RSS
Facebook
Twitter

Minggu, 27 November 2016

Skripsi adalah salah satu tujuan akhir mahasiswa yang kebanyakan darinya ingin diselesaikan secepat mungkin. Namun dalam prosesnya, pengerjaan skripsi selalu tak semudah yang dibayangkan. Selalu banyak rintangan yang menghalangi untuk sesegera mungkin menyelesaikan salah satu momok bagi mahasiswa tingkat akhir. Beberapa rintangan diantaranya ada yang terhalang karena sudah bekerja terlebih dahulu, ada yang masih berorganisasi, ada yang sekedar malas mengerjakan, atau bahkan ada yang terhalang dosen pembimbing dengan segala kesulitannya. Hanya mahasiswa yang lurus dan penuh keberuntungan dengan tidak mengalami beberapa hal tadi lah yang bisa lulus tepat waktu.

Di kampus kami sendiri, skripsi memiliki bobot sebanyak 6 SKS (Kurang tau untuk SKS di kampus lain). Berikut adalah screenshotnya.


Menurut sepaham saya, sejak dari mahasiswa baru 1 SKS berarti 1 jam pelajaran perkuliahan.

Sedangkan menurut Wikipedia.org, SKS adalah adalah singkatan dari satuan kredit semester. Sistem SKS ini digunakan umumnya di perguruan tinggi. Dengan sistem ini, mahasiswa dimungkinkan untuk memilih sendiri mata kuliah yang akan ia ambil dalam satu semester. SKS digunakan sebagai ukuran:
  • Besarnya beban studi mahasiswa.
  • Besarnya pengakuan atas keberhasilan usaha belajar mahasiswa.
  • Besarnya usaha belajar yang diperlukan mahasiswa untuk menyelesaikan suatu program, baik program semesteran maupun program lengkap.
  • Besarnya usaha penyelenggaraan pendidikan bagi tenaga pengajar.
Ya itulah, rumit.

Kembali fokus ke topik ‘Kritik Terhadap 6 SKS’, bisa disimpulkan bahwa jika skripsi mempunyai 6 SKS berarti setidaknya kita mempunyai waktu setidaknya 6 jam dalam seminggu untuk bimbingan skripsi bukan? Misalkan dalam seminggu dosen sibuk dan tidak ada waktu untuk menemui mahasiswanya maka harus diganti di minggu berikutnya kan? Seperti layaknya jam perkuliahan yang presensinya harus selalu terisi penuh hingga 16 kali pertemuan.

Namun beberapa mahasiswa masih mengeluhkan sulitnya menemui dosen pembimbing. Ada yang bimbingan 2 minggu sekali, ada yang menunggu dari pagi hingga siang untuk sekedar bertemu sebentar, dan setelah bertemu masih disentil oleh dosen pembimbing karena berbagai kesalah pahaman.

Apa mungkin dosen pembimbing memang sibuk-sibuk?

Atau mahasiswa yang kurang beretika ketika meminta pembimbingan skripsi?


Atau saya pribadi yang salah menafsirkan makna 6 SKS skripsi? Mohon maaf jika memang seperti itu. Semoga bisa menjadi perbaikan bagi kita semua kedepannya.

Sabtu, 12 November 2016

Review Buku Nasional.Is.Me


Buku yang tidak hanya menceritakan opini namun berdasarkan pengalaman langsung dari Pandji Pragiwaksono sebagai penulis yang telah berkeliling di beberapa tempat dan berdiskusi dengan beberapa tokoh penting di Indonesia sehingga melalui tulisan inilah akan dibuka beberapa aksi nyata begitu cintanya Pandji terhadap bangsa Indonesia. Pada masing-masing bab juga diberikan tantangan aksi yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan Nasional.is.me kita. Salah satu buku yang wajib di baca buat kalian yang ngaku cinta Indonesia.

