Seseorang pernah berkata, “Saat mendaki kepribadian seseorang
akan benar-benar terlihat; apakah dia egois atau peduli dengan sesamanya”.
Kata-kata itu yang pertama kali kuingat bahkan saat beberapa
langkah baru mendaki puncak Puthuk Siwur 1429 MDPL dan puncak Gunung Pundak
1585 MDPL. Bahkan lebih kuingat ketimbang slogan paling populer bagi pendaki
yaitu; Jangan ambil apapun selain foto, Jangan tinggalkan apapun selain jejak
dan Jangan membunuh apapun selain waktu.
Bagaimana tidak, sebagian dari kami adalah pendaki amatir,
atau lebih mudah menyebutnya dengan orang-orang yang malas berolahraga. Maka
dihadapkan medan dengan sedikit lebih berat, tubuh langsung kaget dengan
memunculkan beberapa reaksi seperti masuk angin atau sekedal pegal-pegal dan
nafas terengah-engah.
Padahal sebagai teknisi instrument di Wilmar tentu sebagian
dari kita sudah terbiasa berpanas-panasan menghadapi boiler plant, naik turun
tangga atau membongkar pasang instrument yang cukup menguras tenaga. Namun
nampaknya angin malam itu membuat kami harus sedikit berjalan lebih lambat
untuk lebih lama menikmati pemandangan gemerlap kota mojokerto maupun
berbincang dengan sesama pendaki lainnya.
Hal ini lah yang mengingatkan kita bahwa segala sesuatu itu
butuh persiapan, termasuk mendaki gunung. Baik itu persiapan mental, fisik
maupun peralatan penunjang yang sesuai.
Meskipun tak begitu tinggi dan cukup asing namanya bagi saya,
pendakian di Gunung Pundak ini cukup membuat antusias karena Gunung ini adalah
yang pertama saya daki di tanah rantau, di provinsi Jawa Timur ini.
Setelah hampir 2 jam mendaki, sampailah kita di tujuan
pertama yaitu Puncak Puthuk Siwur. Disini kita mendirikan tenda dan kemudian
mulai memasak beberapa bekal yang kita bawa dari bawah. Bukan kita sih, lebih
tepatnya Pak Roud dan Mas Lemri yang memasak karena memang saya tak tau
bagaimana cara menggunakan kompor mini itu hehe
![]() |
| Puncak Puthuk Siwur |



