RSS
Facebook
Twitter

Senin, 27 April 2015

Pendahuluan
Banyaknya kincir angin yang ada di Belanda menjadikan nagera ini mendapat julukan sebagai sebagai Negeri Kincir Angin. Kincir Angin sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu dan tersebar diberbagai penjuru Belanda dengan jumlah yang sangat banyak.
Sekitar abad 13 awal mulanya kincir angin digunakan untuk mendorong air ke lautan agar terbentuk daratan baru yang lebih luas (polder). Hal ini mengingat letak dataran Belanda yang sebagian besar wilayahnya berada di bawah permukaan laut.
Terbatasnya daratan, memaksa Belanda mengeringkan sebagian perairan untuk pemukiman penduduk. Kincir angin juga dimanfaatkan sebagai penghasil energi alternatif yang ramah lingkungan dengan memanfaatkan angin, Belanda bisa menghasilkan tenaga listrik yang besar. Hal ini menempatkan Belanda ke dalam 10 besar negara yang menggunakan kincir angin untuk menghasilkan tenaga listrik.

Perkembangan Sel Surya di Belanda
Sel Surya adalah pembangkit yang memanfaatkan sinar matahari sebagai sumber penghasil listrik. Seperti yang kita ketahui bahwa energi surya merupakan sumber energi terbarukan. Matahari hampir tak terbatas sebagai sumber energi sehingga energi surya tidak dapat habis pemanfaatannya. Selain itu, energi surya merupakan sumber energi yang bersih dan ramah lingkungan karena tidak memancarkan emisi karbon berbahaya yang berkontribusi terhadap perubahan iklim seperti yang terjadi pada bahan bakar fosil.
Dalam segi inovasi, Belanda memang salah satu Negara yang percaya kepada pengembangan energi terbarukan. Bahkan di Belanda kini sudah terdapat jalur sepeda yang memiliki solar cells didalamnya, atau disebut SolaRoad. Proyek ini dimulai dengan membangun jalur sel surya sepanjang 70m, dan ini menjadi jalur sepeda pertama yang menyematkan teknologi tersebut.
Pembangkit listrik ini dibuat dengan melekatkan kristal silikon sel surya pada beton dan dilapisi kaca tempered setebal 1 cm. dengan posisi sedikit miring kesetiap sisi (seperti aspal pada umumnya) akan membuat permukaan jalur sepeda tetap bersih jika terkena air hujan.
Jalur sel surya ini akan diperpanjang menjadi 100m pada 2016, sehingga akan menambah daya listrik yang dihasilkan. Pihak pembuatnya mengklaim bahwa hingga 20% dari 140.000km total jalan di Belanda mungkin bisa diadaptasi menjadi SolaRoad.

Gambar 1. Pemanfaatan SolaRoad di Belanda
Sumber: bikestreak.com
SolarRoad ini membuktikan bahwa Belanda selalu menawarkan inovasi terbaru untuk mewujudkan sebuah Negara yang aman, tentram dan damai.

Sabtu, 11 April 2015

Menulis itu susah bro...



Bismillah, meskipun dengan ribuan keraguan akhirnya saya dan Ami kembali berpetualang menelusuri pelosok Indonesia bermodal karya tulis. Riau, kali ini kami berkesempatan mengunjungi kota di salah satu sudut Sumatra ini.

Kamis, 26 Maret 2015



Pendahuluan
Letak Geografis Indonesia yang dilalui oleh garis khatulistiwa menjadikan Indonesia beriklim tropis. Hal ini menyebabkan Indonesia mendapatkan pancaran sinar matahari yang maksimal dan merata sepanjang tahunnya. Berdasarkan data penyinaran matahari yang dihimpun dari 18 lokasi di Indonesia, radiasi surya di Indonesia dapat diklasifikasikan berturut - turut sebagai berikut: untuk kawasan barat dan timur Indonesia dengan distribusi penyinaran di Kawasan Barat Indonesia (KBI) sekitar 4,5 kWh/m2/hari dengan variasi bulanan sekitar 10%; dan di Kawasan Timur Indonesia (KTI) sekitar 5,1 kWh/m2/hari dengan variasi bulanan sekitar 9%. Dengan demikian, potesi penyinaran rata - rata Indonesia sekitar 4,8 kWh/m2/hari dengan variasi bulanan sekitar 9%. Sebuah potensi luar biasa yang sudah seharusnya bisa dimanfaatkan dengan lebih baik oleh seluruh masyarakat Indonesia.