Menciptakan perubahan adalah salah satu poin penting dalam buku ini. Meskipun begitu dalam penjabarannya begitu meluas diantaranya mengenai kenali Indonesiamu, temukan passion-mu, berkaryalah untuk masa depan bangsamu dan masih banyak lainnya.

Namun secara pribadi beberapa poin tulisan yang cukup membuka pikiran saya diantaranya mengenai maraknya perbedaan yang terjadi diantara kita (red : suku bangsa Indonesia), masalah utamanya adalah ego dari masing-masing kelompok yang terlalu tinggi, terlalu membanggakan atau meninggikan kelompoknya dibanding yang lain dan masih banyak lainnya. Padahal kita semua satu, dalam payung besar bernama Indonesia. Memang hampir mustahil menyatukan 17.000 lebih kepulauan yang ada di Indonesia ini. Namun bagaimanapun juga, ini lah Indonesia yang harus kita jaga. Salah satu solusinya adalah dengan ‘memahami’ satu sama lainnya. Ah, mungkin pemuda sekarang terlalu egois untuk bisa memahami perbedaan ini. . .

Buku ini juga menyorot apatisnya pemuda kita terhadap dunia politik. Dan Panji memberikan solusinya dalam buku ini. Solusinya akan saya analogikan dengan bahasa saya sendiri, bagi yang ingin mengetahui analogi dari Panji silakan baca buku Nasional.is.me :).

Dulu saya juga apatis terhadap politik, namun berawal dari ajakan seorang kawan dekat untuk bergabung menjadi fungsionaris BEM KM UNNES 2015 sedikit banyak merubah pikiran saya. Bagi saya yang termasuk awam terhadap dunia politik kampus, awalnya saya bersedia diajak bergabung dikarenakan alasan yang sederhana karena bagian saya disini hanya di bagian media sebagai salah satu tempat menyalurkan minat saya.

Beberapa kawan memang kurang setuju dengan tindakan ‘Demonstrasi’ yang sering dilakukan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa secara khusus karena dituding sebagai sarana ‘aksi pamer’ saja dan bukan merupakan ‘aksi solutif’. Mereka lebih memilih membanggakan aksi nyata mereka dengan melakukan penggalangan dana, donor darah, pengabdian masyarakat dan lain sebagainya. Itu memang salah satu hal yang bagus karena saya juga melakukan 2 dari 3 aksi tersebut. Hal yang kurang saya mengerti adalah kenapa mereka harus meremehkan mahasiswa yang berdemo? Bukankah lebih baik apabila kita berkolaborasi di bidang kita masing-masing?

Pada poin ini kata ‘memahami’ sangat penting untuk kembali digunakan mengingat bangsa ini melandaskan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semangat persatuannya.
Untuk memahami itu, oke mari kita pahami kenapa demo itu penting. Mungkin aksi-aksi otodidak yang terus dilakukan bisa langsung membuahkan aksi nyata namun dampaknya akan berbeda jika kita melakukan demo dan dialog langsung dengan pemimpin kebijakan. Karena pemimpin kebijakan tersebutlah yang bisa mendatangkan dampak yang begitu besar terhadap masyarakat. Diantaranya penggusuran rumah warga, pembangunan pabrik semen, pembuatan toko modern yang mematikan toko tradisional dan lain sebagainya.

Pemimpin kebijakan harus terus dipantau, dikritik dan diluruskan apabila kebijakannya semakin melenceng. Semakin kita tidak peduli terhadap politik maka kita akan semakin dibodoh-bodohi oleh oleh kebijakan pemimpin yang mendzalimi kita. Untuk itulah kita harus peduli terhadap politik. Dimulai dari membaca dan melihat berita-berita politik yang netral dari segala kepentingan.

Pada akhir review tulisan ini saya tutup dari salah satu quote yang ada di buku Nasional.is.me yang bunyinya:

Hanya ada 2 jenis anak muda di dunia, Mereka yang menuntut perubahan, Mereka yang menciptakan perubahan, Silakan pilih perjuanganmu.

