Skripsi adalah salah satu tujuan akhir mahasiswa yang
kebanyakan darinya ingin diselesaikan secepat mungkin. Namun dalam prosesnya,
pengerjaan skripsi selalu tak semudah yang dibayangkan. Selalu banyak rintangan
yang menghalangi untuk sesegera mungkin menyelesaikan salah satu momok bagi
mahasiswa tingkat akhir. Beberapa rintangan diantaranya ada yang terhalang
karena sudah bekerja terlebih dahulu, ada yang masih berorganisasi, ada yang
sekedar malas mengerjakan, atau bahkan ada yang terhalang dosen pembimbing
dengan segala kesulitannya. Hanya mahasiswa yang lurus dan penuh keberuntungan
dengan tidak mengalami beberapa hal tadi lah yang bisa lulus tepat waktu.
Di kampus kami sendiri, skripsi memiliki bobot sebanyak 6
SKS (Kurang tau untuk SKS di kampus lain). Berikut adalah screenshotnya.
Menurut sepaham saya, sejak dari mahasiswa baru 1 SKS
berarti 1 jam pelajaran perkuliahan.
Sedangkan menurut Wikipedia.org, SKS adalah adalah singkatan dari satuan
kredit semester. Sistem SKS ini digunakan umumnya di perguruan
tinggi. Dengan sistem ini, mahasiswa dimungkinkan
untuk memilih sendiri mata kuliah yang akan ia ambil dalam satu semester. SKS
digunakan sebagai ukuran:
- Besarnya beban studi mahasiswa.
- Besarnya pengakuan atas keberhasilan usaha belajar mahasiswa.
- Besarnya usaha belajar yang diperlukan mahasiswa untuk menyelesaikan suatu program, baik program semesteran maupun program lengkap.
- Besarnya usaha penyelenggaraan pendidikan bagi tenaga pengajar.
Kembali fokus ke topik ‘Kritik Terhadap 6 SKS’, bisa disimpulkan
bahwa jika skripsi mempunyai 6 SKS berarti setidaknya kita mempunyai waktu
setidaknya 6 jam dalam seminggu untuk bimbingan skripsi bukan? Misalkan dalam
seminggu dosen sibuk dan tidak ada waktu untuk menemui mahasiswanya maka harus
diganti di minggu berikutnya kan? Seperti layaknya jam perkuliahan yang
presensinya harus selalu terisi penuh hingga 16 kali pertemuan.
Namun beberapa mahasiswa masih mengeluhkan sulitnya menemui
dosen pembimbing. Ada yang bimbingan 2 minggu sekali, ada yang menunggu dari
pagi hingga siang untuk sekedar bertemu sebentar, dan setelah bertemu masih
disentil oleh dosen pembimbing karena berbagai kesalah pahaman.
Apa mungkin dosen pembimbing memang sibuk-sibuk?
Atau mahasiswa yang kurang beretika ketika meminta
pembimbingan skripsi?
Atau saya pribadi yang salah menafsirkan makna 6 SKS
skripsi? Mohon maaf jika memang seperti itu. Semoga bisa menjadi perbaikan bagi
kita semua kedepannya.



