RSS
Facebook
Twitter

Senin, 09 Desember 2019

Bus Malam


Buat saya pribadi, transportasi umum paling idaman untuk seorang yang sering sekali ketinggalan kereta perantau ulung seperti saya adalah bus umum AKAP (Antar Kota Antar Provinsi) jurusan Surabaya - Semarang.

Kelebihannya tentu karena tingkat fleksibelitasnya yang tinggi, sehingga kita bisa naik dan turun di mana saja. Sangat cocok untuk saya yang berasal dari Kabupaten Demak. Sebuah kota yang lokasinya cukup jauh dari stasiun apalagi bandara.

Alasan lainnya, juga karena jam operasionalnya yang fleksibel. Konon tiap 1 jam sekali selama 24 jam penuh selalu ada bus yang melintas. Bahkan bisa dipastikan tiap akhir pekan Bus selalu penuh sesak penuh pekerja PJKA (Pulang Jum’at Kembali Ahad) yang mengejar UMK tinggi di Surabaya dan sekitarnya.

Untuk rute tersebut, saya merupakan salah satu pelanggan setianya. Meskipun harus lintas provinsi dari Jateng ke Jatim bukan menjadi penghalang untuk kembali pulang setidaknya tiap sebulan sekali.

Harga tiketnya pun cukup beragam. Bagi yang mencari kenyamanan, bisa memilih Bus Patas (Cepat Terbatas) yang hanya mengambil penumpang sesuai jumlah tempat duduk yang tersedia. Sedangkan bagi yang ingin agak berhemat bisa memilih bus kelas ekonomi. Namun, tentunya harus siap berdesak-desakan karena selama ada ruang senggang selama itu pula kondektur akan terus menaikkan penumpang.

Buat yang belum tau, ada satu celah lagi yang sudah berhasil dipraktikkan oleh teman seperantauan saya bisa dimanfaatkan oleh penumpang yang ingin lebih berhemat lagi. Namun, kemungkinan hanya bisa diterapkan di Bus ekonomi yang berisi banyak penumpang.

Sudah bisa menebak? Keadaan penumpang yang penuh sesak bisa dimanfaatkan oleh beberapa oknum yang berpengalaman dan beruntung tidak diminta membayar karcis. Caranya yaitu dengan sengaja diam dan memasang wajah seolah-olah sudah membayar ketika kondektur sedang lewat. Bila wajah kita meyakinkan niscaya kondektur tidak akan menagih uang karcis.

Saya pun pernah mencoba mempraktekkan, hanya ingin membuktikan teori ini benar atau tidak. Setelah dicoba, sepertinya akan berhasil, namun hanya bertahan beberapa menit. Karena kebaikan dan ketulusan hati saya Akhirnya saya angkat tangan dan memberi kode kalau saya belum bayar.
Untuk yang satu ini, jangan ditiru ya~
Mengantisipasi kondisi seperti ini, mau tidak mau kondektur harus punya daya ingat dan intuisi yang tinggi. Harus selalu siap mengingat dan mampu membedakan mana saja penumpang yang sudah atau yang belum bayar. Sebuah tantangan di era industri 4.0 bagi para kondektur agar tidak tergantikan oleh teknologi tiketing online.

Sedikit saran buat pak kondektur, tidak apa-apa kok menanyakan dan mengecek ulang karcis penumpang untuk sekedar memastikan sudah bayar atau belum. Sama seperti konsep pengecekan tiket di kereta api atau kapal laut. Kan memang itu sudah jadi kewajiban penumpang untuk membayar.

Menjadi kondektur profesional memang bisa dibilang susah-susah gampang. Salah satu tantangannya yaitu saat kondisi bus yang penuh sesak dengan penumpang yang berdiri. Tentu dibutuhkan tubuh yang gesit dalam menyelinap diantara kerumunan penumpang untuk menagih karcis bus. Belum lagi kalau si kondektur berbadan gemuk. Wah, harus pintar-pintar mencari celah diantara para penumpang yang sudah terkepung penumpang lainnya.

Selain itu juga dibutuhkan skill leadership yang baik untuk bisa memandu para penumpang yang punya ego tinggi karena merasa sudah membayar. Kondektur harus mampu memberikan instruksi supaya penumpang mau bergeser ke sisi yang lebih lenggang untuk memberi jalan menuju penumpang yang belum membayar.

Meski begitu, jutaan orang tidak menyadari kalau kondektur merupakan salah satu profesi favorit, setidaknya untuk anak-anak usia sekolahan. Iya, setiap kita adalah kondektur. Nggak percaya?

Kita telisik saja, disetiap bus kota atau angkot yang mengantar anak sekolah untuk kembali pulang, pasti kebanyakan anak dengan riang bergelantungan layaknya seorang kondektur. Bahkan mereka dengan suka cita sambil berteriak layaknya seorang kondektur, "Terminal, terminal, ayo satu lagi berangkaatt~".

Nah gimana, apa kalian termasuk salah satunya? Pada masa-masa seperti itu, sepertinya merupakan pemandangan yang lumrah, jika menemukan anak kecil saling berebut untuk mendapat posisi bergelantungan di pintu masuk bus kota atau angkot. Iya kan, sekali lagi saya yakinkan kalau kondektur adalah kita.