Bagi yang tidak mempunyai bukunya, Mas Pandji baik banget mau membagikan ebooknya secara gratis yang bisa diunduh DISINI

Kamis, 15 September 2016

Saatnya Pendidikan Indonesia Bangkit


Pada saat itu para pahlawan hidup di jaman serba susah. Indonesia (Hindia Belanda) pada masa mereka hidup, ada di era penjajahan yang begitu menyesakkan di mana semuanya dibatasi. Pendidikan dibatasi, berpendapat di batasi, organisasi-organisasi kemasyarakatan dibatasi, mobilitas dibatasi, perdagangan dibatasi, kemiskinan menjadi absolut, kebodohan menjadi hal yang wajar, infratruktur sangat terbatas, pajak mencekik begitu tinggi, layanan publik hanya untuk kalangan penjajah dan priyayi. Semua hal ini dapat dianalogikan seperti burung di dalam sangkar kecil yang jarang diberi makan dan dimandikan.

Rabu, 31 Agustus 2016

Indahnya Gunung Ungaran

Dusun Promasan, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal adalah sebuah dusun tertinggal yang terletak di ketinggian 1800 mdpl, di lereng Gunung Ungaran. Dusun Promasan adalah sebuah dusun wisata yang menyuguhkan pemandangan hamparan kebun teh dan kebun kopi, Goa Jepang, dan jalur pendakian menuju puncak Gunung Ungaran.

Namun dibalik berbagai potensi tersebut, Desa Promasan bisa disebut sebagai salah satu desa tertinggal karena disini fasilitas Listrik PLN belum menjangkau dusun ini, sehingga masyarakat menggunakan genset sebagai pembangkit listrik untuk menerangi malam hari di dusun tersebut. Dalam semalam saja, genset tersebut menghabiskan 12 liter bensin dan harga bensin disana mencapai Rp 9.000. Bila ditotal, uang yang warga habiskan untuk menerangi malam mencapai Rp 108.000,-.

Jumlah tersebut menjadi pengeluaran tetap di setiap harinya. Hal ini tentu saja sangat memberatkan warga desa promasan karena penghasilan mereka sebagai buruh tani, teh dan kopi sudah banyak berkurang untuk membeli bahan bakar genset.

Dari berbagai permasalahan tersebut muncullah beberapa relawan-relawan dari berbagai pendaki, pecinta alam dan salah satunya adalah kami yang sedikit membantu program ini melalui kegiatan tahunan dari Kemenristekdikti yaitu Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM).

Tujuan program ini secara umum yaitu untuk membantu pemerintah dalam upaya mewujudkan kehidupan yang adil dan persamaan hak dalam hal permasalahan listrik bagi masyarakat dusun promasan, mengembangkan potensi aliran air yang deras untuk dijadikan Pembangkit Listrik Tenaga Microhidro (PLTMh) untuk pembangunan daerah tertinggal khususnya Dusun Promasan serta membuat masyarakat Dusun Promasan menjadi masyarakat yang mandiri dalam hal menghasilkan energi listrik secara berkelanjutan.

Setelah melalui proses seleksi dari Kemenristekdikti akhirnya proposal kami didanai sebanyak 12,5 juta rupiah, yang ketika cair langsung kami belikan generator senilai 8 juta rupiah. Sisanya kami perbantukan untuk infrastruktur lainnya. Proyek ini bisa dibilang proyek ratusan juta rupiah dari relawan sedangkan yang kami bantu hanya sebagian kecil dana dan tenaga saja.

Dalam pelaksanaannya program ini terdiri dari 3 tahap yaitu tahap prakegiatan yang terdiri dari rapat strategi pelaksanaan, pendekatan kepada masyarakat, bergabung dengan relawan, penggalangan dana bersama relawan, perancangan teknologi, pembelian alat dan bahan serta sosialisasi kepada masyarakat.