Dengan memanfaatkan pancaran sinar matahari kita bisa mulai memberdayakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di seluruh penjuru negeri agar Indonesia bisa menjadi negara yang mandiri dari segi suplai energi bermodalkan energi bersih dan ramah lingkungan untuk keperluan penerangan (listrik) khususnya.

Saat ini Indonesia masih saja bergantung dari sumber energi fosil yang jumlahnya semakin terkuras ini dan bahkan untuk memperbaharuinya pun diperlukan waktu ratusan bahkan ribuan tahun lagi. Sangat tidak efektif jika kita masih saja terus bergatung ke sumber energi yang kian tahun harganya semakin melonjak ini. Bahan bakar fosil juga menghasilkan berbagai macam emisi yang bisa merusak lingkungan. Jadi sudah saatnya sekarang kita lebih cerdas dalam memilih dan memanfaatkan sumber energi yang ramah lingkungan, hemat dan efektif dalam penggunaannya.

Krisis Energi
Energi mempunyai peranan penting dalam pencapaian tujuan sosial, ekonomi, dan lingkungan untuk pembangunan berkelanjutan, serta merupakan pendukung bagi kegiatan ekonomi nasional. Konsumsi energi listrik di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir mengalami peningkatan 10 – 15 % per tahun. Jumlah Konsumsinya dipastikan akan terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi. Jadi semakin tinggi daya beli dan konsumsi publik, maka makin tinggi pula tingkat penggunaan listriknya. Hingga saat ini, tercatat baru 70% rumah tangga di Indonesia yang memiliki akses listrik. Sisanya merupakan pengguna listrik potensial di masa yang akan datang.

Gambar 1. Krisis energi di Indonesia (sumber: energytoday.com)

Selasa, 24 Maret 2015

Mahasiswa Unnes yang terdiri dari 2 tim perwakilan delegasi dari Universitas Negeri Semarang meraih juara 2 dan juara harapan 2 LKTIN HIMKI Universitas Tanjungpura Pontianak.

Lomba Bidang Studi Kimia (LBSK) XI 2015 ini merupakan acara tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Kimia (HIMKI) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Tanjungpura (UNTAN) yang berisi berbagai rangkaian acara, diantaranya Lomba Bidang Studi Kimia (LBSK) tingkat SMA/MA, Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional (LKTIN) tingkat mahasiswa S1/D3, dan Seminar Nasional Kimia.

Minggu, 15 Maret 2015

Setetes Embun di Pelupuk Pagi

Sedikit curhat saja, semenjak musibah yang menimpa saya di bulan Desember 2014 yang lalu sepertinya rasa semangat saya untuk menulis sempat memudar. Apakah sampai disini saja kah rekam jejak kepenulisan saya? Sesuram apakah 2015 ini tanpa menulis? Mungkin saatnya saya berhenti menulis dan kembali fokus ke kuliah :)

Ya, selama ini saya hanya sibuk menulis dan sibuk berorganisasi sehingga tidak terlalu mengedepankan masalah kuliah. Toh selama ini banyak dosen yang beranggapan sekarang sumber ilmu bukanlah dosen melainkan google. Lantas untuk apa saya masuk kuliah? Mending cari hal bermanfaat lain mumpung bisa menikmati segala fasilias selama jadi mahasiswa, menguras uang kemahasiswaan untuk mewujudkan salah satu cita-cita untuk keliling Indonesia. Hahaha pandangan agak sesat yang sebaiknya jangan diikuti oleh kalian-kalian yang belum professional :D

Kita semua punya pilihan, ini adalah pilihan yang saya ambil. Saya merasa sudah tua, sudah seharusnya saya mencari uang untuk membantu kedua orang tua dirumah. Bukan malah menjadi seorang yang egois dengan masih mengejar ‘impian-impian kosong’ ini. Bapak sepertinya sudah mulai lelah bekerja, beliau pernah berujar ikut lomba baguslah sekali-dua kali tapi lebih baik cobalah kuliah sambil bekerja, sudah saatnya kamu mandiri, tapi bagaimanapun juga kuliah harus tetap menjadi prioritasmu. Namun maaf pak, dua hal yang bapak pesankan blum mampu saya laksanakan dengan baik :( saya belum berada dalam level tertinggi itu.

Sabtu, 24 Januari 2015



Surabaya, untuk ke-4 kali nya saya akan berkunjung ke kota ini. Kali ini event yang saya ikuti adalah Airlangga Conference (AICON) 2014 di Unifersitas Airlangga. Bermodal karya yang telah dibuat hampir setahun yang lalu untuk diikutkan dalam PKM GT awal 2014 namun baru kali ini berhasil membawa saya jalan-jalan gratis hehe. 

