![]() |
| Bus Malam |
Buat saya pribadi, transportasi umum paling
idaman untuk seorang yang sering sekali ketinggalan kereta perantau
ulung seperti saya adalah bus umum AKAP (Antar Kota Antar Provinsi) jurusan
Surabaya - Semarang.
Kelebihannya tentu karena tingkat
fleksibelitasnya yang tinggi, sehingga kita bisa naik dan turun di mana saja.
Sangat cocok untuk saya yang berasal dari Kabupaten Demak. Sebuah kota yang
lokasinya cukup jauh dari stasiun apalagi bandara.
Alasan lainnya, juga karena jam operasionalnya
yang fleksibel. Konon tiap 1 jam sekali selama 24 jam penuh selalu ada bus yang
melintas. Bahkan bisa dipastikan tiap akhir pekan Bus selalu penuh sesak penuh
pekerja PJKA (Pulang Jum’at Kembali Ahad) yang mengejar UMK tinggi di Surabaya
dan sekitarnya.
Untuk rute tersebut, saya merupakan salah satu
pelanggan setianya. Meskipun harus lintas provinsi dari Jateng ke Jatim bukan
menjadi penghalang untuk kembali pulang setidaknya tiap sebulan sekali.
Harga tiketnya pun cukup beragam. Bagi yang
mencari kenyamanan, bisa memilih Bus Patas (Cepat Terbatas) yang hanya
mengambil penumpang sesuai jumlah tempat duduk yang tersedia. Sedangkan bagi
yang ingin agak berhemat bisa memilih bus kelas ekonomi. Namun, tentunya harus
siap berdesak-desakan karena selama ada ruang senggang selama itu pula
kondektur akan terus menaikkan penumpang.
Buat yang belum tau, ada satu celah lagi yang sudah
berhasil dipraktikkan oleh teman seperantauan saya bisa dimanfaatkan oleh
penumpang yang ingin lebih berhemat lagi. Namun, kemungkinan hanya bisa
diterapkan di Bus ekonomi yang berisi banyak penumpang.
Sudah bisa menebak? Keadaan penumpang yang
penuh sesak bisa dimanfaatkan oleh beberapa oknum yang berpengalaman dan
beruntung tidak diminta membayar karcis. Caranya yaitu dengan sengaja diam dan
memasang wajah seolah-olah sudah membayar ketika kondektur sedang lewat. Bila
wajah kita meyakinkan niscaya kondektur tidak akan menagih uang karcis.
Saya pun pernah mencoba mempraktekkan, hanya
ingin membuktikan teori ini benar atau tidak. Setelah dicoba, sepertinya akan
berhasil, namun hanya bertahan beberapa menit. Karena kebaikan dan ketulusan
hati saya Akhirnya saya angkat tangan dan memberi kode kalau saya belum
bayar.
Untuk yang satu ini, jangan ditiru ya~
Mengantisipasi kondisi seperti ini, mau tidak
mau kondektur harus punya daya ingat dan intuisi yang tinggi. Harus selalu siap
mengingat dan mampu membedakan mana saja penumpang yang sudah atau yang belum
bayar. Sebuah tantangan di era industri 4.0 bagi para kondektur agar tidak
tergantikan oleh teknologi tiketing online.
Sedikit saran buat pak kondektur, tidak
apa-apa kok menanyakan dan mengecek ulang karcis penumpang untuk sekedar
memastikan sudah bayar atau belum. Sama seperti konsep pengecekan tiket di
kereta api atau kapal laut. Kan memang itu sudah jadi kewajiban penumpang untuk
membayar.
Menjadi kondektur profesional memang bisa
dibilang susah-susah gampang. Salah satu tantangannya yaitu saat kondisi bus
yang penuh sesak dengan penumpang yang berdiri. Tentu dibutuhkan tubuh yang
gesit dalam menyelinap diantara kerumunan penumpang untuk menagih karcis bus.
Belum lagi kalau si kondektur berbadan gemuk. Wah, harus pintar-pintar mencari
celah diantara para penumpang yang sudah terkepung penumpang lainnya.
Selain itu juga dibutuhkan skill leadership
yang baik untuk bisa memandu para penumpang yang punya ego tinggi karena merasa
sudah membayar. Kondektur harus mampu memberikan instruksi supaya penumpang mau
bergeser ke sisi yang lebih lenggang untuk memberi jalan menuju penumpang yang
belum membayar.
Meski begitu, jutaan orang tidak menyadari
kalau kondektur merupakan salah satu profesi favorit, setidaknya untuk
anak-anak usia sekolahan. Iya, setiap kita adalah kondektur. Nggak percaya?
Kita telisik saja, disetiap bus kota atau
angkot yang mengantar anak sekolah untuk kembali pulang, pasti kebanyakan anak
dengan riang bergelantungan layaknya seorang kondektur. Bahkan mereka dengan
suka cita sambil berteriak layaknya seorang kondektur, "Terminal,
terminal, ayo satu lagi berangkaatt~".
Nah gimana, apa kalian termasuk salah satunya?
Pada masa-masa seperti itu, sepertinya merupakan pemandangan yang lumrah, jika
menemukan anak kecil saling berebut untuk mendapat posisi bergelantungan di pintu
masuk bus kota atau angkot. Iya kan, sekali lagi saya yakinkan kalau kondektur
adalah kita.
Jadi, inilah sedikit tips bagi kalian yang
ingin mewujudkan mimpi semasa kecil sebagai kondektur, langsung saja kita
cekidot yuk gas~
Syarat paling pertama dan utama untuk menjadi
kondektur profesional adalah syahadat pastikan berbadan langsing.
