Sewaktu kuliah, saya baru sadar kalau gaji guru sangat
rendah. Padahal waktu itu saya adalah calon sarjana pendidikan yang harusnya
setelah lulus diproyeksikan untuk menjadi guru.
Waktu itu juga saya baru sadar kalau ibu saya yang hanya
seorang tenaga kerja honorer mempunyai bayaran yang sangat kecil. Sangat tidak
masuk akal karena bayarannya bahkan masih dibawah tenaga bantu yang bapak pekerjakan
di warung mie ayamnya.
Bahkan saya sempat berpikiran kenapa tidak ibu saya saja
yang bantu di warung? Kan penghasilannya lebih besar.
Dasar pemikiran tersebut juga karena dalam beberapa kesempatan
ketika tenaga bantu minta libur ibu atau saya (kalau sedang libur) sudah
terbiasa membantu berjualan diwarung, jadi memang sudah sedikit tau seluk-beluknya
juga.
Dan jawabannya adalah nominal slip gaji yang tertera itu
bukan satu-satunya yang ibu terima, namun masih sedikit mendapat tambahan dari
sekolah. Selain itu, ibu bertahan juga karena tak bisa dipungkiri bahwa status
sosial ‘guru’ tentu lebih terpandang jika dibandingkan dengan menjadi pedagang
mie ayam.
Bukan berarti mengecilkan pekerjaan bapak, namun itu adalah
realita yang ada di masyaratkat. Saya sangat menghormati bapak sebagai orang
tua saya.
Saya tau betul kalau guru adalah pekerjaan yang mulia karena
mencerdaskan generasi mendatang dan ilmu dari guru yang diaplikasikan oleh
murid adalah pahala yang tak pernah terputus sampai kapanpun.
Namun, rendahnya penghargaan terhadap guru honorer menjadi
alasan terkuat saya untuk berpikir, “kalau ada pekerjaan yang lebih baik
sepertinya tidak apa-apa kalau saya menghianati ijazah kependidikan saya”.
Bahagia memang tak selalu tentang uang, namun sebagai anak
pertama saya memang harus segera memilih jalan sukses saya dan segera membantu perekonomian
keluarga kecil ini, atau lebih tepatnya balas jasa terhadap segala yang telah
orang tua korbankan selama masa hidup saya.
Kembali lagi ke masa saat saya sedang kuliah, disaat itulah
saya mulai tau dan menetapkan impian saya yang sangat sederhana yaitu bisa
lulus lalu mendapatkan pekerjaan dengan gaji 3 jutaan yang saya kira nominal
itu sudah sangat tinggi jika dibanding dengan apa yang diterima ibu saat itu.
Pertimbangannya adalah saat kuliah saya sangat tidak punya
hasrat untuk membeli apa-apa. Bisa makan dan membeli bensin sepeda motor untuk
bolak-balik ke kampus saja sudah cukup.
Saya bahkan pernah dalam kondisi begitu tidak inginnya untuk
meminta uang, saya menghemat pengeluaran makan saya dengan hanya membeli makan
1 kali sehari seharga 6000,-. Percaya atau tidak, saya pernah melakukan itu
selama hampir 2 minggu.
Pada akhirnya saya bisa lulus meski agak terlambat. Dalam
pelaksanaan upacara wisuda, ketika orang lain sedang senang-senangnya berfoto
mengenakan toga saya sudah dilema menerima tawaran pekerjaan di jogja atau
tidak.
Begitu cepatnya kejadian tersebut terjadi, saya bahkan tak
sempat meng-upload foto wisuda ke feed instagram. Kehidupan saya langsung berubah
drastis dari mahasiswa langsung menjadi pekerja dengan hanya menganggur sekitar
4 atau 5 hari saja.
Singkat cerita, Januari 2018 saya mendapat info dari teman
bahwa diperusahaan tempatnya bekerja membutuhkan teknisi. Pada akhirnya saya
diterima dan kurang lebih 4 bulan setelah saya wisuda impian untuk mendapat
gaji 3 jutaan langsung terwujud.
Alhamdulillah begitu Allah baik terhadap hambanya yang satu
ini.
Semakin kesini, ketika mulai pegang uang banyak ternyata saya bukanlah sama seperti
yang dulu lagi. Gaya hidup berubah dan mulai menginginkan untuk melakukan ‘balas
dendam’ atas segala bentuk penghematan dimasa kuliah dengan membeli
barang-barang bagus.
Pada akhirnya gaji berapapun tidak akan cukup jika harus
memenuhi gaya hidup. Saya harus segera kembali ke tujuan awal yaitu membantu
perekonomian keluarga hingga di titik aman baru kemudian melanjutkan membangun
rumah tangga sendiri.
Ah, andai saja dulu impian saya adalah mendapat gaji lebih
dari10 juta. Pasti hidup saya sudah lebih baik saat ini wkwkwk.
Maka dari itu, bermimpilah setinggi langit. Kalian harus tau
diluar sana banyak pekerjaan yang menawarkan gaji tidak masuk akal. Bekerja di
PMA atau BUMN adalah salah satunya.




0 komentar:
Posting Komentar