RSS
Facebook
Twitter

Senin, 14 September 2020

Senin, 14 September 2020

Dimasa pandemi ini Rapid Test dan Swab Test (Apa itu Rapid dan Swab?) menjadi lahan bisnis baru bagi rumah sakit dan klinik kesehatan hal yang wajar dilakukan siapapun untuk mendeteksi ada tidaknya virus corona dalam tubuh seseorang.  


Protokol kesehatan semacam jaga jarak ±1 meter, pakai masker ketiga pergi kemanapun, face shield dan APD lengkap bagi tenaga kesehatan, selalu rutin cuci tangan pakai sabun dll menjadikan pergerakan umat manusia sangat-sangat dibatasi.


Karena Covid-19, pertengahan tahun 2020 ini sudah tidak ada konser musik, banyak tempat wisata ditutup untuk meminimalisir terjadinya kerumunan, dan akses ke transportasi sangat dibatasi dengan manjaraki tempat duduknya.


Akibatnya banyak sektor usaha yang tidak bisa berjalan, pengangguran semakin meningkat, ekonomi semakin terjun bebas, warga dibatasi pergerakannya sehingga banyak masyarakat yang stress karena tak bisa kemana-mana.


Salah satu strategi ‘New Normal’ yang diterapkan di Indonesia adalah untuk menggunakan transportasi umum semacam kereta jarak jauh dan pesawat terbang kita diwajibkan untuk melampirkan hasil rapid atau swab test terlebih dahulu yang biaya testnya cukup mahal untuk seukuran masa pandemi kali ini.


Sebagai seorang kontraktor, pergerakan perusahaan tempat bekerja pun menjadi sangat dibatasi. Beberapa perusahaan yang menggunakan jasa kami mensyaratkan untuk teknisi yang berangkat harus sudah dinyatakan aman dari Covid-19 melalui Rapid atau Swab Test.


Untuk itulah, hari ini saya pertama kalinya harus menjalani Rapid Test di Laboratorium Klinik Prodia. Di Sidoarjo sendiri ada beberapa tempat yang bisa digunakan untuk melakukan test ini. Namun setelah beberapa pertimbangan akhirnya diputuskan untuk melakukan Rapid disini.


Singkat cerita, setelah ±2 jam lebih mengantri tibalah giliran saya untuk melakukan Rapid. Oiya, sewaktu pendaftaran bagian resepsionist sempat mengatakan kalau metodenya yaitu metode ECLIA yang katanya lebih akurat dibanding Rapid Test. (Apa itu ECLIA test?) Saya tak ambil pusing tentang metode tersebut karena memang saya tak punya gejala apapun dan biaya nya yang hanya IDR 150.000 membuat saya langsung mengiyakan saja.

Tangan Setelah ECLIA test

 

Sempat ditakut-takuti oleh beberapa teman, ternyata sewaktu darah diambil tidak begitu sakit. Terus terang saya sama sekali tak melihat jarum suntiknya karena saya memalingkan wajah ke arah sisi yang berlawanan. Namun yang saya rasakan jarum yang masuk ke siku dalam tangan saya sangat tipis sehingga sakitnya masih bisa diminimalisir, masih lebih sakit ketika saya pertama melakukan scalling gigi beberapa waktu lalu, haha.


Setelah selesai, saya langsung pulang karena hasilnya baru bisa diambil lagi nanti pukul 18.00 WIB. Singkat cerita, selepas maghrib dalam kondisi klinik yang sudah sangat sepi saya langsung mengantri mengambil hasil lab nya dan berikut adalah hasilnya :

 

Hasil Rapid Test

Seperti dilihat diatas Alhamdulillah hasilnya adalah Non Reaktif, alhasil saya sudah memenuhi syarat untuk berangkat ke salah satu pabrik minyak goreng di Gresik untuk hari rabu depan.

0 komentar:

Posting Komentar