, Kementrian Perhubungan Jakarta dan tentu saja di kampus sendiri yaitu Universitas Negeri Semarang. Untuk dijawa, seingat saya hanya gagal berangkat sebanyak 2 kali yaitu ke Universitas Brawijaya untuk ke 2 kalinya dan ke Universitas Telkom Bandung.

Kamis, 21 Mei 2020

Catur, Melukis dan Bahasa Inggris



Masih tentang bernostalgia untuk mengisi waktu luang dimasa pandemi Covid-19 yang membuat kita dipaksa #dirumahaja. Kali ini saya ingin kembali menuangkan isi hati mengenai catur dan melukis. 2 hal lain selain sepak bola yang mampu mengubah hidup saya.

Handi kecil adalah bocah pemalu yang tak berani coba-coba. Terus terang saya belajar catur awalnya dari mengamati orang saja bagaimana pion, benteng, kuda dll bergerak. Namun ada 1 kejadian yang benar-benar mengubah dan meningkatkan 89% kemampuan saya bermain catur yaitu ketika diberi tahu oleh Pakde Kus mengenai trik mengalahkan lawan hanya dengan 4 kali gerakan (Kalau ingin tahu caranya membuat skakmat lawan hanya dari beberapa langkah bisa dilihat DISINI).

Dari ajaran itu saya berhasil mengalahkan lebih dari 80% lawan saya ketika lomba catur tingkat RT. Sisanya adalah improvisasi bahwa catur memang permainan strategi, kita harus mampu merencanakan 3 sampai 4 langkah kedepan bagaimana cara men-skakmat raja dan juga harus memprediksi 3 sampai 4 langkah gerakan lawan yang akan men-skakmat kita. Kelemahan saya adalah saya selalu terburu-buru ingin menskakmat lawan hingga tidak memperdulikan gerakan lawan. Misal saya sudah menemukan cara menskakmat dengan 4 langkah, namun karena terlalu bersemangat hingga tanpa saya sadari saya dulu lah yang terkena skakmat hanya dari 3 langkah. Namun, sebagai pemula saya cukup bangga karena waktu itu setidaknya saya selalu masuk 3 besar dalam lomba catur tingkat RT selama 3 tahun berturut-turut sebelum lomba catur benar-benar dihapuskan karena tak ada warga yang punya papan catur.

Berlanjut ke melukis, sebenarnya saya juga tak begitu berbakat melukis. Namun satu hal yang mengubah hidup saya adalah ketika Pakde Him mengajarkan teknik melukis dan mewarnai dengan menggunakan crayon. Lukisan saya tak begitu bagus namun saya hanya tau cara mewarnai dengan crayon yang waktu itu menggunakan teknik gradasi.  Dari melukis saya banyak sekali mendapat penghargaan, dari tingkat RT, tingkat dabin iv dan tingkat kabupaten juga pernah. Bahkan puncaknya saya pernah mewakili kota Demak dalam porseni tingkat Jawa Tengah. Sebelum mewakili, itu saya menjadi juara 2 tingkat kabupaten Demak. Seperti yang saya bilang diawal tadi, saya tak punya bakat melukis, hanya tau trik mewarnai yang bagus saja. Dalam waktu durasi melukis selama 2 jam itu, si juara 1 tadi menyelesaikan lukisannya dalam waktu 45 menit + 10 menit menebali menggunakan spidol dan sisanya digunakan untuk mewarnai. Sedangkan saya perlu menghabiskan 1 jam 30 menit untuk menggambar dan 30 menit untuk mewarnai, hal ini yang membuat saya minder dan menyadari bahwa saya memang tidak berbakat. Maka dari itu, meskipun telah banyak memberi saya gelar juara, saya tak begitu mau men-seriusi melukis dan beruntung di masa kuliah saya bisa menemukan kegiatan lain yaitu “menulis” yang bisa menjadi ladang selanjutnya dalam menambah koleksi piagam penghargaan.

