![]() |
| Menembus Batas |
Dulu pertama kali dikenalkan dengan sistem KKM adalah ketika
pertama kali masuk SMP (Sekolah Menengah Pertama) yaitu kira-kira pertengahan
tahun 2006. Waktu itu, dijelaskan bahwa KKM untuk mata pelajaran TIK yaitu 65
dengan kata lain jika tidak bisa mencapai nilai tersebut maka harus mengulang.
Ada perasaan takut ketika mendengarnya dan menjadi sedikit pemicu untuk tidak
bermain-main dalam kegiatan pembelajaran.
Kriteria ketuntasan minimal (KKM) adalah kriteria ketuntasan belajar (KKB) yang ditentukan oleh satuan pendidikan. KKM pada akhir jenjang satuan pendidikan untuk kelompok mata pelajaran selain ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan nilai batas ambang kompetensi.
(Sumber dan selengkapnya mengenai KKM bisa diunduh DISINI)
Sistem KKM yang dirumuskan pemerintah dengan tujuan
meningkatkan dan menyama ratakan nilai standar seluruh siswa memang sangat
bagus. Namun apakah implementasinya sudah sesuai?
Ironi Sistem KKM
Menurut salah seorang guru, bagi sebagian murid yang belum
bisa mencapai nilai minimum tersebut malah bersifat apatis beranggapan bahwa
meskipun penguasaan terhadap materi kurang, nilainya akan tetap berada dalam
batas KKM.
Guru pun turut mengalami dilema, dari pada terus menjalankan
remidi hingga mencapai nilai KKM. Terkadang cara instan dilakukan dengan langsung
memberikan nilai sesuai KKM. Tidak sungguh-sungguh ketika mengoreksi pekerjaan
siswa dan tidak memberikan pelajaran tambahan bagi siswa yang belum paham.
Rekomendasi
Sebagai guru, kita tidak hanya diberi amanah untuk
menyampaikan materi saja. Namun juga mampu menyampaikan materi yang mampu
diserap oleh siswa, mendidik karakter dan memberi masukan atau motivasi bahwa
pendidikan mampu mengubah masa depan mereka menjadi lebih baik lagi.
Maka dari itu, tugas fungsi pokok tersebut harus senantiasa
dilakukan. Untuk memperbaiki generasi penerus bangsa, dan yang paling penting
untuk menunjukkan bahwa guru adalah pekerjaan yang mulia.
Bagi siswa, belajar tidak melulu mengenai mengejar nilai
tapi juga untuk menambah wawasan dan melatih logika berfikir sebagai bekal
penting menghadapi dunia pekerjaan nantinya. Oleh karena itu, belajarlah dengan
sungguh-sungguh, raihlah kebangganmu dan orangtuamu. Apabila jenuh dengan
pelajaran di sekolah ambillah ekstrakulikuler yang mampu menyegarkan pikiranmu
dan bawalah kesenangan itu ketika kembali ke kelas untuk menerima pembelajaran.
Salam,
Dari saya, calon guru terbaik dimasa depan,




0 komentar:
Posting Komentar