RSS
Facebook
Twitter

Sabtu, 02 Mei 2020

3 Mei

BDAY


Seseorang pernah bilang kepadaku, Ulang tahun hanyalah soal angka, tak ada yang spesial dan tak ada bedanya dengan hari-hari lainnya. Sepertinya saya bisa mengamini hal tersebut.

Jika orang lain ingin menghabiskan waktu dengan orang paling dicintainya dihari ulang tahunnya, saya tidak. Saya ingin selalu menghabiskan waktu dengan orang yang saya cintai, setiap harinya--tidak hanya pada hari ulang tahun saja.

Jika ulang tahun diibaratkan dengan hari bahagia, sepertinya saya kurang sependapat. Hari bahagia harus datang setiap hari, dengan cara yang sesederhana mungkin.

Saya ingat betul pertama kali mendapat kue ulang tahun justru dari kawan-kawan UKMP. Walau saya tak berharap, tapi saya hampir mewek dibuatnya, untung masih bisa menahan diri.

Ada lagi teman kampus yang rela memberikan jersey AC Milan di hari ulang tahunku. Terasa sangat spesial namun ada sedikit penyesalan karena belum mampu melakukan hal serupa untuknya dikarenakan segala keterbatasan yang saya punya.

Mungkin lebih karena tak ingin kecewa dan tak ingin berharap apa-apa, makanya saya tak ingin menspesialkan hari ulang tahun. Jadi jika tak ada apa-apa pun saya tak akan kecewa, namun jika ada yang menspesialkan hari ulang tahun saya, bahagia bisa tetap saya rasakan karenanya--dari kedua opsi tersebut tak ada opsi kecewa karena ekspektasi yang tinggi.

Maka dari itu, meski saya tak menspesialkan hari ulang tahun, tapi karena kebanyakan orang lain tidak. Maka dari itu, dari sekian sedikit teman dekat yang saya punya, saya ingin berterima kasih dengan memberikan sesuatu yang istimewa di hari bahagianya-tak hanya. ulang tahun, tapi hari bahagia lainnya juga.

Ada banyak list teman yang harus saya balas budinya yang semoga saya sempat membalas setiap kebaikan mereka. Pun begitu saya masih ingin membahagiakan orang terdekatku saat ini, semoga masih diberi kesempatan.

Jumat, 01 Mei 2020

Wisuda Sarjana Pendidikan Teknik Elektro


Sebagai karyawan swasta di salah satu perusahaan kontraktor berbasis instrumentasi dan kelistrikan, saya sebagai sarjana teknik diharuskan untuk mampu berkolaborasi dengan lulusan SMK untuk berbagi tugas menyelesaikan pekerjaan dari client.

Dikarenakan perusahaan tidak memberikan perbedaan yang jelas dan kita digabungkan dalam 1 divisi yang sama namun dengan beban kerja, tugas dan rate gaji yang berbeda membuat di kantor terdapat semacam perang dingin yang membedakan golongan SMK dan golongan sarjana.

Hal ini diperparah lagi karena ada sentimen perbedaan kota yang mana karyawan lulusan SMK didominasi dari kota M, sedangkan kita yang lulusan sarjana secara kebetulan banyak yang berasal dari kota S. Walau tak semua, namun perbedaan ini semakin kentara. Kita hanya lebih sering ‘fake smile’ di depan karyawan yang lain walau dalam hati seperti ada batasan yang membuat kita saling curiga.

Nah salah satu api yang sering disulut oleh golongan lulusan SMK adalah seringkali sahabat-sahabat saya yang tidak melanjutkan ke jenjang kuliah menggunakan quote dari Najwa Shihab yang isinya “Apa arti ijazah yang bertumpuk, jika kepedulian dan kepekaan tidak ikut dipupuk” (idntimes.com) untuk dibagikan di status WhatsApp dan story Instagram mereka.

Saya yakin itu adalah sindiran untuk golongan kita karena sudah tak terhitung story tersebut muncul di status mereka, bahkan membuat saya hafal setiap katanya. Rasanya ingin memblokir atau menghide status mereka saja, namun hati kecil berkata jangan sampai sama-sama menyulut api seperti mereka yang hanya akan memperkeruh suasana.

Mereka dengan bangga memamerkan quote tersebut seakan mba Nana (sapaan akrab najwa shihab) menomor duakan Pendidikan. Padahal kita tau mba Nana itu sangat mengutamakan pendidikan terbukti dalam quote yang lain nya yang berbunyi,”Hanya pendidikan yang bisa menyelamatkan masa depan. Tanpa pendidikan, Indonesia tak mungkin bertahan.”