Sedikit mundur kebelakang mengenai bahasa inggris, juga Pakde Him yang mengenalkan saya dengan bahasa inggris. Metode yang diajarkan cukup simple, hanya mengajari Grammar dan disuruh menghafal 5 kata irregular setiap les sore sehingga membuat saya menjadi siswa paling menonjol di kelas mengenai pelajaran bahasa inggris saat itu. Sebagai gambaran setiap ulangan saya bisa mendapat nilai 70-80, tidak terlalu tinggi memang, namun tetap menjadi siswa yang paling diingat guru karena teman-teman lain rata-rata hanya mendapat nilai 40-50. Memang bukan saya yang terlalu pintar, hanya kebetulan diwaktu SMP itu teman-teman saya yang lain tak begitu memfokuskan bahasa inggris sebagai mata pelajaran yang diseriusi, mungkin salah satu alasannya karena bahasa inggris tak masuk dalam maple Ujian Nasional. Jujur, saya sebenarnya tidak 100% memahami Grammar, saya hanya mengandalkan intuisi saja yang membuat ilmu itu terus memudar seiring berjalannya waktu. Terutama diwaktu akhir-akhir masa SMA yang terus terang saya mulai malas belajar untuk UN. Namun beruntungnya saya masih punya semangat untuk membelajari soal-soal SNMPTN sehingga waktu itu Alhamdulillah saya masih bisa masuk PTN.

Agak meloncat-loncat memang, saya tak pernah menseriusi 1 bidang pasti untuk didalami sehingga semua ilmu yang saya punya hanya setengah-setengah saja. Namun dari kesemuanya itu adalah sekian sedikit hal yang bisa membuat survive dan merasa berguna. Untuk itu, kalian harus tetap berusaha menemukan apa yang membuat kalian merasa berguna. Jangan pernah lelah untuk mencoba seperti kata Pak Habibie, “Setiap orang punya jatah gagal, habiskan jatah gagalmu sewaktu muda, agar kamu bisa meraih kesuksesan secepat mungkin”.

Rabu, 20 Mei 2020

Sepak Bola, PSIS Semarang dan AC Milan


Handi kecil adalah bocah kecil cupu, suka menangis dan juga mudah pingsan ketika upacara bendera. Maka dari itu, aktivitas olahraga/ fisik bukan hal yang paling disukai pada masa SD. Namun pertengahan kelas 6 SD ketika saya hanya sekedar ‘formalitas’ berdiri di depan gawang ketika bermain sepak bola bersama teman sekelas lainnya, saya pertama kali mendapat pujian dari teman-teman karena beberapa kali melakukan penyelamatan di depan gawang. Hal ini adalah momen pertama yang membuat saya mulai bisa menikmati bermain sepak bola, sebagai pemain belakang.

Sewaktu SD itu pula, teman-teman sering bercerita bagaimana bangganya mereka menonton langsung pertandingan PSIS Semarang langsung dari stadion, yang kebetulan waktu itu PSIS memang sedang hebat-hebatnya dengan menjadi Runner-Up Liga Indonesia bersama pemain asing popular saat itu yaitu DE PORRAS DAN ORTIZ yang berasal dari Italia yang sepertinya masih sangat dicintai supporter hingga saat ini. Momen itu juga yang membuat saya penasaran dan kemudian juga bisa menikmati menonton pertandingan sepak bola meski hanya dari layar kaca. Iya sepertinya saya bisa mencintai klub ini, semakin yakin ketika saya baru diberi kesempatan menonton langsung pertandingan PSIS ketika kuliah di Semarang sekitar 5 tahun dari awal saya menontonnya dari layar kaca. Saya jatuh cinta dan candu dengan atmosfer di dalam stadion, bagaimana supporter saling BERADU NYANYIAN DAN KOREOGRAFI untuk mendukung masing-masing klub kebanggaannya.