Tahap selanjutnya yaitu pelaksanaan kegiatan yang terdiri dari Pembangunan Rancangan PLTMh dan Training berkelanjutan. Tahap terakhir yaitu tahap pasca kegiatan yang terdiri dari evaluasi dan pembuatan laporan akhir. Hasil dari program rancang bangun pembangkit listrik tenaga microhidro di Dusun Promasan, Kabupaten Kendal adalah Pemasangan generator baru, pemasangan MCB listrik 1 Ampere untuk masing-masing rumah warga, penggalian pasir dan batu, pengecoran tiang pipa yang sebelumnya menggunakan balok kayu seadanya, penguatan bendungan di sisi, pelebaran penampungan di depan bendungan yang lebar, penggalangan dana untuk pembelian generator baru sebagai cadangan, turbin pengganti, dan pipa besi pengganti dan yang terakhir listrik dapat mengalir ke 19 rumah warga, 1 masjid, penerangan jalan, dan seluruh penerangan lainnya di Dusun Promasan dengan tegangan 250V. Sehingga dapat menyerupai listrik PLN yang memiliki tegangan 220V.

Alhamdulillah sekarang ini Desa Promasan bisa teraliri listrik dan kabar baiknya bisa menghemat beban listrik yang biasanya pada malam hari menggunakan bensin yang harganya cukup mahal namun sekarang bisa menggunakan pembangkit listrik tenaga mikrohidro yang hampir tanpa biaya. Hanya membutuhkan biaya perawatan sederhana saja yang perlu rutin dijaga oleh warga setempat.

Adanya listrik ini merupakan salah satu Inovasi Daerah yang tidak hanya membantu warga setempat, namun juga membantu masyarakat para pendaki Gunung Ungaran yang transit di Desa ini untuk sejenak merehat badan. Hal kecil ini adalah sedikir kontribusi kami untuk mewujudkan pemerataan pembangunan di Indonesia salah satunya dengan membantu penerangan di Desa Promasan ini. Dari mahasiswa untuk Indonesia, karena kami cinta Indonesia.


#GoodNewsFromIndonesia
#InovasiDaerahku
Artikel ini diikutsertakan pada Kompetisi Menulis Blog Inovasi Daerahku - https://www.goodnewsfromindonesia.id/competition/inovasidaerahku

Senin, 15 Agustus 2016


Semarang, 9 Agustus 2016

Hari ini, melalui kegagalan ini, aku kembali disadarkan. Bahwa usaha  sekeras apapun jika takdir berkata tidak, maka tidak ada yang bisa menghalangi kuasaNya.

Aku sadar, diri ini banyak melakukan dosa, tak tau diri, seenaknya sendiri, seolah merasa akan hidup hingga ratusan tahun lagi. Hingga kali ini doa dan usaha kerasku tak terkabulkan kembali.

Atau mungkin aku ini yang kurang bersyukur, karena berada di level ini juga sudah merupakan satu kebanggaan tersendiri.

Namun untuk kedua kalinya setelah kejadian di Banten beberapa bulan lalu. . .,

Tak begitu masalah jika hanya diri ini yang kecewa. Namun kali ini kembali orang lain disekitarku juga ikut kecewa. Hal ini terasa lebih menyiksaku.

Semoga senyum dan keceriaan selalu tampak di wajah kita semua, senantiasa diberi kekuatan dan ketabahan bagi kita semua untuk kita semua untuk senantiasa bersyukur kepadaNya.

Untuk kesekalian kalinya, hamba ingin kembali mencoba untuk lebih meng-hamba, ijinkan hamba untuk kembali mencoba menjadi pribadi yang lebih baik lagi.


Jika memang kegagalan ini merupakan caraNya untuk membuatku semakin mendekat kepadaNya. Ijinkan hambamu ini menerima lebih banyak kegagalan lagi sampai Engkau yakin hambamu ini benar-benar siap untuk menerima keberhasilan.

