RSS
Facebook
Twitter

Jumat, 22 Mei 2020


Ungkapan ini ternyata benar adanya karena tertawa itu ada tempatnya, tertawa itu ada waktunya, tak bisa disembarang waktu dan tempat.

Kenapa tertawa ada tempatnya? Contohnya kita tidak mungkin tertawa atau bersenda gurau di tempat pemakaman seseorang karena tidak menghargai keluaga yang sedang bersedih ditinggal orang terdekatnya.

Kenapa tertawa ada waktunya? Contohnya kita tidak mungkin tertawa atau bersenda gurau diwaktu meeting penting dengan atasan saat membahas sesuatu yang penting karena ya memang bukan waktunya saja.

Namun, kita semua tentu sepakat kalau tertawa itu baik karena tertawa itu bisa meningkatkan imunitas terutama untuk membuat diri lebih kuat ditengah kepungan pandemi Covid19 ini.

Saya pikir, tiap individu punya selera humor masing-masing yang tak bisa digeneralkan. Pasti kita pernah mengalami kejadian yang niatnya hanya bercanda untuk membuat orang lain tertawa namun yang terjadi justru orang lain jadi tersinggung.

Padahal, komedi itu sudah pasti menyinggung. Hanya saja standar keberterimaan kita sekarang yang mulai menurun menjadikan banyak orang sekarang mudah tersinggung.

Tidak apa tersinggung, tapi tentu kita punya cara yang lebih tepat untuk menunjukkan ketersinggungan kita yaitu dengan cara TABAYYUN, bukan malah memendam dalam hati atau malah marah-marah meluapkan ketersinggungan kita.

Buat saya marah adalah bentuk kelemahan karena marah berarti tak mampu menahan diri. Salah satu bentuk pertahanan diri adalah dengan bersabar.

Pilih sabar atau marah?

Jika diibaratkan dengan gambar diatas, dalam menghadapi ketersinggungan kita cuma 2 pilihan yaitu sabar yang berada di sisi kiri yang mana kita hanya perlu mengeluarkan enegi sebesar 0-50% sedangkan marah yang berada disisi kanan adalah energi yang kita keluarkan sebesar 51-100%.

Beberapa orang bilang, “sabar itu ada batasnya”. Tapi saya kurang sependapat karena sabar itu ya sabar aja. Kalau sudah melewati batas kesabaran berarti ya sedang marah. Mungkin kita pernah sabar namun saat mengatakan “Sabar ada batasnya” bisa dipastikan orang tersebut sedang marah, walau mungkin pernah bersabar namun tidak lama.

Kita hanya bisa memilih untuk sabar atau marah. Kalau dibilang sabar itu ada batasnya, berarti itu bukan sabar, berarti kalian sudah masuk ke sisi kanan yaitu marah. Ibarat kata, titik didih orang berbeda-beda, ada yang bisa menahan tetap dibawah 50% ada yang tidak bisa.

Lomba di Universitas Tanjungpura

Selama menjadi mahasiswa, setidaknya saya sudah berkeliling 4 pulau besar di Indonesia yaitu Sumatra yang diwakili ke Universitas Riau dan hampir ke UNP Padang namun tidak jadi berangkat karena masalah dana, kemudian ke Kalimantan yang diwakili ke Universitas Tanjungpura, lalu ke Sulawesi yang diwakili ke Universitas Hasanuddin dan juga gagal berangkat ke Manado karena dana tombokan yang begitu besar dan yang terakhir tentu pulau yang saya tinggali yaitu Jawa yang diwakili pernah ke Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, ITS Surabaya, Untirta Banten, PKTJ Tegal, Kementrian Perhubungan Jakarta dan tentu saja di kampus sendiri yaitu Universitas Negeri Semarang. Untuk dijawa, seingat saya hanya gagal berangkat sebanyak 2 kali yaitu ke Universitas Brawijaya untuk ke 2 kalinya dan ke Universitas Telkom Bandung.

Kamis, 21 Mei 2020

Catur, Melukis dan Bahasa Inggris



Masih tentang bernostalgia untuk mengisi waktu luang dimasa pandemi Covid-19 yang membuat kita dipaksa #dirumahaja. Kali ini saya ingin kembali menuangkan isi hati mengenai catur dan melukis. 2 hal lain selain sepak bola yang mampu mengubah hidup saya.