Tak jauh dari itu, berlangsunglah moment Piala Dunia 2006 yang merupakan pertama kali saya benar-benar menonton pertandingan sepak bola luar secara utuh. Kebetulan waktu itu ada beberapa pertandingan yang mulai pukul 20.00 WIB sehingga masih bisa saya melihat bersama bapak tanpa harus begadang. Di akhir turnamen secara mengejutkan Italia berhasil menjadi juara dunia mengalahkan Prancis. Kemenangan itu sedikit kontroversial karena terdapat moment Zidane dikartu merah langsung setelah MENANDUK DADA MATERAZZI karena terprovokasi oleh perkataannya. Saya cukup menyesalkan kejadian itu karena nama Zidane yang merupakan pesepakbola muslim yang memang berbakat luar biasa jadi tercoreng karena ulah kejadian itu. Namun saya tak bisa sepenuhnya menyalahkan Materazzi karena provokasi (selama tidak ketahuan wasit) itu tidaklah melanggar rule of the game, hanya memang menodai fair play saja dan saya juga sering memprovokasi lawan –tapi tidak dengan perkataan seperti yang dilakukan materazzi, hanya dengan cara menarik baju atau melakukan dorongan kecil hanya untuk membuat emosi lawan (tanpa ada niat menciderai) dan hanya berniat untuk mengacaukan permainannya- ketika bermain futsal haha. Atas dasar itu, meski mendukung AC Milan, saya tak begitu menjadi supporter italia (seperti kebanyakan pecinta liga italia lainnya). Saya hanya mengikuti beberapa pertandingan timnas italia karena sekedar ingin melihat pemain AC Milan yang bermain di timnas Italia.

Percaya atau tidak, awal mula saya jatuh cinta pada AC Milan adalah karena fenomena jatuh cinta pada pandangan pertama. Sesimple itu memang, tak ada alasan apapun. Hanya karena 2 kali saya terbangun di dini hari, menonton televisi dan melihat seragam kebanggaan merah hitam itu. Jujur saja waktu itu saya kebingungan, bagaimana bisa ada pemain timnas italia dan brasil bermain dalam 1 klub. Secupu itu memang waktu itu, namun dimomen ke 3 kalinya saya kembali tak sengaja terbangun di dini hari dan kembali menonton AC Milan ketika melawan BAYERN MUNCHEN, saat itulah saya memutuskan untuk menjadi Milanisti.

Ke 4 moment itulah yang membuat saya menyukai menonton, bermain sepak bola, PSIS Semarang dan AC Milan. Anehnya kesemua moment yang mengubah alur hidup saya itu terjadi di tahun 2006. Kenapa bisa suka dan bahkan bisa bertahan sampai sekarang? Simple, karena semua hal itu bisa membuat darah saya mendidih dan merasakan adrenalin yang membuat saya bersemangat melakukan hal apapun.

Saya tak pernah sedikitpun menyesal dengan masa muda saya. Sebelum menyukai sepak bola saya sudah kenyang dengan berbagai permainan tradisional yang bahkan adik kandung saya tak bisa merasakan karena cepatnya perubahan kultur sosial budaya. Meskipun tinggal di perumahan namun masa kecil saya sempat merasakan bermain lompat tali, petak umpet, kelereng, gobak sodor, layangan, engklek dan masih banyak lainnya. Setelah masa itu terlewat, saya beruntung menemukan Sepak Bola yang membuat saya ‘diakui’ bahwa saya bukan lagi bocah cupu tapi saya punya sesuatu yang bisa diandalkan.

Kemampuan sepak bola saya diasah dari lapangan plester yang sering membuat kaki kapalan atau kuku terkelupas. Sebelum kelas 6 SD, di kampung saya bermain sepak bola dengan teman-teman yang kesemua usianya diatas saya yang tentu membuat saya sulit berkembang. Namun masuk masa SMP adalah masa transisi menjadi saya yang bermain dengan teman yang usianya dibawah saya. Dari sinilah kemampuan sepak bola saya berkembang pesat. Saya jadi bisa mempraktekkan drible bola ala Ricardo Kaka’ dan Tendangan melengkung ala Andrea Pirlo, walau kini diantara teman-teman futsal saya lebih dikenal mempunyai cara bermain dan mencetak gol mirip Pippo Inzaghi. 

Juara 2 Porsaklas Futsal Teknik Elektro 2014

Sabtu, 02 Mei 2020

3 Mei

BDAY


Seseorang pernah bilang kepadaku, Ulang tahun hanyalah soal angka, tak ada yang spesial dan tak ada bedanya dengan hari-hari lainnya. Sepertinya saya bisa mengamini hal tersebut.

Jika orang lain ingin menghabiskan waktu dengan orang paling dicintainya dihari ulang tahunnya, saya tidak. Saya ingin selalu menghabiskan waktu dengan orang yang saya cintai, setiap harinya--tidak hanya pada hari ulang tahun saja.