Kamis, 11 Agustus 2016

Sebagai mahasiswa yang tergabung dalam organisasi kepenilitian kami sangat suka mengikuti event LKTI (Lomba Karya Tulis Ilmiah) baik yang diselenggarakan pemerintahan maupun organisasi kampus.

Selasa, 09 Agustus 2016

Narescamp atau National Research Camp merupakan sebuah kompetisi penelitian berbasis pengabdian mahasiswa tingkat nasional yang diselenggarakan oleh UKM Penelitian Universitas Negeri Semarang. Tahun ini, Narescamp sudah memasuki penyelenggaraannya di tahun ke-3.

Penyelenggaraan Narescamp pada tahun 2016 ini berlokasi di Dusun Pabelan, Kota Magelang, Jawa Tengah. Narescamp ini berbeda dengan beberapa kompetisi tingkat mahasiswa lainnya, perbedaan ini lah yang membuatmu yang masih aktif sebagai mahasiswa harus mencoba mengikuti kompetisi ini, apa saja itu, kita simak 7 alasan kenapa kamu harus ikut narescamp:

1. Mengaplikasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi Langsung ke masyarakat.

Kuliah tak hanya tentang duduk dan mendengarkan dosen saja. Belajar di kampus lain, dari orang lain dan mengaplikasikan ilmu yang kita miliki di masyarakat juga merupakan sebuah pelajaran yang tak kalah berharga dari sekadar duduk di bangku perkuliahan. Di Narescamp kamu akan merasakan bagaimana membaur di masyarakat, bersosialisasi, makan bersama, atau bahkan menginap bersama masyarakat sehingga bisa merasakan dan menemukan keluarga kedua di Desa Narescamp ini. 

     
    Gambar 1. Pendidikan Karakter Melalui Media Boneka Tangan
    2. Idemu tidak hanya berhenti di tulisan, tapi bisa langsung teraplikasikan untuk masyarakat.


    Ketika lomba untuk mahasiswa semacam lomba Essay, LKTI dan sebagainya membuat tulisanmu berhenti di hadapan dewan juri. Di Narescamp ini, selain presentasi di depan dewan juri, idemu juga bisa langsung teraplikasikan langsung ke masyarakat. Karena proposal penelitian, pendidikan atau pengabdian yang kamu tulis nantinya harus teraplikasikan di masyarakan dalam 1 hari bersama 10 finalis lainnya. Seperti membuat pelatihan pembuatan sirup terong belanda, pelatihan hidup bersih dan sehat bagi warga setempat atau memberikan pendidikan karakter bagi siswa SD setempat. Maka dari itu, idemu tak hanya berhenti di lembaran kertas, namun bisa langsung terwujudkan ke masyarakat yang harapannya bisa langsung memberikan manfaat bagi masyarakat setempat.
     
    Gambar 2. Pelatihan Pembuatan Souenir dari Serbuk Teh
    3. Menikmati Wisata Budaya Candi Borobudur yang Telah Mendunia.

    Siapa yang tak kenal Candi Borobudur, salah satu candi warisan dunia yang dalam pemugarannya banyak mendapat bantuan dari UNESCO ini pernah menjadi bagian dari 7 keajaiban dunia. Candi ini terkenal juga dengan salah satu mitos yang menyebutkan jika kamu bisa memegang tangan patung budha yang sedang bertapa maka keinginanmu bisa terkabul.

    Selain itu, di Desa Pabelan ini kamu bisa bernostalgia dengan film Ketika Cinta Bertasbih 2 karena di Pesantren Desa Pabelan ini merupakan salah satu lokasi syuting film ini. Di pesantren ini santrinya berasal dari berbagai kota di jawa tengah yang bisa kamu jadikan sebagai objek untuk mengabdi, meneliti atau mendidik disini.
    Gambar 3. Kemagahan Candi Borobudur
    4. Raih kesempatan memenangkan hadiah jutaan rupiah, menambah CV dan batu loncatan untuk mengikuti konferensi.