Jadi, inilah sedikit tips bagi kalian yang ingin mewujudkan mimpi semasa kecil sebagai kondektur, langsung saja kita cekidot yuk gas~

Syarat paling pertama dan utama untuk menjadi kondektur profesional adalah syahadat pastikan berbadan langsing. Tentunya untuk memberi ruang lebih banyak di dalam bus mengingat bus selalu mengangkut semua penumpang meski sudah penuh sesak hehe hehe.

Selanjutnya sebagai kondektur profesional cukup penting juga untuk mandi setidaknya sehari sekali. Bila kondektur tidak punya bau badan mau berdesak-desakan seperti apapun juga penumpang jadi tidak perlu pusing karena mencium bau keringat menyengat tetap nyaman.

Kemampuan berteriak dengan lantang tentu juga penting untuk dipunyai. Tenang, tidak perlu bingung apa yang harus diteriakkan. Sedangkal yang saya tau, teriaknya para kondektur itu sepertinya sudah ada SOP (Standar Operasional Prosedur) nya kok, seperti ini kurang lebihnya, "Ayo Surabaya, ini bus terakhir pakk buukkk".

Haa? Terakhir? Beneran kah? Anda pasti heran, bukannya bus di rute tersebut selalu ada 24 jam. Tapi ya mau gimana lagi, kan memang sudah seperti itu SOP nya. Mau tidak mau ya harus diikuti saja.

Beberapa calon penumpang yang mengalami dilema bila harus menunggu bus selanjutnya tentu akan goyah. Memilih untuk ikut masuk bus yang sudah penuh sepertinya opsi yang lebih masuk akal. Dari pada harus menunggu bus selanjutnya yang belum tentu kapan datangnya ataupun kalau ada apakah agak lenggang atau sama saja penuh sesak penumpang. Alhasil, semakin sesak bus, semakin banyak setoran terkumpul.

Dalam situasi seperti ini, mungkin ada beberapa penumpang yang berpikiran untuk turun di tengah jalan dan meminta uang karcisnya dikembalikan sesuai lokasi sekarang. Nah untuk mengantisipasi hal tersebut, ada satu hal yang biasa dilakukan kondektur. Caranya, ketika diawal dia akan membayar tadi, jangan berikan dulu uang kembaliannya. Bilang saja belum ada uang kecil hehe.

Hal ini cukup lumrah kok. Jangankan mau turun ditengah tujuan lalu minta uang dikembalikan setengahnya. Uang yang dibayarkan di awal tadi saja belum diberi kembaliannya! Uang kembalian bisa diberikan kalau penumpang sudah dekat lokasi yang dituju saja. Syukur-syukur uang kembalian tidak diminta. Wah, lumayan bisa masuk kantong nih ye.

Nah sekarang sudah adil kan? Karena saya juga berbagi ilmu baru bagi calon kondektur baru yang ingin mendapat uang lebih. Tapi, Lagi-lagi untuk tips yang kurang baik ini jangan ditiru ya. Ini hanya untuk keperluan konten semata, Hehe.
Oiya, untuk beberapa bus Patas memang menyediakan fasilitas free makanan di rumah makan di Kota Tuban. Nah, dalam kondisi seperti ini saya pernah mengalami pengalaman kurang mengenakkan ketika meninggalkan barang berharga di bus untuk ditinggal makan sebentar. Untuk mengatasi ini, alangkah baiknya bagi pak supir atau kondektur bisa bergantian menjaga barang bawaan penumpang ketika istirahat makan. Jika tidak memungkinkan, setidaknya kondektur memberikan pengumuman untuk jangan meninggalkan barang berharga di bus. Meskipun cuma ditinggal sebentar, namun harus tetap waspadalah waspadalah seperti kata bang napi.

Selanjutnya, terkadang sebal juga jika bus menurunkan penumpang bukan pada tempatnya, seperti di perempatan dekat lampu merah. Hal ini terkadang membahayakan penumpang atau pengemudi motor yang sering menyalip dari celah-celah bus. Selain itu, pernah juga saya diturunkan di pinggir jalan tol. Waktu itu bus melewati jalur alternatif yang membuatnya melewatkan salah satu titik tujuan saya. Untuk hal ini, tentu melanggar peraturan karena jelas ada larangan menaik turunkan penumpang di jalan tol.

Akhirnya, saya tutup tulisan ini dengan satu hal keunikan yang sering kali saya temukan dari seorang kondektur. Saya seringkali terheran-heran kenapa kebanyakan kondektur masih menggunakan HP Nokia jadul (jaman dulu). Apa lagi-lagi karena SOP? HP jadul tersebut biasanya digunakan oleh kondektur untuk menelpon rekan se profesinya untuk mengetahui kondisi jalan di kota selanjutnya yang akan dilalui, apakah macet atau lancar. Bagi saya, hal itu menawarkan pemandangan yang berhasil membawa saya kembali ke beberapa tahun belakangan. Pemandangan tersebut berhasil membawa kembali memori ini ke jaman dimana HP Nokia Express Music adalah tipe HP paling keren di jamannya. Sekaligus membuka memori masa putih Abu-Abu lainnya.

Bagaimanapun itu, semoga kita bisa sama-sama berbenah. Buat kalian yang tergugah oleh menjadi kondektur setelah membaca tulisan ini, semoga bisa terwujud. Buat yang sudah menjadi kondektur semoga bisa menjadi lebih profesional seperti yang saya tulis. Buat penumpang semoga bisa menjadi lebih tertib dan bisa diatur. Semoga transportasi ini bisa menjadi lebih ramah lingkungan dan ramah bagi masyarakat.

0 komentar:

Posting Komentar