Tentunya untuk memberi ruang lebih banyak di dalam bus mengingat bus selalu
mengangkut semua penumpang meski sudah penuh sesak hehe hehe.
Selanjutnya sebagai kondektur profesional
cukup penting juga untuk mandi setidaknya sehari sekali. Bila kondektur tidak
punya bau badan mau berdesak-desakan seperti apapun juga penumpang jadi tidak
perlu pusing karena mencium bau keringat menyengat tetap nyaman.
Kemampuan berteriak dengan lantang tentu juga
penting untuk dipunyai. Tenang, tidak perlu bingung apa yang harus diteriakkan.
Sedangkal yang saya tau, teriaknya para kondektur itu sepertinya sudah ada SOP
(Standar Operasional Prosedur) nya kok, seperti ini kurang lebihnya, "Ayo
Surabaya, ini bus terakhir pakk buukkk".
Haa? Terakhir? Beneran kah? Anda pasti heran,
bukannya bus di rute tersebut selalu ada 24 jam. Tapi ya mau gimana lagi, kan
memang sudah seperti itu SOP nya. Mau tidak mau ya harus diikuti saja.
Beberapa calon penumpang yang mengalami dilema
bila harus menunggu bus selanjutnya tentu akan goyah. Memilih untuk ikut masuk
bus yang sudah penuh sepertinya opsi yang lebih masuk akal. Dari pada harus
menunggu bus selanjutnya yang belum tentu kapan datangnya ataupun kalau ada
apakah agak lenggang atau sama saja penuh sesak penumpang. Alhasil, semakin
sesak bus, semakin banyak setoran terkumpul.
Dalam situasi seperti ini, mungkin ada
beberapa penumpang yang berpikiran untuk turun di tengah jalan dan meminta uang
karcisnya dikembalikan sesuai lokasi sekarang. Nah untuk mengantisipasi hal
tersebut, ada satu hal yang biasa dilakukan kondektur. Caranya, ketika diawal
dia akan membayar tadi, jangan berikan dulu uang kembaliannya. Bilang saja
belum ada uang kecil hehe.
Hal ini cukup lumrah kok. Jangankan mau turun
ditengah tujuan lalu minta uang dikembalikan setengahnya. Uang yang dibayarkan
di awal tadi saja belum diberi kembaliannya! Uang kembalian bisa diberikan
kalau penumpang sudah dekat lokasi yang dituju saja. Syukur-syukur uang
kembalian tidak diminta. Wah, lumayan bisa masuk kantong nih ye.
Nah sekarang sudah adil kan? Karena saya juga
berbagi ilmu baru bagi calon kondektur baru yang ingin mendapat uang lebih.
Tapi, Lagi-lagi untuk tips yang kurang baik ini jangan ditiru ya. Ini hanya
untuk keperluan konten semata, Hehe.
Oiya, untuk beberapa bus Patas memang
menyediakan fasilitas free makanan di rumah makan di Kota Tuban. Nah, dalam
kondisi seperti ini saya pernah mengalami pengalaman kurang mengenakkan ketika
meninggalkan barang berharga di bus untuk ditinggal makan sebentar. Untuk
mengatasi ini, alangkah baiknya bagi pak supir atau kondektur bisa bergantian
menjaga barang bawaan penumpang ketika istirahat makan. Jika tidak
memungkinkan, setidaknya kondektur memberikan pengumuman untuk jangan
meninggalkan barang berharga di bus. Meskipun cuma ditinggal sebentar, namun
harus tetap waspadalah waspadalah seperti kata bang napi.
Selanjutnya, terkadang sebal juga jika bus
menurunkan penumpang bukan pada tempatnya, seperti di perempatan dekat lampu
merah. Hal ini terkadang membahayakan penumpang atau pengemudi motor yang
sering menyalip dari celah-celah bus. Selain itu, pernah juga saya diturunkan
di pinggir jalan tol. Waktu itu bus melewati jalur alternatif yang membuatnya
melewatkan salah satu titik tujuan saya. Untuk hal ini, tentu melanggar
peraturan karena jelas ada larangan menaik turunkan penumpang di jalan tol.
Akhirnya, saya tutup tulisan ini dengan satu
hal keunikan yang sering kali saya temukan dari seorang kondektur. Saya
seringkali terheran-heran kenapa kebanyakan kondektur masih menggunakan HP
Nokia jadul (jaman dulu). Apa lagi-lagi karena SOP? HP jadul tersebut biasanya
digunakan oleh kondektur untuk menelpon rekan se profesinya untuk mengetahui
kondisi jalan di kota selanjutnya yang akan dilalui, apakah macet atau lancar.
Bagi saya, hal itu menawarkan pemandangan yang berhasil membawa saya kembali ke
beberapa tahun belakangan. Pemandangan tersebut berhasil membawa kembali memori
ini ke jaman dimana HP Nokia Express Music
adalah tipe HP paling keren di jamannya. Sekaligus membuka memori masa putih
Abu-Abu lainnya.
Bagaimanapun itu, semoga kita bisa sama-sama
berbenah. Buat kalian yang tergugah oleh menjadi kondektur setelah membaca
tulisan ini, semoga bisa terwujud. Buat yang sudah menjadi kondektur semoga bisa
menjadi lebih profesional seperti yang saya tulis. Buat penumpang semoga
bisa menjadi lebih tertib dan bisa diatur. Semoga transportasi ini bisa menjadi
lebih ramah lingkungan dan ramah bagi masyarakat.




0 komentar:
Posting Komentar