Boleh saja, membanggakan skill yang mereka dapat bukan dari bangku kuliah. Namun, mba Nana tentu akan lebih sepakat bahwa pendidikan ke jenjang perkuliahan itu penting. Meski perkuliahan adalah perguruan tinggi yang bisa dicapai seseorang, namun kita bisa belajar dari berbagai hal termasuk pengalaman. Hal ini didukung dengan quote Najwa Shihab lainnya yang berbunyi, “Belajar tentu keharusan yang tak boleh diabaikan, namun merugilah jika disempitkan semata perkuliahan”.

Salah kaprah jika dari quote tersebut banyak diartikan sempit dengan hanya mengambil kalimat pertamanya saja yaitu,”Apa artinya ijazah yang bertumpuk?”  sehingga memojokkan para sarjana. Memang banyak sarjana yang menganggur, namun dari lulusan SMA/ SMK juga tak kalah banyak.

Supaya lebih fair, mari kita tengok data dari BPS terbaru tahun 2019 yang mana Kepala Badan Pusat Statistik mengatakan, tingkat pengangguran terbuka (TPT) didominasi oleh lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebesar 10,42 persen dari total 7,05 juta orang. Selain SMK, SMA menempati peringkat kedua dengan presentase 7,92 persen, diikuti diploma I/II/III dengan 5,67 persen. Sedangkan Universitas ‘hanya’ menduduki peringkat keempat dengan presentase 5,67 persen (kompas.com).

Di usia yang sama, mungkin lulusan SMA/SMK sudah punya lebih banyak pengalaman di lapangan. Namun dengan belajar di bangku perkuliahan harusnya bisa mempersingkat waktu 4 tahun kuliah terkonversi menjadi setara 10 tahun bekerja dari berbagai teori, praktek bahkan skiripsi yang telah ditempuh. Maka tak jarang, berdasarkan itulah lulusan sarjana meski tak punya pengalaman, namun langsung diberi kesempatan menduduki posisi yang lebih tinggi.

Nah, bukan bermaksud menmojokkan golongan SMK/SMA. Kalau kalian memang merasa punya kemampuan yang baik, sudah punya banyak pengalaman serta tabungan sebaiknya juga melanjutkan juga ke perguruan tinggi. Jika kalian tetap berada ditahap itu, yang paling diuntungkan tentu para bos-bos kalian yang bisa seenaknya membayar gaji tak jauh dari UMR. Kalau mau naik level, naikkan nilai tawar kalian dulu dengan menambah nama belakang kalian dengan gelar sarjana.

Sekarang adalah eranya kolaborasi, bukan lagi era kompetisi. Sudah lah tak usah mencoba membanding-bandingkan mana yang lebih hebat yaitu apakah lulusan SMK atau lulusan perguruan tinggi. Sudah saatnya berhenti menyibukkan diri untuk menjatuhkan satu sama lainnya, saatnya bahu membahu menjalankan masing-masing peran yang dilakoni dengan sebaik mungkin.

Sidoarjo, 2 Mei 2020
Selamat Hari Pendidikan Nasional 2020
#HariPendidikanNasional #Hardiknas2020

Terdampak Covid-19

Kalau ini bukan akhir dunia, fenomena Corona (Covid-19) sepertinya akan menjadi catatan sejarah tersendiri bagi dunia secara umum dan bagi Indonesia secara khusus. Di Indonesia sendiri, terakhir kali Negara ini mengalami krisis ekonomi yang hampir menghentikan semua aktifitas masyarakat adalah Krisis tahun 98 (lihat dampak krisis 98 disini). Mungkin ini menjadi ke 2 kalinya setelah krisis 98 setidaknya dalam seperempat abad terakhir ini.  

Beberapa dampak paling kentara bagi masyarakat Indonesia adalah per 24 April 2020 hingga batas waktu yang belum ditentukan sudah tidak ada lagi moda transportasi umum yang beroperasi, baik itu pesawat, kereta, bus semuanya sudah tidak beroperasi. Padahal ini sudah masuk bulan puasa dan pemerintah sudah mewanti-wanti agar masyarakat yang berada di jabodetabek untuk tidak mudik.

