Senin, 14 September 2020
Dimasa pandemi ini Rapid Test dan Swab Test (Apa itu Rapid dan Swab?) menjadi lahan
bisnis baru bagi rumah sakit dan klinik kesehatan hal yang wajar dilakukan
siapapun untuk mendeteksi ada tidaknya virus corona dalam tubuh seseorang.
Protokol kesehatan semacam jaga jarak ±1
meter, pakai masker ketiga pergi kemanapun, face shield dan APD lengkap bagi
tenaga kesehatan, selalu rutin cuci tangan pakai sabun dll menjadikan pergerakan
umat manusia sangat-sangat dibatasi.
Karena Covid-19, pertengahan tahun 2020 ini sudah tidak ada
konser musik, banyak tempat wisata ditutup untuk meminimalisir terjadinya
kerumunan, dan akses ke transportasi sangat dibatasi dengan manjaraki tempat
duduknya.
Akibatnya banyak sektor usaha yang tidak bisa berjalan,
pengangguran semakin meningkat, ekonomi semakin terjun bebas, warga dibatasi
pergerakannya sehingga banyak masyarakat yang stress karena tak bisa
kemana-mana.
Salah satu strategi ‘New Normal’ yang diterapkan di
Indonesia adalah untuk menggunakan transportasi umum semacam kereta jarak jauh
dan pesawat terbang kita diwajibkan untuk melampirkan hasil rapid atau swab
test terlebih dahulu yang biaya testnya cukup mahal untuk seukuran masa pandemi
kali ini.
Sebagai seorang kontraktor, pergerakan perusahaan tempat
bekerja pun menjadi sangat dibatasi. Beberapa perusahaan yang menggunakan jasa
kami mensyaratkan untuk teknisi yang berangkat harus sudah dinyatakan aman dari
Covid-19 melalui Rapid atau Swab Test.
Untuk itulah, hari ini saya pertama kalinya harus menjalani
Rapid Test di Laboratorium Klinik Prodia. Di Sidoarjo sendiri ada beberapa
tempat yang bisa digunakan untuk melakukan test ini. Namun setelah beberapa
pertimbangan akhirnya diputuskan untuk melakukan Rapid disini.
Singkat cerita, setelah ±2 jam lebih mengantri tibalah
giliran saya untuk melakukan Rapid. Oiya, sewaktu pendaftaran bagian
resepsionist sempat mengatakan kalau metodenya yaitu metode ECLIA yang katanya lebih akurat dibanding Rapid Test. (Apa itu ECLIA test?) Saya tak
ambil pusing tentang metode tersebut karena memang saya tak punya gejala apapun
dan biaya nya yang hanya IDR 150.000 membuat saya langsung mengiyakan saja.
Sempat ditakut-takuti oleh beberapa teman, ternyata sewaktu
darah diambil tidak begitu sakit. Terus terang saya sama sekali tak melihat
jarum suntiknya karena saya memalingkan wajah ke arah sisi yang berlawanan.
Namun yang saya rasakan jarum yang masuk ke siku dalam tangan saya sangat tipis
sehingga sakitnya masih bisa diminimalisir, masih lebih sakit ketika saya
pertama melakukan scalling gigi beberapa waktu lalu, haha.
Setelah selesai, saya langsung pulang karena hasilnya baru
bisa diambil lagi nanti pukul 18.00 WIB. Singkat cerita, selepas maghrib dalam
kondisi klinik yang sudah sangat sepi saya langsung mengantri mengambil hasil
lab nya dan berikut adalah hasilnya :
Seperti dilihat diatas Alhamdulillah hasilnya adalah Non
Reaktif, alhasil saya sudah memenuhi syarat untuk berangkat ke salah satu
pabrik minyak goreng di Gresik untuk hari rabu depan.





0 komentar:
Posting Komentar