Kamis, 20 November 2014



Kecelakaan lalu lintas merupakan salah satu penyebab kematian terbesar yang ada di Indonesia. Jumlah korban yang begitu besar memberikan dampak berupa kerugian materi dan sosial yang tidak sedikit. Berbagai tindakan preventif hingga perbaikan lalu lintas dengan melibatkan berbagai pihak yang terkait belum menunjukkan hasil yang sesuai diharapkan.

Berdasarkan data Kepolisian menyebutkan, jumlah kecelakaan di Indonesia pada tahun 2012 terjadi 109.038 kasus kecelakaan dengan korban meninggal dunia sebanyak 27.441 orang dengan potensi kerugian sosial ekonomi sekitar Rp 203 triliun per tahun atau 2,9-3,1 % dari pendapatan domestik bruto/PDB Indonesia.[1] Kebanyakan korban meninggal pada saat kecelakaan disebabkan oleh terlambatnya pertolongan pertama medis pada korban kecelakaan. Padahal jika sesaat setelah kecelakaan tenaga medis bisa langsung memberikan pertolongan pertama pada korban kecelakaan maka sudah pasti angka kematian pada saat kecelakaan jalan raya bisa ditekan.

Setiap waktu musibah kecelakaan lalu lintas di berbagai lokasi memang susah untuk dihindari, sebagai langkah antisipasi terhadap korban luka agar segera mendapatkan pertolongan pertama, diperlukan suatu sistem yang memungkinkan korban kecelakaan dapat mendapatkan bantuan secepat mungkin sesaat setelah terjadi kecelakaan. Inovasi tersebut adalah Sistem Pandu “Panggilan Darurat” berbasis SOS, Optimalisasi pertolongan pertama pada kecelakaan jalan raya sebagai solusi mengurangi korban meninggal dunia dengan fitur teknologi telepon di mobil untuk tindakan cepat ke bantuan layanan darurat.

Fungsi Sistem Pandu (Panggilan Darurat) ditanam pada sistem yang memiliki integrasi dengan teknologi di bagian mobil sehingga begitu terjadi kecelakaan hebat, Pandu secara otomatis membuat panggilan ke pusat darurat terdekat dan memberikan sinyal lokasi kecelakaan lalu kemudian operator segera mengirimkan bantuan ke tempat kejadian untuk memberikan pertolongan pertama pada korban kecelakaan untuk meminimalisir adanya korban meninggal dunia.

Urgensi Sistem Pandu “Panggilan Darurat”
Sistem ini terdiri dari penerima GPS, perangkat sensor, perangkat komunikasi ke pusat operator terdekat dan sambungan antena. Jika pengemudi dengan mobil yang dilengkapi Sistem Pandu “Panggilan Darurat” mengalami kecelakaan, maka sistem secara otomatis menghidupkan sistem SOS dengan menghubungkan telepon ke nomor darurat. Pengemudi atau penumpang bisa berbicara dengan petugas penyelamat dan menjelaskan kondisinya. Selain itu, Sistem Pandu “Panggilan Darurat” meneruskan informasi kepada pusat penerima panggilan darurat tentang waktu kecelakaan, lokasi kecelakaan, jenis kendaraan dan arah kendaraan. Sistem mengenali kecelakaan, jika Airbag terbuka dan mengembang. Tapi pengemudi juga bisa secara manual melakukan telepon darurat dengan Sistem Pandu “Panggilan Darurat” dengan begitu Ambulans bisa datang lebih cepat datang.

Jika terjadi kecelakaan, dengan adanya Sistem Pandu “Panggilan Darurat” ini maka korban bisa lebih cepat ditemukan supaya nyawanya bisa diselamatkan. Jika tim penyelamat bisa tiba tepat waktu pada setiap kecelakaan, maka setiap tahun akan lebih banyaj nyawa lagi yang bisa diselamatkan di Indonesia. Sepertinya tidak ada kerugian yang ditimbulkan dengan diterapkannya Sistem Pandu “Panggilan Darurat” ini. Biayanya pemasangannya juga tidak terlalu mahal, cukup seharga pemasangan GPS biasa dengan sedikit tambahan sistem komunikasi untuk menghubungkan ke sistem operator terdekat.

Diagram Sistem Pandu “Panggilan Darurat”
Untuk dapat bekerja dengan baik, Sistem Pandu “Panggilan Darurat” terdiri dari beberapa bagian sistem yaitu Sistem Pandu (Panggilan Darurat) pada kendaraan, pendeteksian lokasi sumber SOS, pusat sistem panggilan darurat dan pertolongan secepatnya.

Gambar 1. Diagram Sistem Pandu “Panggilan Darurat”