RSS
Facebook
Twitter

Sabtu, 24 Februari 2018

Tak terasa sudah akhir februari, komitmen untuk 1 bulan 1 postingan harus dilanjutkan.

Terhitung semenjak akhir januari ku mulai petualangan baru, kembali menjajah kota orang lain. Sidoarjo, kali ini menjadi kesempatan kedua untuk mengadu nasib semenjak dikukuhkan namaku berakhiran S.Pd.

Pekerjaan kedua ku ini kembali bukanlah menjadi seorang pendidik. Namun seorang Teknisi Kalibrasi yang bahkan aku baru banar-benar tau apa itu kalibrasi ketika menjadi salah satu metodeku dalam mengerjakan skripsi.

Walau tak semua alat kalibrasi ku tau sehingga disinipun ku masih berjuang belajar hal-hal baru lagi.

Dulu ibuku lah menjadi alasan utama kenapa ku ambil jurusan keguruan. Beliau berkata guru itu pekerjaan yang berladang pahala. Rezekimu akan berkah dunia dan akhirat karena menurut salah satu hadis ilmu yang bermanfaat akan mengalir terus pahalanya meskipun si pemberi ilmu sudah meninggal. Hebat bukan?

Namun, kini maafkan anak nakalmu ini ibu yang belum mau menjadi seperti yang kau inginkan.

Sejujurnya, ekonomi memang menjadi alasan utama kenapa aku tidak memilih profesi itu. Kita tau, bahwa tak banyak sekolah yang mau menghargai guru dengan sewajarnya. Alhasil, tak banyak kawan-kawan ku yang ku rasa ber IQ tinggi dimasa SMA memiliki asa untuk berkuliah di jurusan kependidikan.

Berbicara soal angka memang sesuatu yang sulit, butuh riset yang terstruktur untuk membuktikannya. Maka dari itu mari berbicara soal rasa saja.

Bagiku mendidik itu sederhana, membuat apa yang kita sampaikan bisa dipahami oleh anak didik kita. Walaupun dalam praktek di kelas kita menghadari berbagai macam karakter, berbagai macam tingkat dan cara siswa memahami pembelajaran, harus mampu memberikan metode yang mudah dipahami serta mampu memotivasi siswa untuk mau mengeksplore kemampuan mereka sendiri karena terbatasnya waktu atau kemampuan guru untuk memahami semua itu.

Sederhana bukan? Apalagi kalau kita bisa menikmati apa yang kita bagikan kepada siswa kita.

Satu hal yang masih menjadi pertanyaan, apakah guruku dulu yang sering marah di kelas menikmati pekerjaan mereka? Kenapa mau menjadi guru kalau ujung-ujungnya tak bahagia? Aku sendiri tak akan mendengarkan orang yang memarahiku, maka dari itu sebisa mungkin ku takkan marah ketika menjadi pendidik.

Secara resmi mendidik pernah kulakukan selama masa kuliah yaitu 3 bulan menjadi guru KIR di SMP Nasima Semarang, 3 bulan praktek mengajar PPL di SMK Islam Al-Hikmah Mayong Jepara dan 1 tahun menjadi guru KIR di SMP N 2 Semarang.

Menikmati memang, namun prosesnya perlu strategi pembelajaran dan cara penyampaian yang pas. Persiapannya tak semudah membalikkan telapak tangan. Jadi, mendidik itu memang perlu persiapan, menyampaikan dengan cara yang bisa diterima siswa dan harus punya indikator keberhasilan yang pas bagi siswanya.

Untuk guru honorer rasanya tak pas jika harus dipaksakan menguasai softskill istimewa tersebut. Tingkatkan dulu kesejahteraannya, baru berharap guru mau meningkatkan softskill mendidiknya. Walau tak dipungkiri memang sudah banyak juga guru dengan cara mengajar yang mampu membuat nyaman dan bisa dipahami siswanya.

Namun, untuk seorang pembentuk karakter kok rasanya kurang dihargai di negeri sendiri ya. Padahal pada guru lah kita bisa menanamkan nilai revolusi mental. Tentunya juga dari peran orang tua dirumah, itupun kalau para orang tua tak sibuk bekerja hehehe

Meskipun bukan berprofesi sebagai pendidik, sekecil apapun ilmu yang ku punya, takkan sungkan-sungkan untuk ku bagikan kok. Karena hanya inilah yang bisa ku lakukan sekarang, kalau bukan berkah lau mau mengharap apa lagi?

0 komentar:

Posting Komentar