RSS
Facebook
Twitter

Rabu, 24 Juni 2020



Sewaktu kuliah, saya baru sadar kalau gaji guru sangat rendah. Padahal waktu itu saya adalah calon sarjana pendidikan yang harusnya setelah lulus diproyeksikan untuk menjadi guru.

Waktu itu juga saya baru sadar kalau ibu saya yang hanya seorang tenaga kerja honorer mempunyai bayaran yang sangat kecil. Sangat tidak masuk akal karena bayarannya bahkan masih dibawah tenaga bantu yang bapak pekerjakan di warung mie ayamnya.

Bahkan saya sempat berpikiran kenapa tidak ibu saya saja yang bantu di warung? Kan penghasilannya lebih besar.


Dasar pemikiran tersebut juga karena dalam beberapa kesempatan ketika tenaga bantu minta libur ibu atau saya (kalau sedang libur) sudah terbiasa membantu berjualan diwarung, jadi memang sudah sedikit tau seluk-beluknya juga.

Dan jawabannya adalah nominal slip gaji yang tertera itu bukan satu-satunya yang ibu terima, namun masih sedikit mendapat tambahan dari sekolah. Selain itu, ibu bertahan juga karena tak bisa dipungkiri bahwa status sosial ‘guru’ tentu lebih terpandang jika dibandingkan dengan menjadi pedagang mie ayam.

Bukan berarti mengecilkan pekerjaan bapak, namun itu adalah realita yang ada di masyaratkat. Saya sangat menghormati bapak sebagai orang tua saya.

Saya tau betul kalau guru adalah pekerjaan yang mulia karena mencerdaskan generasi mendatang dan ilmu dari guru yang diaplikasikan oleh murid adalah pahala yang tak pernah terputus sampai kapanpun.

Namun, rendahnya penghargaan terhadap guru honorer menjadi alasan terkuat saya untuk berpikir, “kalau ada pekerjaan yang lebih baik sepertinya tidak apa-apa kalau saya menghianati ijazah kependidikan saya”.

Bahagia memang tak selalu tentang uang, namun sebagai anak pertama saya memang harus segera memilih jalan sukses saya dan segera membantu perekonomian keluarga kecil ini, atau lebih tepatnya balas jasa terhadap segala yang telah orang tua korbankan selama masa hidup saya.

Kembali lagi ke masa saat saya sedang kuliah, disaat itulah saya mulai tau dan menetapkan impian saya yang sangat sederhana yaitu bisa lulus lalu mendapatkan pekerjaan dengan gaji 3 jutaan yang saya kira nominal itu sudah sangat tinggi jika dibanding dengan apa yang diterima ibu saat itu.

Pertimbangannya adalah saat kuliah saya sangat tidak punya hasrat untuk membeli apa-apa. Bisa makan dan membeli bensin sepeda motor untuk bolak-balik ke kampus saja sudah cukup.

Saya bahkan pernah dalam kondisi begitu tidak inginnya untuk meminta uang, saya menghemat pengeluaran makan saya dengan hanya membeli makan 1 kali sehari seharga 6000,-. Percaya atau tidak, saya pernah melakukan itu selama hampir 2 minggu.

Pada akhirnya saya bisa lulus meski agak terlambat. Dalam pelaksanaan upacara wisuda, ketika orang lain sedang senang-senangnya berfoto mengenakan toga saya sudah dilema menerima tawaran pekerjaan di jogja atau tidak.

Begitu cepatnya kejadian tersebut terjadi, saya bahkan tak sempat meng-upload foto wisuda ke feed instagram. Kehidupan saya langsung berubah drastis dari mahasiswa langsung menjadi pekerja dengan hanya menganggur sekitar 4 atau 5 hari saja.

Singkat cerita, Januari 2018 saya mendapat info dari teman bahwa diperusahaan tempatnya bekerja membutuhkan teknisi. Pada akhirnya saya diterima dan kurang lebih 4 bulan setelah saya wisuda impian untuk mendapat gaji 3 jutaan langsung terwujud.

Alhamdulillah begitu Allah baik terhadap hambanya yang satu ini.

Semakin kesini, ketika mulai pegang uang  banyak ternyata saya bukanlah sama seperti yang dulu lagi. Gaya hidup berubah dan mulai menginginkan untuk melakukan ‘balas dendam’ atas segala bentuk penghematan dimasa kuliah dengan membeli barang-barang bagus.

Pada akhirnya gaji berapapun tidak akan cukup jika harus memenuhi gaya hidup. Saya harus segera kembali ke tujuan awal yaitu membantu perekonomian keluarga hingga di titik aman baru kemudian melanjutkan membangun rumah tangga sendiri.

Ah, andai saja dulu impian saya adalah mendapat gaji lebih dari10 juta. Pasti hidup saya sudah lebih baik saat ini wkwkwk.

Maka dari itu, bermimpilah setinggi langit. Kalian harus tau diluar sana banyak pekerjaan yang menawarkan gaji tidak masuk akal. Bekerja di PMA atau BUMN adalah salah satunya.

0 komentar:

Posting Komentar