Jika ulang tahun diibaratkan dengan hari bahagia, sepertinya saya kurang sependapat. Hari bahagia harus datang setiap hari, dengan cara yang sesederhana mungkin.

Saya ingat betul pertama kali mendapat kue ulang tahun justru dari kawan-kawan UKMP. Walau saya tak berharap, tapi saya hampir mewek dibuatnya, untung masih bisa menahan diri.

Ada lagi teman kampus yang rela memberikan jersey AC Milan di hari ulang tahunku. Terasa sangat spesial namun ada sedikit penyesalan karena belum mampu melakukan hal serupa untuknya dikarenakan segala keterbatasan yang saya punya.

Mungkin lebih karena tak ingin kecewa dan tak ingin berharap apa-apa, makanya saya tak ingin menspesialkan hari ulang tahun. Jadi jika tak ada apa-apa pun saya tak akan kecewa, namun jika ada yang menspesialkan hari ulang tahun saya, bahagia bisa tetap saya rasakan karenanya--dari kedua opsi tersebut tak ada opsi kecewa karena ekspektasi yang tinggi.

Maka dari itu, meski saya tak menspesialkan hari ulang tahun, tapi karena kebanyakan orang lain tidak. Maka dari itu, dari sekian sedikit teman dekat yang saya punya, saya ingin berterima kasih dengan memberikan sesuatu yang istimewa di hari bahagianya-tak hanya. ulang tahun, tapi hari bahagia lainnya juga.

Ada banyak list teman yang harus saya balas budinya yang semoga saya sempat membalas setiap kebaikan mereka. Pun begitu saya masih ingin membahagiakan orang terdekatku saat ini, semoga masih diberi kesempatan.

Jumat, 01 Mei 2020

Terdampak Covid-19

Kalau ini bukan akhir dunia, fenomena Corona (Covid-19) sepertinya akan menjadi catatan sejarah tersendiri bagi dunia secara umum dan bagi Indonesia secara khusus. Di Indonesia sendiri, terakhir kali Negara ini mengalami krisis ekonomi yang hampir menghentikan semua aktifitas masyarakat adalah Krisis tahun 98 (lihat dampak krisis 98 disini). Mungkin ini menjadi ke 2 kalinya setelah krisis 98 setidaknya dalam seperempat abad terakhir ini.  

Beberapa dampak paling kentara bagi masyarakat Indonesia adalah per 24 April 2020 hingga batas waktu yang belum ditentukan sudah tidak ada lagi moda transportasi umum yang beroperasi, baik itu pesawat, kereta, bus semuanya sudah tidak beroperasi. Padahal ini sudah masuk bulan puasa dan pemerintah sudah mewanti-wanti agar masyarakat yang berada di jabodetabek untuk tidak mudik.

Meski saya merantau di jatim, sepertinya juga terancam tidak bisa mudik karena dikhawatirkan menularkan keluarga yang ada di rumah dan dibeberapa kota sudah ada polisi yang berjaga untuk mengembalikan warga yang berniat mudik. Pun kalau sudah bisa kembali kesini harus dikarantina 14 hari dahulu sesuai protokol penganganan corona yang gejalanya akan muncul dalam rentang waktu 14 hari. Secara tidak langsung, pihak kantor juga sudah melarang agar karyawannya tidak keluar kota dulu, bahkan Sidoarjo-Malang pun tak diijinkan.

Selain itu, di Surabaya-Sidoarjo-Gresik sendiri sudah mulai muncul SK Gubernur tentang pelarangan adanya kerumunan warga (berjualanb, beribadah dll) dan diterapkannya jam malam antara jam 21.00-04.00 WIB dilarang keluar rumah yang semakin membatasi gerak warga dan terutama berdampak besar pada masyarakat kecil yang mencari makan dari hari ke hari karena sudah tak bisa berjualan lagi.

Sebuah pilihan sulit karena kalau keluar rumah akan terancam terpapar corona hingga membahayakan nyawa mereka sendiri. Pun kalau tidak keluar juga bisa kelaparan karena tak mendapat uang yang biasanya hanya bisa didapatkan dari hari ke hari. Tapi memang kondisinya seperti ini, semuanya sudah saling curiga, mau memaksakan berjualan pun warga sudah ragu adanya paparan corona dan lebih banyak memilih memasak sendiri. Situasi seperti ini membuat perekomomian masyarakat mengengah kebawah hancur sehancur-hancurnya.

