RSS
Facebook
Twitter

Senin, 12 Oktober 2015



Narescamp atau Nasional Research Camp adalah kompetisi penelitian berbasis pengabdian. Narescamp ini dilaksanakan selama tiga 3 hari di Desa Ngesrepbalong, Kecamatan Limbangan, Kendal, Jawa Tengah. Kompetisi tingkat nasional ini terbuka untuk semua mahasiswa PTN atau PTS yang ada di Indonesia.

Sabtu, 25 Juli 2015

From Teh Kocok To Minimo Ice Cream


9 Juli 2014, masih teringat tanggal itu, ketika di bulain ramadhan itu kami 3 mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) –Handi Suryawinata (Pendidikan Teknik Elektro 2012), Senditya Erlangga Joko Saputro (Pendidikan Ekonomi 2012) dan Indra Abintya (Pendidikan Ekonomi 2012) mulai mencoba menaklukkan dunia dari tepi jalan di depan Koperasi Mahasiswa (Kopma) Unnes.

Teh Kocok, begitu kami menamainya. Ide ini datang tentu saja setelah melalui riset dan berbagai analisis cukup melelahkan yang sebelumnya telah kami lakukan sebelumnya. Sebuah langkah awal telah kami lakukan dengan tujuan untuk mampu menjadi salah bagian untuk menjadi solusi bagi permasalah negeri ini.

Dulu, tak banyak mahasiswa yang berani menjadi kami. Berjualan Teh di pinggir jalan untuk sekedar mendapatkan keuntungan yang jumlahnya tak seberapa. Meskipun sedikit canggung, kami pun memulainya. Satu langkah kecil yang kami bertiga percayai akan mampu mengubah hidup kami bertiga nantinya.

Buat yang belum tahu, Teh Kocok ini bukan sekadar minuman teh biasa. Teh Kocok memiliki beberapa varian rasa, beberapa diantara yang masih saya ingat yaitu : Vanilla Tea, Strawberry Tea, Choho Tea, Melon Tea, Oreo Tea, Moca Tea, Coffe Tea dan beberapa lainnya. Terdengar aneh mungkin, ditengah sedang maraknya minuman susu atau kopi yang sedang menjamur di kawasan Unnes. Namun ini lah kami, uniknya kami, kami bangga dengan ini.

Segalanya berubah ketika ada satu kawan kami lagi ~Nio, Akutansi 2012 ingin bergabung dan memberika cukup nafas bagi kami agar bisa lebih melebarkan sayap lagi dalam melakukan usaha di kawasan Unnes ini.

Setelah belajar dari beberapa kawan dan kakak angkatan yang telah mampu lebih dulu bergerak di bidang kuliner ini, kami memberanikan diri untuk mengambil kesempatan emas yang tak mungkin datang dua kali untuk menyewa ruko di kawasan Banaran, Gunungpati, Unnes untuk memulain sesuatu hal baru, sesuatu yang lebih besar dari sebelumnya.

Minimo Ice Cream, begitu kami menamainya. Dengan menu utama Ice Cream sekali lagi kami menjadi pelopor pertama untuk kedai Ice Cream di Unnes ini. Di Minomo Ice Cream ini kami tentu tak meninggalkan sejarah kita, untuk semua pelanggan lama kami yang masih merindukan teh kocok masih bisa didapat di kedai Minimo Ice Cream ini.

Ini adalah mimpi kita, mampu mempunyai usaha sendiri yang hingga saat ini telah mampu memperkerjakan 5 orang pegawai. Suatu pencapaian yang membuat kami bangga karena mampu memberikan sedikit kontribusi nyata bagi bangsa ini.

Perlajanan belum berhenti sampai disini, kami harap apa yang telah kami capai mampu memberikan beberapa manfaat yang lebih besar lagi bagi banyak orang, Minimo mampu melebarkan sayapnya lebih luas lagi sehingga mampu menjadi solusi nyata bagi bangsa ini.

Semua pencapaian ini saya persembahkan untuk semua pihak yang telah membantu kami selama ini, tanpa bantuan kalian semua kami bukan apa-apa. Terimakasih semuanya.

Perkembangan mengenai Minimo Ice Cream dapat di cek di akun instagram kami : @minimoicecream

Jumat, 19 Juni 2015

Cerita dari Mahasiswa Rak-Nggenah

Kuliah di kampus sendiri itu terlalu mainstream hahaha itu hanya kedok saja ketika akademikku di semester ini sangat tercampakkan.