Meski saya merantau di jatim, sepertinya juga terancam tidak bisa mudik karena dikhawatirkan menularkan keluarga yang ada di rumah dan dibeberapa kota sudah ada polisi yang berjaga untuk mengembalikan warga yang berniat mudik. Pun kalau sudah bisa kembali kesini harus dikarantina 14 hari dahulu sesuai protokol penganganan corona yang gejalanya akan muncul dalam rentang waktu 14 hari. Secara tidak langsung, pihak kantor juga sudah melarang agar karyawannya tidak keluar kota dulu, bahkan Sidoarjo-Malang pun tak diijinkan.

Selain itu, di Surabaya-Sidoarjo-Gresik sendiri sudah mulai muncul SK Gubernur tentang pelarangan adanya kerumunan warga (berjualanb, beribadah dll) dan diterapkannya jam malam antara jam 21.00-04.00 WIB dilarang keluar rumah yang semakin membatasi gerak warga dan terutama berdampak besar pada masyarakat kecil yang mencari makan dari hari ke hari karena sudah tak bisa berjualan lagi.

Sebuah pilihan sulit karena kalau keluar rumah akan terancam terpapar corona hingga membahayakan nyawa mereka sendiri. Pun kalau tidak keluar juga bisa kelaparan karena tak mendapat uang yang biasanya hanya bisa didapatkan dari hari ke hari. Tapi memang kondisinya seperti ini, semuanya sudah saling curiga, mau memaksakan berjualan pun warga sudah ragu adanya paparan corona dan lebih banyak memilih memasak sendiri. Situasi seperti ini membuat perekomomian masyarakat mengengah kebawah hancur sehancur-hancurnya.

Kantor Tutup Karena Covid-19
Secara pribadi saya tak begitu terdampak karena kantor saya saat ini yang bahkan sudah menerapkan semi WFH (Work From Home) masih bisa survive walau banyak orderan yang tertunda namun belum ada karyawan yang ter-PHK seperti pabrik-pabrik di sebelah yang memang tak bisa dipungkiri dalam masa seperti ini daya beli masyarakat menjadi menurun drastis.

Minggu, 19 April 2020


Sepak bola adalah salah satu olahraga terpopuler di Indonesia. Baik itu sepak bola nasional hingga sepak bola eropa sudah terdapat kelompok supporternya sendiri-sendiri. Untuk supporter sepak bola nasional kita mungkin bisa berkontribusi dengan membeli tiket dan menonton langsung pertandingannya di stadion terdekat, namun bila menjadi supporter klub sepak bola dari luar negeri apakah dengan melakukan nonton bareng (nobar) saja cukup?

Minggu, 29 Maret 2020

Pesona Hutan Pinus Pengger

Bulan lalu, sebelum gencar-gencarnya Covid-19 mewabah ke seluruh penjuru negeri, kita menyempatkan untuk berlibur ke Jogja lagi. Kali ini salah satu destinasi yang dituju adalah Hutan Pinus Pengger.

Perjalanan menuju ke tempat ini kami tempuh selama kurang lebih 40 menit menggunakan sepeda motor yang kami sewa seharga 60k pernah hari dari SINI.

Sesampainya disana, tiket masuknya cukup murah. Hanya dengan merogoh kocek senilai 7k untuk parkir sepeda motor + tiket masuk untuk 2 orang kita sudah bisa masuk ke lokasi wisata ini.

Seperti hutan pinus pada umumnya disini ditumbuhi banyak pohon pinus yang menjulang tinggi. Cukup teduh untuk menjadi tempat persinggahan sembari bersantai dan melepas penat.

Kami pun menyempatkan untuk memutari beberapa spot foto yang tersusun dari semacam akar dan pohon pinus yang menjulang tinggi. Berikut beberapa diantaranya;
Hutan Pinus Pengger

Selasa, 11 Februari 2020

Terima Kasih Gresik


Gresik dikenal sebagai kota santri yang mana disini terdapat 2 makam walisongo yaitu Sunan Giri dan Sunan Maulana Malik Ibrahim. Selain itu, Gresik juga dikenal sebagai kota industri karena terdapat banyak pabrik beroperasi dan mengembangkan bisnisnya disini.

Senin, 09 Desember 2019

Bus Malam


Buat saya pribadi, transportasi umum paling idaman untuk seorang yang sering sekali ketinggalan kereta perantau ulung seperti saya adalah bus umum AKAP (Antar Kota Antar Provinsi) jurusan Surabaya - Semarang.

Kelebihannya tentu karena tingkat fleksibelitasnya yang tinggi, sehingga kita bisa naik dan turun di mana saja. Sangat cocok untuk saya yang berasal dari Kabupaten Demak. Sebuah kota yang lokasinya cukup jauh dari stasiun apalagi bandara.