Kantor Tutup Karena Covid-19
Secara pribadi saya tak begitu terdampak karena kantor saya saat ini yang bahkan sudah menerapkan semi WFH (Work From Home) masih bisa survive walau banyak orderan yang tertunda namun belum ada karyawan yang ter-PHK seperti pabrik-pabrik di sebelah yang memang tak bisa dipungkiri dalam masa seperti ini daya beli masyarakat menjadi menurun drastis.

Selasa, 11 Februari 2020

Terima Kasih Gresik


Gresik dikenal sebagai kota santri yang mana disini terdapat 2 makam walisongo yaitu Sunan Giri dan Sunan Maulana Malik Ibrahim. Selain itu, Gresik juga dikenal sebagai kota industri karena terdapat banyak pabrik beroperasi dan mengembangkan bisnisnya disini.

Sabtu, 02 Desember 2017



Sebuah pertanyaan tak terduga muncul dari seorang rekan kerja:

- Selama kerja disini dapat (ilmu) apa aja?

Disini maksudnya di Faculty Secretary Fisipol UGM

Sebuah pertanyaan yang membuatku agak tersentak bagai tersambar petir di siang bolong. Ditengah kesuntukanku mengerjakan tugas kantor, Aku pun butuh beberapa waktu untuk mencerna dan menjawab pertanyaan tersebut:

Senin, 24 Juli 2017

SYNDROM PRA-SIDANG SKRIPSI




Sidang Skripsi merupakan salah satu momen paling mendebarkan bagi seluruh mahasiswa S1. Untuk menemui ini bisa dibilang aku sudah terlambat 1 tahun. Tak usah diuraikan mengapa, dibalik itu semua aku percaya setiap orang punya masa dan rejekinya masing-masing.

Banyak dari mahasiswa teknik yang mundur begitu banyak ketika mengerjakan skripsi, salah satu penyebabnya adalah tidak ada perencanaan jauh-jauh hari mengenai skripsi yang akan dikerjakan, ini merupakan kesalahan terbesar yang paling umum dilakukan oleh mahasiswa teknik yang skripsinya mundur begitu lama disamping banyak faktor-faktor lain tentunya.

Senin, 15 Agustus 2016


Semarang, 9 Agustus 2016

Hari ini, melalui kegagalan ini, aku kembali disadarkan. Bahwa usaha  sekeras apapun jika takdir berkata tidak, maka tidak ada yang bisa menghalangi kuasaNya.

Aku sadar, diri ini banyak melakukan dosa, tak tau diri, seenaknya sendiri, seolah merasa akan hidup hingga ratusan tahun lagi. Hingga kali ini doa dan usaha kerasku tak terkabulkan kembali.

Atau mungkin aku ini yang kurang bersyukur, karena berada di level ini juga sudah merupakan satu kebanggaan tersendiri.

Namun untuk kedua kalinya setelah kejadian di Banten beberapa bulan lalu. . .,

Tak begitu masalah jika hanya diri ini yang kecewa. Namun kali ini kembali orang lain disekitarku juga ikut kecewa. Hal ini terasa lebih menyiksaku.

Semoga senyum dan keceriaan selalu tampak di wajah kita semua, senantiasa diberi kekuatan dan ketabahan bagi kita semua untuk kita semua untuk senantiasa bersyukur kepadaNya.

Untuk kesekalian kalinya, hamba ingin kembali mencoba untuk lebih meng-hamba, ijinkan hamba untuk kembali mencoba menjadi pribadi yang lebih baik lagi.


Jika memang kegagalan ini merupakan caraNya untuk membuatku semakin mendekat kepadaNya. Ijinkan hambamu ini menerima lebih banyak kegagalan lagi sampai Engkau yakin hambamu ini benar-benar siap untuk menerima keberhasilan.

Minggu, 26 Juni 2016

Ramadhan ini Berbeda, Aku Bahagia.