Kali ini kembali bisa mencicipi suasana kota Surabaya yang sudah entah keberapa kalinya. Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) selalu mampu membersembahkan yang terbaik dalam setiap event yang diselenggarakannya.

Ini cerita tentang event skala internasional dan kualitas internasional dengan tanpa dipungut biaya sepeserpun. Bagaimana nilai suatu relasi diubah menjadi sebuah kekuatan. Bagaimana nilai suatu kebermanfaatan diubah menjadi suatu hal yang membanggakan.

Ini cerita tentang mahasiswa yang mengorbankan akademiknya demi subuah perjalanan baru.

ini cerita tentang mahasiswa ndeso yang bisa bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa lain dari Asean bahkan belahan dunia lainnya.

Ini cerita tentang pembuktian bagaimana kekuatan lingkungan bisa mempengaruhi kepribadian seseorang.

Bahkan ini juga cerita tentang inspirasi dari seorang pemuda yang hidup, tumbuh dan berkembang di zaman perang saudara dan baru bisa bersekolah dari usia 10 tahun namun masih bisa tetap melanjutkan kuliah hingga jenjang S2, ini juga cerita mengenai seorang pemuda yang 20 hari berpetualang di 5 Negara asean melalui jalur darat. It’s so amazing.


Tak banyak yang ingin saya ceritakan disini. . . Yuk mumpung masih jadi mahasiswa, ukir sendiri ceritamu. Keluar dari kampusmu, lihat dunia luar, ketahui bagaimana mahasiswa lain berkuliah, bagaimana keadaan kampus2 lain, dapatkan teman-teman baru dari kampus lain, cerita-cerita inspiratif, pengalaman-pengalaman luar biasa dan moment tak terlupakan :D

#Young Engineers and Scientists Summit ASEAN 2015
#ASEAN Youth Collaboration Festival 2015
#ASEAN Camping Ground 2015
#Subcluster ASEAN Power Grid
#IDOK Team


#PrayForRiau

Ada sesuatu hal yang mungkin harus diceritakan untuk diambil hikmahnya, namun disisi lain ada juga cerita yang tak perlu untuk diceritakan dan hanya perlu untuk dikenang :)

Anak ilmiah dimana-mana selalu itu-itu aja, kalo nggak ketemu di kompetisi ini ya ketemu di kompetisi selanjutnya ahahaha

Senin, 27 April 2015

Pendahuluan
Banyaknya kincir angin yang ada di Belanda menjadikan nagera ini mendapat julukan sebagai sebagai Negeri Kincir Angin. Kincir Angin sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu dan tersebar diberbagai penjuru Belanda dengan jumlah yang sangat banyak.
Sekitar abad 13 awal mulanya kincir angin digunakan untuk mendorong air ke lautan agar terbentuk daratan baru yang lebih luas (polder). Hal ini mengingat letak dataran Belanda yang sebagian besar wilayahnya berada di bawah permukaan laut.
Terbatasnya daratan, memaksa Belanda mengeringkan sebagian perairan untuk pemukiman penduduk. Kincir angin juga dimanfaatkan sebagai penghasil energi alternatif yang ramah lingkungan dengan memanfaatkan angin, Belanda bisa menghasilkan tenaga listrik yang besar. Hal ini menempatkan Belanda ke dalam 10 besar negara yang menggunakan kincir angin untuk menghasilkan tenaga listrik.