    Dengan mengikuti Narescamp ini, banyak pengalaman yang akan kamu dapatkan seperti memenangkan hadiah jutaan rupiah yang bisa menambah uang jajanmu. Menambah CV yang akan sangat bermanaat untuk masa depanmu serta yang paling spesial yaitu ide yang kamu aplikasikan di Narescamp hasil Mini Penelitian, Pendidikan atau Pengabdian yang telah kamu aplikasikan di desa tersebut bisa kamu submit ulang ke konferensi atau bahkan dijurnalkan. Maka dengan ini kamu akan naik level dari menjadi mahasiswa biasa-biasa saja menjadi mahasiswa luar biasa.
    Gambar 4. Penganugerahan Peneliti dan Pengabdi Terbaik

    5. Tak perlu mencari banyak rujukan ilmiah dan membaca ratusan jurnal ilmiah. Di Narescamp ide paling aplikatif untuk masyarakatlah yang biasanya lolos menjadi finalis.

    Mencari rujukan mengenai pengembangan ide untuk masyarakat memanglah penting. Namun di Narescamp yang benar-benar perlu kamu pahami adalah mengenai permasalahan yang ada di desa yang ditunjuk serta apa solusi yang paling tepat untuk desa tersebut. Makanya kamu harus benar-benar paham mengenai desa yang ditunjuk melalui video teaser di youtube yang telah dibuat panitia ataupun penjabaran keterangan desa yang telah ditulis di panduan peserta. Karena sehebat apapun ide yang kamu tulis apabila tidak realistis untuk diwujudkan atau tidak sesuai dengan apa yang diperlukan oleh warga sekitar maka idemu akan menjadi sia-sia belaka.
     
    Gambar 5. Pelatihan Pembuatan Souenir dari Jerami

    6. Berkenalan dengan kawan-kawan dari Universitas lain serta bisa berlatih mendekatkan diri dengan masyarakat desa.

    Sudah menjadi hal yang umum dan wajar ketika mengikuti kompetisi mahasiswa tingkat nasional menjadikanmu bertemu dengan kawan-kawan sepemikiran dari berbagai Universitas lain. Akan bisa menjadi pengalaman yang luar biasa karena sudah bisa dipastikan hanya mahasiswa yang hebat dan peduli dengan perkembangan masyarakat desa lah yang ada di Narescamp ini.

    Selain itu, dengan mengaplikasikan idemu langsung ke masyarakat akan mengasah kemampuan kita bersosialisasi dengan masyarakat dan beradaptasi dengan lingkungan baru.
    Gambar 6. Seluruh finalis Narescamp 2015 dari UNNES, UNDIP, IPB, UNY, UNAIR dan UIN MALIKI MALANG
      
    7. Mengetahui Potensi Desa Pabelan yang Punya Banyak Hasil Kerajinan Tangan yang Mendunia.

    Desa kecil di daerah kawasan Candi Borobudur ini merupakan salah satu desa yang menyimpan berbagai potensi yang belum banyak diketahui oleh masyarakat luas. Diantaranya banyak pengrajin bambu, gasingan, pengrajin patung, sapu rayung, banyak anak-anak, karang taruna serta orang tua yang senantiasa membutuhkan ilmu-ilmu baru dari para mahasiswa terbaik Indonesia. Selain itu, warga yang sangat ramah dan baik terhadadap pendatang menjadikan salah satu alasan bagi kami untuk memilih Desa Pabelan menjadi lokasi pelaksanaan Narescamp 2016

    So, buat kamu yang merasa berhutang tengan rakyat Indonesia (Karena biaya pendidikan kita sebagian besar di subsidi oleh masyarakat dari pajak yang dialokasikan untuk dana penidikan) dan peduli dengan perkembangan masyarakat desa buruan kirimkan ide terbaikmu untuk menjadi solusi. Panduan dan formulir Narescamp 2016 bisa diunduh di narescamp(dot)ukmpunnes(dot)com.