Handi kecil adalah bocah pemalu yang tak berani coba-coba. Terus terang saya belajar catur awalnya dari mengamati orang saja bagaimana pion, benteng, kuda dll bergerak. Namun ada 1 kejadian yang benar-benar mengubah dan meningkatkan 89% kemampuan saya bermain catur yaitu ketika diberi tahu oleh Pakde Kus mengenai trik mengalahkan lawan hanya dengan 4 kali gerakan (Kalau ingin tahu caranya membuat skakmat lawan hanya dari beberapa langkah bisa dilihat DISINI).

Dari ajaran itu saya berhasil mengalahkan lebih dari 80% lawan saya ketika lomba catur tingkat RT. Sisanya adalah improvisasi bahwa catur memang permainan strategi, kita harus mampu merencanakan 3 sampai 4 langkah kedepan bagaimana cara men-skakmat raja dan juga harus memprediksi 3 sampai 4 langkah gerakan lawan yang akan men-skakmat kita. Kelemahan saya adalah saya selalu terburu-buru ingin menskakmat lawan hingga tidak memperdulikan gerakan lawan. Misal saya sudah menemukan cara menskakmat dengan 4 langkah, namun karena terlalu bersemangat hingga tanpa saya sadari saya dulu lah yang terkena skakmat hanya dari 3 langkah. Namun, sebagai pemula saya cukup bangga karena waktu itu setidaknya saya selalu masuk 3 besar dalam lomba catur tingkat RT selama 3 tahun berturut-turut sebelum lomba catur benar-benar dihapuskan karena tak ada warga yang punya papan catur.

Berlanjut ke melukis, sebenarnya saya juga tak begitu berbakat melukis. Namun satu hal yang mengubah hidup saya adalah ketika Pakde Him mengajarkan teknik melukis dan mewarnai dengan menggunakan crayon. Lukisan saya tak begitu bagus namun saya hanya tau cara mewarnai dengan crayon yang waktu itu menggunakan teknik gradasi.  Dari melukis saya banyak sekali mendapat penghargaan, dari tingkat RT, tingkat dabin iv dan tingkat kabupaten juga pernah. Bahkan puncaknya saya pernah mewakili kota Demak dalam porseni tingkat Jawa Tengah. Sebelum mewakili, itu saya menjadi juara 2 tingkat kabupaten Demak. Seperti yang saya bilang diawal tadi, saya tak punya bakat melukis, hanya tau trik mewarnai yang bagus saja. Dalam waktu durasi melukis selama 2 jam itu, si juara 1 tadi menyelesaikan lukisannya dalam waktu 45 menit + 10 menit menebali menggunakan spidol dan sisanya digunakan untuk mewarnai. Sedangkan saya perlu menghabiskan 1 jam 30 menit untuk menggambar dan 30 menit untuk mewarnai, hal ini yang membuat saya minder dan menyadari bahwa saya memang tidak berbakat. Maka dari itu, meskipun telah banyak memberi saya gelar juara, saya tak begitu mau men-seriusi melukis dan beruntung di masa kuliah saya bisa menemukan kegiatan lain yaitu “menulis” yang bisa menjadi ladang selanjutnya dalam menambah koleksi piagam penghargaan.

Sedikit mundur kebelakang mengenai bahasa inggris, juga Pakde Him yang mengenalkan saya dengan bahasa inggris. Metode yang diajarkan cukup simple, hanya mengajari Grammar dan disuruh menghafal 5 kata irregular setiap les sore sehingga membuat saya menjadi siswa paling menonjol di kelas mengenai pelajaran bahasa inggris saat itu. Sebagai gambaran setiap ulangan saya bisa mendapat nilai 70-80, tidak terlalu tinggi memang, namun tetap menjadi siswa yang paling diingat guru karena teman-teman lain rata-rata hanya mendapat nilai 40-50. Memang bukan saya yang terlalu pintar, hanya kebetulan diwaktu SMP itu teman-teman saya yang lain tak begitu memfokuskan bahasa inggris sebagai mata pelajaran yang diseriusi, mungkin salah satu alasannya karena bahasa inggris tak masuk dalam maple Ujian Nasional. Jujur, saya sebenarnya tidak 100% memahami Grammar, saya hanya mengandalkan intuisi saja yang membuat ilmu itu terus memudar seiring berjalannya waktu. Terutama diwaktu akhir-akhir masa SMA yang terus terang saya mulai malas belajar untuk UN. Namun beruntungnya saya masih punya semangat untuk membelajari soal-soal SNMPTN sehingga waktu itu Alhamdulillah saya masih bisa masuk PTN.