Mengawali 2016 dengan amanah baru yaitu menjadi Ketua UKM Penelitian Unnes adalah suatu kebanggaan dan pencapaian luar biasa bagiku, mengingat dunia keilmiahan merupakan satu hal baru dan sangat wah dimataku.


Minggu, 22 November 2015

PPL SMK Islam Al-Hikmah Mayong Jepara

Alhamdulillah suatu pengalaman berharga ketika saya bersama Budi, Hadi Alhamdulillah suatu pengalaman berharga ketika saya bersama Budi, Hadiid, Karidhoi, Lingga, Reza, Irfan, Agus, Nida, Nala, Agung, In’am, Arisa, Novita, Eko, Dian, Yayah, Risa, Nidia, …, dipertemukan dalam salah satu kegiatan akademik dari Universitas Negeri Semarang yang bertujuan untuk melatih calon sarjana pendidikan mengenal seluruh kegiatan di sekolah secara real yang disebut dengan kegiatan PPL (Praktik Pengalaman Lapangan).

SMK Islam Al Hikmah Mayong, merupakan suatu kebanggaan dan apresiasi yang sebesar besarnya saya persembahkan kepada sekolah ini terutama kepada ibu Elly selaku kepala sekolah yang telah memberikan kesempatan dan menyambut dengan baik kepada kami 22 mahasiswa PPL Unnes.

Sebuah pengalaman yang berharga selama periode Agustus sampai Oktober 2015 melewati waktuku bersama kawan-kawan seperjuangan, guru, toolman, staff serta murid-murid SMK Islam Al-Hikmah Mayong Jepara. Beberapa kenangan dan pelajaran telah berhasil mengakar dengan sangat indah dari lubuk hati yang terdalam.

Beberapa pengalaman yang ingin saya bagikan yaitu salah satunya ketika saya, budi dan nida diamanahi untuk mengisi materi motivasi dalam salah satu sesi acara Persami. Persiapan yang kami lakukan hanya sehari, merampungkan ppt dan persiapan unjuk gigi pada malamnya dan langsung tampil pada pagi harinya.  Namun, respon dari beberapa audience sungguh luar biasa. Beberapa murid sampai meneteskan air mata karena apa yang kami sampaikan. Bahkan setelah acara beberapa murid ada yang mendekatiku untuk sharing-sharing mengenai pengalaman dan meminta saran bagaimana menyikapi segala suatu hal.

Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada Bapak Agus Wijayadi S.T., selaku guru pamong yang telah membimbing, mendidik dan memberi kesempatan dengan baik sehingga saya bisa merasakan bagaimana sensasi menjadi guru.

Untuk temen-temen PPL, terus jaga kekompakan, jangan mudah terkoyak atas hal-hal kecil. Keadilan itu bukan berarti menyama ratakan semuanya, namun keadilan adalah memberikan porsi sesuai kebutuhan agar mencapai hasil yang sama. Terima kasih telah banyak membantu mensukseskan berbagai rangkaian kegiatan PPL 2015 ini.

Untuk anak-anakku khususnya kelas XAV1 dan XAV2, terus belajar dengan sungguh-sungguh dan semangat bersekolah karena hakikat bersekolah bukan hanya untuk mencari ijazah semata. Namun hakikat sekolah itu untuk mencari ilmu dan pengalaman yang berharga sebanyak-banyaknya yang tak bisa didapatkan diluar sana.

Bu Elly pernah berkata ketika input bagus kemudian outputnya bagus itu sudah biasa, yang luar biasa adalah ketika output kurang bagus namun menghasilkan output yang bagus. Maka dari itu, ketika berada di mengajar dalam kelas terkadang saya memposisikan diri sebagai murid terbodoh dalam kelas supaya saya bisa mengetahui metode paling tepat untuk menyampaikan suatu materi ke diriku sendiri.

Tak banyak orang yang bisa menghargai setiap momen kebersamaan. Padahal, ketika bersama kalian adalah hal terindah yang pernah saya lewati.

See you on tup guys. id, Karidhoi, Lingga, Reza, Irfan, Nida, Nala, Agung, In’am, Arisa, Novita, Eko, Dian, Yayah…, dipertemukan dalam salah satu kegiatan akademik dari Universitas Negeri Semarang yang bertujuan untuk melatih calon sarjana pendidikan mengenal seluruh kegiatan di sekolah secara real yang disebut dengan kegiatan PPL (Praktik Pengalaman Lapangan).