Perkembangan Sel Surya di Belanda
Sel Surya adalah pembangkit yang memanfaatkan sinar matahari sebagai sumber penghasil listrik. Seperti yang kita ketahui bahwa energi surya merupakan sumber energi terbarukan. Matahari hampir tak terbatas sebagai sumber energi sehingga energi surya tidak dapat habis pemanfaatannya. Selain itu, energi surya merupakan sumber energi yang bersih dan ramah lingkungan karena tidak memancarkan emisi karbon berbahaya yang berkontribusi terhadap perubahan iklim seperti yang terjadi pada bahan bakar fosil.
Dalam segi inovasi, Belanda memang salah satu Negara yang percaya kepada pengembangan energi terbarukan. Bahkan di Belanda kini sudah terdapat jalur sepeda yang memiliki solar cells didalamnya, atau disebut SolaRoad. Proyek ini dimulai dengan membangun jalur sel surya sepanjang 70m, dan ini menjadi jalur sepeda pertama yang menyematkan teknologi tersebut.
Pembangkit listrik ini dibuat dengan melekatkan kristal silikon sel surya pada beton dan dilapisi kaca tempered setebal 1 cm. dengan posisi sedikit miring kesetiap sisi (seperti aspal pada umumnya) akan membuat permukaan jalur sepeda tetap bersih jika terkena air hujan.
Jalur sel surya ini akan diperpanjang menjadi 100m pada 2016, sehingga akan menambah daya listrik yang dihasilkan. Pihak pembuatnya mengklaim bahwa hingga 20% dari 140.000km total jalan di Belanda mungkin bisa diadaptasi menjadi SolaRoad.

Gambar 1. Pemanfaatan SolaRoad di Belanda
Sumber: bikestreak.com
SolarRoad ini membuktikan bahwa Belanda selalu menawarkan inovasi terbaru untuk mewujudkan sebuah Negara yang aman, tentram dan damai.

Sabtu, 11 April 2015

Menulis itu susah bro...



Bismillah, meskipun dengan ribuan keraguan akhirnya saya dan Ami kembali berpetualang menelusuri pelosok Indonesia bermodal karya tulis. Riau, kali ini kami berkesempatan mengunjungi kota di salah satu sudut Sumatra ini.

Kamis, 26 Maret 2015



Pendahuluan
Letak Geografis Indonesia yang dilalui oleh garis khatulistiwa menjadikan Indonesia beriklim tropis. Hal ini menyebabkan Indonesia mendapatkan pancaran sinar matahari yang maksimal dan merata sepanjang tahunnya. Berdasarkan data penyinaran matahari yang dihimpun dari 18 lokasi di Indonesia, radiasi surya di Indonesia dapat diklasifikasikan berturut - turut sebagai berikut: untuk kawasan barat dan timur Indonesia dengan distribusi penyinaran di Kawasan Barat Indonesia (KBI) sekitar 4,5 kWh/m2/hari dengan variasi bulanan sekitar 10%; dan di Kawasan Timur Indonesia (KTI) sekitar 5,1 kWh/m2/hari dengan variasi bulanan sekitar 9%. Dengan demikian, potesi penyinaran rata - rata Indonesia sekitar 4,8 kWh/m2/hari dengan variasi bulanan sekitar 9%. Sebuah potensi luar biasa yang sudah seharusnya bisa dimanfaatkan dengan lebih baik oleh seluruh masyarakat Indonesia.

Dengan memanfaatkan pancaran sinar matahari kita bisa mulai memberdayakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di seluruh penjuru negeri agar Indonesia bisa menjadi negara yang mandiri dari segi suplai energi bermodalkan energi bersih dan ramah lingkungan untuk keperluan penerangan (listrik) khususnya.

Saat ini Indonesia masih saja bergantung dari sumber energi fosil yang jumlahnya semakin terkuras ini dan bahkan untuk memperbaharuinya pun diperlukan waktu ratusan bahkan ribuan tahun lagi. Sangat tidak efektif jika kita masih saja terus bergatung ke sumber energi yang kian tahun harganya semakin melonjak ini. Bahan bakar fosil juga menghasilkan berbagai macam emisi yang bisa merusak lingkungan. Jadi sudah saatnya sekarang kita lebih cerdas dalam memilih dan memanfaatkan sumber energi yang ramah lingkungan, hemat dan efektif dalam penggunaannya.

Krisis Energi
Energi mempunyai peranan penting dalam pencapaian tujuan sosial, ekonomi, dan lingkungan untuk pembangunan berkelanjutan, serta merupakan pendukung bagi kegiatan ekonomi nasional. Konsumsi energi listrik di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir mengalami peningkatan 10 – 15 % per tahun. Jumlah Konsumsinya dipastikan akan terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi. Jadi semakin tinggi daya beli dan konsumsi publik, maka makin tinggi pula tingkat penggunaan listriknya. Hingga saat ini, tercatat baru 70% rumah tangga di Indonesia yang memiliki akses listrik. Sisanya merupakan pengguna listrik potensial di masa yang akan datang.

Gambar 1. Krisis energi di Indonesia (sumber: energytoday.com)