Agak meloncat-loncat memang, saya tak pernah menseriusi 1 bidang pasti untuk didalami sehingga semua ilmu yang saya punya hanya setengah-setengah saja. Namun dari kesemuanya itu adalah sekian sedikit hal yang bisa membuat survive dan merasa berguna. Untuk itu, kalian harus tetap berusaha menemukan apa yang membuat kalian merasa berguna. Jangan pernah lelah untuk mencoba seperti kata Pak Habibie, “Setiap orang punya jatah gagal, habiskan jatah gagalmu sewaktu muda, agar kamu bisa meraih kesuksesan secepat mungkin”.

Rabu, 20 Mei 2020

Sepak Bola, PSIS Semarang dan AC Milan


Handi kecil adalah bocah kecil cupu, suka menangis dan juga mudah pingsan ketika upacara bendera. Maka dari itu, aktivitas olahraga/ fisik bukan hal yang paling disukai pada masa SD. Namun pertengahan kelas 6 SD ketika saya hanya sekedar ‘formalitas’ berdiri di depan gawang ketika bermain sepak bola bersama teman sekelas lainnya, saya pertama kali mendapat pujian dari teman-teman karena beberapa kali melakukan penyelamatan di depan gawang. Hal ini adalah momen pertama yang membuat saya mulai bisa menikmati bermain sepak bola, sebagai pemain belakang.

Sewaktu SD itu pula, teman-teman sering bercerita bagaimana bangganya mereka menonton langsung pertandingan PSIS Semarang langsung dari stadion, yang kebetulan waktu itu PSIS memang sedang hebat-hebatnya dengan menjadi Runner-Up Liga Indonesia bersama pemain asing popular saat itu yaitu DE PORRAS DAN ORTIZ yang berasal dari Italia yang sepertinya masih sangat dicintai supporter hingga saat ini. Momen itu juga yang membuat saya penasaran dan kemudian juga bisa menikmati menonton pertandingan sepak bola meski hanya dari layar kaca. Iya sepertinya saya bisa mencintai klub ini, semakin yakin ketika saya baru diberi kesempatan menonton langsung pertandingan PSIS ketika kuliah di Semarang sekitar 5 tahun dari awal saya menontonnya dari layar kaca. Saya jatuh cinta dan candu dengan atmosfer di dalam stadion, bagaimana supporter saling BERADU NYANYIAN DAN KOREOGRAFI untuk mendukung masing-masing klub kebanggaannya.

Tak jauh dari itu, berlangsunglah moment Piala Dunia 2006 yang merupakan pertama kali saya benar-benar menonton pertandingan sepak bola luar secara utuh. Kebetulan waktu itu ada beberapa pertandingan yang mulai pukul 20.00 WIB sehingga masih bisa saya melihat bersama bapak tanpa harus begadang. Di akhir turnamen secara mengejutkan Italia berhasil menjadi juara dunia mengalahkan Prancis. Kemenangan itu sedikit kontroversial karena terdapat moment Zidane dikartu merah langsung setelah MENANDUK DADA MATERAZZI karena terprovokasi oleh perkataannya. Saya cukup menyesalkan kejadian itu karena nama Zidane yang merupakan pesepakbola muslim yang memang berbakat luar biasa jadi tercoreng karena ulah kejadian itu. Namun saya tak bisa sepenuhnya menyalahkan Materazzi karena provokasi (selama tidak ketahuan wasit) itu tidaklah melanggar rule of the game, hanya memang menodai fair play saja dan saya juga sering memprovokasi lawan –tapi tidak dengan perkataan seperti yang dilakukan materazzi, hanya dengan cara menarik baju atau melakukan dorongan kecil hanya untuk membuat emosi lawan (tanpa ada niat menciderai) dan hanya berniat untuk mengacaukan permainannya- ketika bermain futsal haha. Atas dasar itu, meski mendukung AC Milan, saya tak begitu menjadi supporter italia (seperti kebanyakan pecinta liga italia lainnya). Saya hanya mengikuti beberapa pertandingan timnas italia karena sekedar ingin melihat pemain AC Milan yang bermain di timnas Italia.

