| Wisuda Sarjana Pendidikan Teknik Elektro |
Sebagai karyawan swasta di salah satu perusahaan kontraktor
berbasis instrumentasi dan kelistrikan, saya sebagai sarjana teknik diharuskan
untuk mampu berkolaborasi dengan lulusan SMK untuk berbagi tugas menyelesaikan
pekerjaan dari client.
Dikarenakan perusahaan tidak memberikan perbedaan yang jelas
dan kita digabungkan dalam 1 divisi yang sama namun dengan beban kerja, tugas
dan rate gaji yang berbeda membuat di kantor terdapat semacam perang dingin
yang membedakan golongan SMK dan golongan sarjana.
Hal ini diperparah lagi karena ada sentimen perbedaan kota
yang mana karyawan lulusan SMK didominasi dari kota M, sedangkan kita yang
lulusan sarjana secara kebetulan banyak yang berasal dari kota S. Walau tak
semua, namun perbedaan ini semakin kentara. Kita hanya lebih sering ‘fake smile’ di depan karyawan yang lain
walau dalam hati seperti ada batasan yang membuat kita saling curiga.
Nah salah satu api yang sering disulut oleh golongan lulusan
SMK adalah seringkali sahabat-sahabat saya yang tidak melanjutkan ke jenjang
kuliah menggunakan quote dari Najwa Shihab yang isinya “Apa arti ijazah yang
bertumpuk, jika kepedulian dan kepekaan tidak ikut dipupuk” (idntimes.com)
untuk dibagikan di status WhatsApp dan story Instagram mereka.
Saya yakin itu adalah sindiran untuk golongan kita karena
sudah tak terhitung story tersebut muncul di status mereka, bahkan membuat saya
hafal setiap katanya. Rasanya ingin memblokir atau menghide status mereka saja,
namun hati kecil berkata jangan sampai sama-sama menyulut api seperti mereka
yang hanya akan memperkeruh suasana.
Mereka dengan bangga memamerkan quote tersebut seakan mba
Nana (sapaan akrab najwa shihab) menomor duakan Pendidikan. Padahal kita tau mba
Nana itu sangat mengutamakan pendidikan terbukti dalam quote yang lain nya yang
berbunyi,”Hanya pendidikan yang bisa menyelamatkan masa depan. Tanpa
pendidikan, Indonesia tak mungkin bertahan.”
Boleh saja, membanggakan skill yang mereka dapat bukan dari
bangku kuliah. Namun, mba Nana tentu akan lebih sepakat bahwa pendidikan ke
jenjang perkuliahan itu penting. Meski perkuliahan adalah perguruan tinggi yang
bisa dicapai seseorang, namun kita bisa belajar dari berbagai hal termasuk
pengalaman. Hal ini didukung dengan quote Najwa Shihab lainnya yang berbunyi,
“Belajar tentu keharusan yang tak boleh diabaikan, namun merugilah jika
disempitkan semata perkuliahan”.
Salah kaprah jika dari quote tersebut banyak diartikan
sempit dengan hanya mengambil kalimat pertamanya saja yaitu,”Apa artinya ijazah
yang bertumpuk?” sehingga memojokkan
para sarjana. Memang banyak sarjana yang menganggur, namun dari lulusan SMA/
SMK juga tak kalah banyak.
Supaya lebih fair, mari kita tengok data dari BPS terbaru
tahun 2019 yang mana Kepala Badan Pusat Statistik mengatakan, tingkat
pengangguran terbuka (TPT) didominasi oleh lulusan Sekolah Menengah Kejuruan
(SMK) sebesar 10,42 persen dari total 7,05 juta orang. Selain SMK, SMA menempati
peringkat kedua dengan presentase 7,92 persen, diikuti diploma I/II/III dengan
5,67 persen. Sedangkan Universitas ‘hanya’ menduduki peringkat keempat dengan
presentase 5,67 persen (kompas.com).
Di usia yang sama, mungkin lulusan SMA/SMK sudah punya lebih
banyak pengalaman di lapangan. Namun dengan belajar di bangku perkuliahan
harusnya bisa mempersingkat waktu 4 tahun kuliah terkonversi menjadi setara 10
tahun bekerja dari berbagai teori, praktek bahkan skiripsi yang telah ditempuh.
Maka tak jarang, berdasarkan itulah lulusan sarjana meski tak punya pengalaman,
namun langsung diberi kesempatan menduduki posisi yang lebih tinggi.
Nah, bukan bermaksud menmojokkan golongan SMK/SMA. Kalau
kalian memang merasa punya kemampuan yang baik, sudah punya banyak pengalaman
serta tabungan sebaiknya juga melanjutkan juga ke perguruan tinggi. Jika kalian
tetap berada ditahap itu, yang paling diuntungkan tentu para bos-bos kalian
yang bisa seenaknya membayar gaji tak jauh dari UMR. Kalau mau naik level,
naikkan nilai tawar kalian dulu dengan menambah nama belakang kalian dengan
gelar sarjana.
Sekarang adalah eranya kolaborasi, bukan lagi era kompetisi.
Sudah lah tak usah mencoba membanding-bandingkan mana yang lebih hebat yaitu
apakah lulusan SMK atau lulusan perguruan tinggi. Sudah saatnya berhenti
menyibukkan diri untuk menjatuhkan satu sama lainnya, saatnya bahu membahu
menjalankan masing-masing peran yang dilakoni dengan sebaik mungkin.
Sidoarjo, 2 Mei 2020
Selamat Hari Pendidikan Nasional 2020
#HariPendidikanNasional #Hardiknas2020



0 komentar:
Posting Komentar