RSS
Facebook
Twitter

Jumat, 01 Mei 2020

Wisuda Sarjana Pendidikan Teknik Elektro


Sebagai karyawan swasta di salah satu perusahaan kontraktor berbasis instrumentasi dan kelistrikan, saya sebagai sarjana teknik diharuskan untuk mampu berkolaborasi dengan lulusan SMK untuk berbagi tugas menyelesaikan pekerjaan dari client.

Dikarenakan perusahaan tidak memberikan perbedaan yang jelas dan kita digabungkan dalam 1 divisi yang sama namun dengan beban kerja, tugas dan rate gaji yang berbeda membuat di kantor terdapat semacam perang dingin yang membedakan golongan SMK dan golongan sarjana.

Hal ini diperparah lagi karena ada sentimen perbedaan kota yang mana karyawan lulusan SMK didominasi dari kota M, sedangkan kita yang lulusan sarjana secara kebetulan banyak yang berasal dari kota S. Walau tak semua, namun perbedaan ini semakin kentara. Kita hanya lebih sering ‘fake smile’ di depan karyawan yang lain walau dalam hati seperti ada batasan yang membuat kita saling curiga.

Nah salah satu api yang sering disulut oleh golongan lulusan SMK adalah seringkali sahabat-sahabat saya yang tidak melanjutkan ke jenjang kuliah menggunakan quote dari Najwa Shihab yang isinya “Apa arti ijazah yang bertumpuk, jika kepedulian dan kepekaan tidak ikut dipupuk” (idntimes.com) untuk dibagikan di status WhatsApp dan story Instagram mereka.

Saya yakin itu adalah sindiran untuk golongan kita karena sudah tak terhitung story tersebut muncul di status mereka, bahkan membuat saya hafal setiap katanya. Rasanya ingin memblokir atau menghide status mereka saja, namun hati kecil berkata jangan sampai sama-sama menyulut api seperti mereka yang hanya akan memperkeruh suasana.

Mereka dengan bangga memamerkan quote tersebut seakan mba Nana (sapaan akrab najwa shihab) menomor duakan Pendidikan. Padahal kita tau mba Nana itu sangat mengutamakan pendidikan terbukti dalam quote yang lain nya yang berbunyi,”Hanya pendidikan yang bisa menyelamatkan masa depan. Tanpa pendidikan, Indonesia tak mungkin bertahan.”

Boleh saja, membanggakan skill yang mereka dapat bukan dari bangku kuliah. Namun, mba Nana tentu akan lebih sepakat bahwa pendidikan ke jenjang perkuliahan itu penting. Meski perkuliahan adalah perguruan tinggi yang bisa dicapai seseorang, namun kita bisa belajar dari berbagai hal termasuk pengalaman. Hal ini didukung dengan quote Najwa Shihab lainnya yang berbunyi, “Belajar tentu keharusan yang tak boleh diabaikan, namun merugilah jika disempitkan semata perkuliahan”.

Salah kaprah jika dari quote tersebut banyak diartikan sempit dengan hanya mengambil kalimat pertamanya saja yaitu,”Apa artinya ijazah yang bertumpuk?”  sehingga memojokkan para sarjana. Memang banyak sarjana yang menganggur, namun dari lulusan SMA/ SMK juga tak kalah banyak.

Supaya lebih fair, mari kita tengok data dari BPS terbaru tahun 2019 yang mana Kepala Badan Pusat Statistik mengatakan, tingkat pengangguran terbuka (TPT) didominasi oleh lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebesar 10,42 persen dari total 7,05 juta orang. Selain SMK, SMA menempati peringkat kedua dengan presentase 7,92 persen, diikuti diploma I/II/III dengan 5,67 persen. Sedangkan Universitas ‘hanya’ menduduki peringkat keempat dengan presentase 5,67 persen (kompas.com).

Di usia yang sama, mungkin lulusan SMA/SMK sudah punya lebih banyak pengalaman di lapangan. Namun dengan belajar di bangku perkuliahan harusnya bisa mempersingkat waktu 4 tahun kuliah terkonversi menjadi setara 10 tahun bekerja dari berbagai teori, praktek bahkan skiripsi yang telah ditempuh. Maka tak jarang, berdasarkan itulah lulusan sarjana meski tak punya pengalaman, namun langsung diberi kesempatan menduduki posisi yang lebih tinggi.

Nah, bukan bermaksud menmojokkan golongan SMK/SMA. Kalau kalian memang merasa punya kemampuan yang baik, sudah punya banyak pengalaman serta tabungan sebaiknya juga melanjutkan juga ke perguruan tinggi. Jika kalian tetap berada ditahap itu, yang paling diuntungkan tentu para bos-bos kalian yang bisa seenaknya membayar gaji tak jauh dari UMR. Kalau mau naik level, naikkan nilai tawar kalian dulu dengan menambah nama belakang kalian dengan gelar sarjana.

Sekarang adalah eranya kolaborasi, bukan lagi era kompetisi. Sudah lah tak usah mencoba membanding-bandingkan mana yang lebih hebat yaitu apakah lulusan SMK atau lulusan perguruan tinggi. Sudah saatnya berhenti menyibukkan diri untuk menjatuhkan satu sama lainnya, saatnya bahu membahu menjalankan masing-masing peran yang dilakoni dengan sebaik mungkin.

Sidoarjo, 2 Mei 2020
Selamat Hari Pendidikan Nasional 2020
#HariPendidikanNasional #Hardiknas2020

0 komentar:

Posting Komentar