Percaya atau tidak, awal mula saya jatuh cinta pada AC Milan adalah karena fenomena jatuh cinta pada pandangan pertama. Sesimple itu memang, tak ada alasan apapun. Hanya karena 2 kali saya terbangun di dini hari, menonton televisi dan melihat seragam kebanggaan merah hitam itu. Jujur saja waktu itu saya kebingungan, bagaimana bisa ada pemain timnas italia dan brasil bermain dalam 1 klub. Secupu itu memang waktu itu, namun dimomen ke 3 kalinya saya kembali tak sengaja terbangun di dini hari dan kembali menonton AC Milan ketika melawan BAYERN MUNCHEN, saat itulah saya memutuskan untuk menjadi Milanisti.

Ke 4 moment itulah yang membuat saya menyukai menonton, bermain sepak bola, PSIS Semarang dan AC Milan. Anehnya kesemua moment yang mengubah alur hidup saya itu terjadi di tahun 2006. Kenapa bisa suka dan bahkan bisa bertahan sampai sekarang? Simple, karena semua hal itu bisa membuat darah saya mendidih dan merasakan adrenalin yang membuat saya bersemangat melakukan hal apapun.

Saya tak pernah sedikitpun menyesal dengan masa muda saya. Sebelum menyukai sepak bola saya sudah kenyang dengan berbagai permainan tradisional yang bahkan adik kandung saya tak bisa merasakan karena cepatnya perubahan kultur sosial budaya. Meskipun tinggal di perumahan namun masa kecil saya sempat merasakan bermain lompat tali, petak umpet, kelereng, gobak sodor, layangan, engklek dan masih banyak lainnya. Setelah masa itu terlewat, saya beruntung menemukan Sepak Bola yang membuat saya ‘diakui’ bahwa saya bukan lagi bocah cupu tapi saya punya sesuatu yang bisa diandalkan.

Kemampuan sepak bola saya diasah dari lapangan plester yang sering membuat kaki kapalan atau kuku terkelupas. Sebelum kelas 6 SD, di kampung saya bermain sepak bola dengan teman-teman yang kesemua usianya diatas saya yang tentu membuat saya sulit berkembang. Namun masuk masa SMP adalah masa transisi menjadi saya yang bermain dengan teman yang usianya dibawah saya. Dari sinilah kemampuan sepak bola saya berkembang pesat. Saya jadi bisa mempraktekkan drible bola ala Ricardo Kaka’ dan Tendangan melengkung ala Andrea Pirlo, walau kini diantara teman-teman futsal saya lebih dikenal mempunyai cara bermain dan mencetak gol mirip Pippo Inzaghi. 

Juara 2 Porsaklas Futsal Teknik Elektro 2014

Sabtu, 02 Mei 2020

3 Mei

BDAY


Seseorang pernah bilang kepadaku, Ulang tahun hanyalah soal angka, tak ada yang spesial dan tak ada bedanya dengan hari-hari lainnya. Sepertinya saya bisa mengamini hal tersebut.

Jika orang lain ingin menghabiskan waktu dengan orang paling dicintainya dihari ulang tahunnya, saya tidak. Saya ingin selalu menghabiskan waktu dengan orang yang saya cintai, setiap harinya--tidak hanya pada hari ulang tahun saja.

Jika ulang tahun diibaratkan dengan hari bahagia, sepertinya saya kurang sependapat. Hari bahagia harus datang setiap hari, dengan cara yang sesederhana mungkin.

Saya ingat betul pertama kali mendapat kue ulang tahun justru dari kawan-kawan UKMP. Walau saya tak berharap, tapi saya hampir mewek dibuatnya, untung masih bisa menahan diri.

Ada lagi teman kampus yang rela memberikan jersey AC Milan di hari ulang tahunku. Terasa sangat spesial namun ada sedikit penyesalan karena belum mampu melakukan hal serupa untuknya dikarenakan segala keterbatasan yang saya punya.

Mungkin lebih karena tak ingin kecewa dan tak ingin berharap apa-apa, makanya saya tak ingin menspesialkan hari ulang tahun. Jadi jika tak ada apa-apa pun saya tak akan kecewa, namun jika ada yang menspesialkan hari ulang tahun saya, bahagia bisa tetap saya rasakan karenanya--dari kedua opsi tersebut tak ada opsi kecewa karena ekspektasi yang tinggi.

Maka dari itu, meski saya tak menspesialkan hari ulang tahun, tapi karena kebanyakan orang lain tidak. Maka dari itu, dari sekian sedikit teman dekat yang saya punya, saya ingin berterima kasih dengan memberikan sesuatu yang istimewa di hari bahagianya-tak hanya. ulang tahun, tapi hari bahagia lainnya juga.

