Tak terasa sudah akhir februari,
komitmen untuk 1 bulan 1 postingan harus dilanjutkan.
Terhitung semenjak akhir januari
ku mulai petualangan baru, kembali menjajah kota orang lain. Sidoarjo, kali ini
menjadi kesempatan kedua untuk mengadu nasib semenjak dikukuhkan namaku berakhiran
S.Pd.
Pekerjaan kedua ku ini kembali
bukanlah menjadi seorang pendidik. Namun seorang Teknisi Kalibrasi yang bahkan
aku baru banar-benar tau apa itu kalibrasi ketika menjadi salah satu metodeku
dalam mengerjakan skripsi.
Walau tak semua alat kalibrasi ku
tau sehingga disinipun ku masih berjuang belajar hal-hal baru lagi.
Dulu ibuku lah menjadi alasan
utama kenapa ku ambil jurusan keguruan. Beliau berkata guru itu pekerjaan yang berladang
pahala. Rezekimu akan berkah dunia dan akhirat karena menurut salah satu hadis ilmu
yang bermanfaat akan mengalir terus pahalanya meskipun si pemberi ilmu sudah
meninggal. Hebat bukan?
Namun, kini maafkan anak nakalmu
ini ibu yang belum mau menjadi seperti yang kau inginkan.
Sejujurnya, ekonomi memang
menjadi alasan utama kenapa aku tidak memilih profesi itu. Kita tau, bahwa tak
banyak sekolah yang mau menghargai guru dengan sewajarnya. Alhasil, tak banyak
kawan-kawan ku yang ku rasa ber IQ tinggi dimasa SMA memiliki asa untuk
berkuliah di jurusan kependidikan.
Berbicara soal angka memang
sesuatu yang sulit, butuh riset yang terstruktur untuk membuktikannya. Maka
dari itu mari berbicara soal rasa saja.
Bagiku mendidik itu sederhana,
membuat apa yang kita sampaikan bisa dipahami oleh anak didik kita. Walaupun
dalam praktek di kelas kita menghadari berbagai macam karakter, berbagai macam
tingkat dan cara siswa memahami pembelajaran, harus mampu memberikan metode
yang mudah dipahami serta mampu memotivasi siswa untuk mau mengeksplore
kemampuan mereka sendiri karena terbatasnya waktu atau kemampuan guru untuk
memahami semua itu.
Sederhana bukan? Apalagi kalau
kita bisa menikmati apa yang kita bagikan kepada siswa kita.
Satu hal yang masih menjadi
pertanyaan, apakah guruku dulu yang sering marah di kelas menikmati pekerjaan
mereka? Kenapa mau menjadi guru kalau ujung-ujungnya tak bahagia? Aku sendiri
tak akan mendengarkan orang yang memarahiku, maka dari itu sebisa mungkin ku
takkan marah ketika menjadi pendidik.
Secara resmi mendidik pernah
kulakukan selama masa kuliah yaitu 3 bulan menjadi guru KIR di SMP Nasima
Semarang, 3 bulan praktek mengajar PPL di SMK Islam Al-Hikmah Mayong Jepara dan
1 tahun menjadi guru KIR di SMP N 2 Semarang.
Menikmati memang, namun prosesnya
perlu strategi pembelajaran dan cara penyampaian yang pas. Persiapannya tak
semudah membalikkan telapak tangan. Jadi, mendidik itu memang perlu persiapan,
menyampaikan dengan cara yang bisa diterima siswa dan harus punya indikator
keberhasilan yang pas bagi siswanya.
Untuk guru honorer rasanya tak
pas jika harus dipaksakan menguasai softskill istimewa tersebut. Tingkatkan
dulu kesejahteraannya, baru berharap guru mau meningkatkan softskill
mendidiknya. Walau tak dipungkiri memang sudah banyak juga guru dengan cara
mengajar yang mampu membuat nyaman dan bisa dipahami siswanya.
Namun, untuk seorang pembentuk
karakter kok rasanya kurang dihargai di negeri sendiri ya. Padahal pada guru
lah kita bisa menanamkan nilai revolusi mental. Tentunya juga dari peran orang
tua dirumah, itupun kalau para orang tua tak sibuk bekerja hehehe
Meskipun bukan berprofesi sebagai
pendidik, sekecil apapun ilmu yang ku punya, takkan sungkan-sungkan untuk ku
bagikan kok. Karena hanya inilah yang bisa ku lakukan sekarang, kalau bukan
berkah lau mau mengharap apa lagi?



0 komentar:
Posting Komentar