Jumat, 20 November 2015

Menjadi pemimpin itu?

Sebuah pengalaman berharga ketika saya, seorang mahasiswa biasa-biasa saja bisa diamanahi untuk memimpin kepanitiaan Narescamp (National Research Camp) UKMP Unnes.

Who am I ?

Sabtu, 25 Juli 2015

From Teh Kocok To Minimo Ice Cream


9 Juli 2014, masih teringat tanggal itu, ketika di bulain ramadhan itu kami 3 mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) –Handi Suryawinata (Pendidikan Teknik Elektro 2012), Senditya Erlangga Joko Saputro (Pendidikan Ekonomi 2012) dan Indra Abintya (Pendidikan Ekonomi 2012) mulai mencoba menaklukkan dunia dari tepi jalan di depan Koperasi Mahasiswa (Kopma) Unnes.

Teh Kocok, begitu kami menamainya. Ide ini datang tentu saja setelah melalui riset dan berbagai analisis cukup melelahkan yang sebelumnya telah kami lakukan sebelumnya. Sebuah langkah awal telah kami lakukan dengan tujuan untuk mampu menjadi salah bagian untuk menjadi solusi bagi permasalah negeri ini.

Dulu, tak banyak mahasiswa yang berani menjadi kami. Berjualan Teh di pinggir jalan untuk sekedar mendapatkan keuntungan yang jumlahnya tak seberapa. Meskipun sedikit canggung, kami pun memulainya. Satu langkah kecil yang kami bertiga percayai akan mampu mengubah hidup kami bertiga nantinya.

Buat yang belum tahu, Teh Kocok ini bukan sekadar minuman teh biasa. Teh Kocok memiliki beberapa varian rasa, beberapa diantara yang masih saya ingat yaitu : Vanilla Tea, Strawberry Tea, Choho Tea, Melon Tea, Oreo Tea, Moca Tea, Coffe Tea dan beberapa lainnya. Terdengar aneh mungkin, ditengah sedang maraknya minuman susu atau kopi yang sedang menjamur di kawasan Unnes. Namun ini lah kami, uniknya kami, kami bangga dengan ini.

Segalanya berubah ketika ada satu kawan kami lagi ~Nio, Akutansi 2012 ingin bergabung dan memberika cukup nafas bagi kami agar bisa lebih melebarkan sayap lagi dalam melakukan usaha di kawasan Unnes ini.

Setelah belajar dari beberapa kawan dan kakak angkatan yang telah mampu lebih dulu bergerak di bidang kuliner ini, kami memberanikan diri untuk mengambil kesempatan emas yang tak mungkin datang dua kali untuk menyewa ruko di kawasan Banaran, Gunungpati, Unnes untuk memulain sesuatu hal baru, sesuatu yang lebih besar dari sebelumnya.

Minimo Ice Cream, begitu kami menamainya. Dengan menu utama Ice Cream sekali lagi kami menjadi pelopor pertama untuk kedai Ice Cream di Unnes ini. Di Minomo Ice Cream ini kami tentu tak meninggalkan sejarah kita, untuk semua pelanggan lama kami yang masih merindukan teh kocok masih bisa didapat di kedai Minimo Ice Cream ini.

Ini adalah mimpi kita, mampu mempunyai usaha sendiri yang hingga saat ini telah mampu memperkerjakan 5 orang pegawai. Suatu pencapaian yang membuat kami bangga karena mampu memberikan sedikit kontribusi nyata bagi bangsa ini.

Perlajanan belum berhenti sampai disini, kami harap apa yang telah kami capai mampu memberikan beberapa manfaat yang lebih besar lagi bagi banyak orang, Minimo mampu melebarkan sayapnya lebih luas lagi sehingga mampu menjadi solusi nyata bagi bangsa ini.

Semua pencapaian ini saya persembahkan untuk semua pihak yang telah membantu kami selama ini, tanpa bantuan kalian semua kami bukan apa-apa. Terimakasih semuanya.

Perkembangan mengenai Minimo Ice Cream dapat di cek di akun instagram kami : @minimoicecream