Ada banyak list teman yang harus saya balas budinya yang semoga saya sempat membalas setiap kebaikan mereka. Pun begitu saya masih ingin membahagiakan orang terdekatku saat ini, semoga masih diberi kesempatan.

Jumat, 01 Mei 2020

Wisuda Sarjana Pendidikan Teknik Elektro


Sebagai karyawan swasta di salah satu perusahaan kontraktor berbasis instrumentasi dan kelistrikan, saya sebagai sarjana teknik diharuskan untuk mampu berkolaborasi dengan lulusan SMK untuk berbagi tugas menyelesaikan pekerjaan dari client.

Dikarenakan perusahaan tidak memberikan perbedaan yang jelas dan kita digabungkan dalam 1 divisi yang sama namun dengan beban kerja, tugas dan rate gaji yang berbeda membuat di kantor terdapat semacam perang dingin yang membedakan golongan SMK dan golongan sarjana.

Hal ini diperparah lagi karena ada sentimen perbedaan kota yang mana karyawan lulusan SMK didominasi dari kota M, sedangkan kita yang lulusan sarjana secara kebetulan banyak yang berasal dari kota S. Walau tak semua, namun perbedaan ini semakin kentara. Kita hanya lebih sering ‘fake smile’ di depan karyawan yang lain walau dalam hati seperti ada batasan yang membuat kita saling curiga.

Nah salah satu api yang sering disulut oleh golongan lulusan SMK adalah seringkali sahabat-sahabat saya yang tidak melanjutkan ke jenjang kuliah menggunakan quote dari Najwa Shihab yang isinya “Apa arti ijazah yang bertumpuk, jika kepedulian dan kepekaan tidak ikut dipupuk” (idntimes.com) untuk dibagikan di status WhatsApp dan story Instagram mereka.

Saya yakin itu adalah sindiran untuk golongan kita karena sudah tak terhitung story tersebut muncul di status mereka, bahkan membuat saya hafal setiap katanya. Rasanya ingin memblokir atau menghide status mereka saja, namun hati kecil berkata jangan sampai sama-sama menyulut api seperti mereka yang hanya akan memperkeruh suasana.

Mereka dengan bangga memamerkan quote tersebut seakan mba Nana (sapaan akrab najwa shihab) menomor duakan Pendidikan. Padahal kita tau mba Nana itu sangat mengutamakan pendidikan terbukti dalam quote yang lain nya yang berbunyi,”Hanya pendidikan yang bisa menyelamatkan masa depan. Tanpa pendidikan, Indonesia tak mungkin bertahan.”

Boleh saja, membanggakan skill yang mereka dapat bukan dari bangku kuliah. Namun, mba Nana tentu akan lebih sepakat bahwa pendidikan ke jenjang perkuliahan itu penting. Meski perkuliahan adalah perguruan tinggi yang bisa dicapai seseorang, namun kita bisa belajar dari berbagai hal termasuk pengalaman. Hal ini didukung dengan quote Najwa Shihab lainnya yang berbunyi, “Belajar tentu keharusan yang tak boleh diabaikan, namun merugilah jika disempitkan semata perkuliahan”.

Salah kaprah jika dari quote tersebut banyak diartikan sempit dengan hanya mengambil kalimat pertamanya saja yaitu,”Apa artinya ijazah yang bertumpuk?”  sehingga memojokkan para sarjana. Memang banyak sarjana yang menganggur, namun dari lulusan SMA/ SMK juga tak kalah banyak.

Supaya lebih fair, mari kita tengok data dari BPS terbaru tahun 2019 yang mana Kepala Badan Pusat Statistik mengatakan, tingkat pengangguran terbuka (TPT) didominasi oleh lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebesar 10,42 persen dari total 7,05 juta orang. Selain SMK, SMA menempati peringkat kedua dengan presentase 7,92 persen, diikuti diploma I/II/III dengan 5,67 persen. Sedangkan Universitas ‘hanya’ menduduki peringkat keempat dengan presentase 5,67 persen (kompas.com).

Di usia yang sama, mungkin lulusan SMA/SMK sudah punya lebih banyak pengalaman di lapangan. Namun dengan belajar di bangku perkuliahan harusnya bisa mempersingkat waktu 4 tahun kuliah terkonversi menjadi setara 10 tahun bekerja dari berbagai teori, praktek bahkan skiripsi yang telah ditempuh. Maka tak jarang, berdasarkan itulah lulusan sarjana meski tak punya pengalaman, namun langsung diberi kesempatan menduduki posisi yang lebih tinggi.

Nah, bukan bermaksud menmojokkan golongan SMK/SMA. Kalau kalian memang merasa punya kemampuan yang baik, sudah punya banyak pengalaman serta tabungan sebaiknya juga melanjutkan juga ke perguruan tinggi. Jika kalian tetap berada ditahap itu, yang paling diuntungkan tentu para bos-bos kalian yang bisa seenaknya membayar gaji tak jauh dari UMR. Kalau mau naik level, naikkan nilai tawar kalian dulu dengan menambah nama belakang kalian dengan gelar sarjana.

Sekarang adalah eranya kolaborasi, bukan lagi era kompetisi. Sudah lah tak usah mencoba membanding-bandingkan mana yang lebih hebat yaitu apakah lulusan SMK atau lulusan perguruan tinggi. Sudah saatnya berhenti menyibukkan diri untuk menjatuhkan satu sama lainnya, saatnya bahu membahu menjalankan masing-masing peran yang dilakoni dengan sebaik mungkin.

Sidoarjo, 2 Mei 2020
Selamat Hari Pendidikan Nasional 2020
#HariPendidikanNasional #Hardiknas2020

Terdampak Covid-19

Kalau ini bukan akhir dunia, fenomena Corona (Covid-19) sepertinya akan menjadi catatan sejarah tersendiri bagi dunia secara umum dan bagi Indonesia secara khusus. Di Indonesia sendiri, terakhir kali Negara ini mengalami krisis ekonomi yang hampir menghentikan semua aktifitas masyarakat adalah Krisis tahun 98 (lihat dampak krisis 98 disini). Mungkin ini menjadi ke 2 kalinya setelah krisis 98 setidaknya dalam seperempat abad terakhir ini.  

Beberapa dampak paling kentara bagi masyarakat Indonesia adalah per 24 April 2020 hingga batas waktu yang belum ditentukan sudah tidak ada lagi moda transportasi umum yang beroperasi, baik itu pesawat, kereta, bus semuanya sudah tidak beroperasi. Padahal ini sudah masuk bulan puasa dan pemerintah sudah mewanti-wanti agar masyarakat yang berada di jabodetabek untuk tidak mudik.

Meski saya merantau di jatim, sepertinya juga terancam tidak bisa mudik karena dikhawatirkan menularkan keluarga yang ada di rumah dan dibeberapa kota sudah ada polisi yang berjaga untuk mengembalikan warga yang berniat mudik. Pun kalau sudah bisa kembali kesini harus dikarantina 14 hari dahulu sesuai protokol penganganan corona yang gejalanya akan muncul dalam rentang waktu 14 hari. Secara tidak langsung, pihak kantor juga sudah melarang agar karyawannya tidak keluar kota dulu, bahkan Sidoarjo-Malang pun tak diijinkan.

Selain itu, di Surabaya-Sidoarjo-Gresik sendiri sudah mulai muncul SK Gubernur tentang pelarangan adanya kerumunan warga (berjualanb, beribadah dll) dan diterapkannya jam malam antara jam 21.00-04.00 WIB dilarang keluar rumah yang semakin membatasi gerak warga dan terutama berdampak besar pada masyarakat kecil yang mencari makan dari hari ke hari karena sudah tak bisa berjualan lagi.

Sebuah pilihan sulit karena kalau keluar rumah akan terancam terpapar corona hingga membahayakan nyawa mereka sendiri. Pun kalau tidak keluar juga bisa kelaparan karena tak mendapat uang yang biasanya hanya bisa didapatkan dari hari ke hari. Tapi memang kondisinya seperti ini, semuanya sudah saling curiga, mau memaksakan berjualan pun warga sudah ragu adanya paparan corona dan lebih banyak memilih memasak sendiri. Situasi seperti ini membuat perekomomian masyarakat mengengah kebawah hancur sehancur-hancurnya.

Kantor Tutup Karena Covid-19
Secara pribadi saya tak begitu terdampak karena kantor saya saat ini yang bahkan sudah menerapkan semi WFH (Work From Home) masih bisa survive walau banyak orderan yang tertunda namun belum ada karyawan yang ter-PHK seperti pabrik-pabrik di sebelah yang memang tak bisa dipungkiri dalam masa seperti ini daya beli masyarakat menjadi menurun drastis.