Rabu, 15 Juli 2020
Sering Gagal Ketika Mengikuti LKTI? Melakukan Penelitian Ilmiah adalah Jawabannya
Posted by Handi on 03.08 with No comments
Rabu, 24 Juni 2020
Ir Soekarno, "Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang"
Posted by Handi on 07.01 with No comments
Sewaktu kuliah, saya baru sadar kalau gaji guru sangat
rendah. Padahal waktu itu saya adalah calon sarjana pendidikan yang harusnya
setelah lulus diproyeksikan untuk menjadi guru.
Waktu itu juga saya baru sadar kalau ibu saya yang hanya
seorang tenaga kerja honorer mempunyai bayaran yang sangat kecil. Sangat tidak
masuk akal karena bayarannya bahkan masih dibawah tenaga bantu yang bapak pekerjakan
di warung mie ayamnya.
Bahkan saya sempat berpikiran kenapa tidak ibu saya saja
yang bantu di warung? Kan penghasilannya lebih besar.
Jumat, 22 Mei 2020
Tertawalah Sebelum Tertawa Itu Dilarang
Posted by Handi on 22.55 with No comments
Ungkapan ini ternyata benar adanya karena tertawa itu ada
tempatnya, tertawa itu ada waktunya, tak bisa disembarang waktu dan tempat.
Kenapa tertawa ada tempatnya? Contohnya kita tidak mungkin
tertawa atau bersenda gurau di tempat pemakaman seseorang karena tidak
menghargai keluaga yang sedang bersedih ditinggal orang terdekatnya.
Kenapa tertawa ada waktunya? Contohnya kita tidak mungkin
tertawa atau bersenda gurau diwaktu meeting penting dengan atasan saat membahas
sesuatu yang penting karena ya memang bukan waktunya saja.
Namun, kita semua tentu sepakat kalau tertawa itu baik
karena tertawa itu bisa meningkatkan imunitas terutama untuk membuat diri lebih
kuat ditengah kepungan pandemi Covid19 ini.
Saya pikir, tiap individu punya selera humor masing-masing
yang tak bisa digeneralkan. Pasti kita pernah mengalami kejadian yang niatnya
hanya bercanda untuk membuat orang lain tertawa namun yang terjadi justru orang
lain jadi tersinggung.
Padahal, komedi itu sudah pasti menyinggung. Hanya saja
standar keberterimaan kita sekarang yang mulai menurun menjadikan banyak orang
sekarang mudah tersinggung.
Tidak apa tersinggung, tapi tentu kita punya cara yang lebih
tepat untuk menunjukkan ketersinggungan kita yaitu dengan cara TABAYYUN, bukan
malah memendam dalam hati atau malah marah-marah meluapkan ketersinggungan
kita.
Buat saya marah adalah bentuk kelemahan karena marah berarti
tak mampu menahan diri. Salah satu bentuk pertahanan diri adalah dengan
bersabar.
![]() |
| Pilih sabar atau marah? |
Jika diibaratkan dengan gambar diatas, dalam menghadapi
ketersinggungan kita cuma 2 pilihan yaitu sabar yang berada di sisi kiri yang
mana kita hanya perlu mengeluarkan enegi sebesar 0-50% sedangkan marah yang
berada disisi kanan adalah energi yang kita keluarkan sebesar 51-100%.
Beberapa orang bilang, “sabar itu ada batasnya”. Tapi saya
kurang sependapat karena sabar itu ya sabar aja. Kalau sudah melewati batas
kesabaran berarti ya sedang marah. Mungkin kita pernah sabar namun saat
mengatakan “Sabar ada batasnya” bisa dipastikan orang tersebut sedang marah,
walau mungkin pernah bersabar namun tidak lama.
Kita hanya bisa memilih untuk sabar atau marah. Kalau
dibilang sabar itu ada batasnya, berarti itu bukan sabar, berarti kalian sudah
masuk ke sisi kanan yaitu marah. Ibarat kata, titik didih orang berbeda-beda,
ada yang bisa menahan tetap dibawah 50% ada yang tidak bisa.
Tips Lolos Menjadi Finalis Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional (LKTIN)
Posted by Handi on 01.57 with No comments
![]() |
| Lomba di Universitas Tanjungpura |
Selama menjadi mahasiswa, setidaknya saya sudah berkeliling 4 pulau besar di Indonesia yaitu Sumatra yang diwakili ke Universitas Riau dan hampir ke UNP Padang namun tidak jadi berangkat karena masalah dana, kemudian ke Kalimantan yang diwakili ke Universitas Tanjungpura, lalu ke Sulawesi yang diwakili ke Universitas Hasanuddin dan juga gagal berangkat ke Manado karena dana tombokan yang begitu besar dan yang terakhir tentu pulau yang saya tinggali yaitu Jawa yang diwakili pernah ke Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, ITS Surabaya, Untirta Banten, PKTJ Tegal, Kementrian Perhubungan Jakarta dan tentu saja di kampus sendiri yaitu Universitas Negeri Semarang. Untuk dijawa, seingat saya hanya gagal berangkat sebanyak 2 kali yaitu ke Universitas Brawijaya untuk ke 2 kalinya dan ke Universitas Telkom Bandung.
Kamis, 21 Mei 2020
Catur, Melukis dan Bahasa Inggris
Posted by Handi on 10.59 with No comments
Masih tentang bernostalgia untuk mengisi waktu luang dimasa
pandemi Covid-19 yang membuat kita dipaksa #dirumahaja. Kali ini saya ingin
kembali menuangkan isi hati mengenai catur dan melukis. 2 hal lain selain sepak
bola yang mampu mengubah hidup saya.
Handi kecil adalah bocah pemalu yang tak berani coba-coba.
Terus terang saya belajar catur awalnya dari mengamati orang saja bagaimana
pion, benteng, kuda dll bergerak. Namun ada 1 kejadian yang benar-benar
mengubah dan meningkatkan 89% kemampuan saya bermain catur yaitu ketika diberi
tahu oleh Pakde Kus mengenai trik mengalahkan lawan hanya dengan 4 kali gerakan
(Kalau ingin tahu caranya membuat skakmat lawan hanya dari beberapa langkah
bisa dilihat DISINI).
Dari ajaran itu saya berhasil mengalahkan lebih dari 80%
lawan saya ketika lomba catur tingkat RT. Sisanya adalah improvisasi bahwa
catur memang permainan strategi, kita harus mampu merencanakan 3 sampai 4
langkah kedepan bagaimana cara men-skakmat raja dan juga harus memprediksi 3
sampai 4 langkah gerakan lawan yang akan men-skakmat kita. Kelemahan saya
adalah saya selalu terburu-buru ingin menskakmat lawan hingga tidak
memperdulikan gerakan lawan. Misal saya sudah menemukan cara menskakmat dengan
4 langkah, namun karena terlalu bersemangat hingga tanpa saya sadari saya dulu
lah yang terkena skakmat hanya dari 3 langkah. Namun, sebagai pemula saya cukup
bangga karena waktu itu setidaknya saya selalu masuk 3 besar dalam lomba catur
tingkat RT selama 3 tahun berturut-turut sebelum lomba catur benar-benar
dihapuskan karena tak ada warga yang punya papan catur.
Berlanjut ke melukis, sebenarnya saya juga tak begitu
berbakat melukis. Namun satu hal yang mengubah hidup saya adalah ketika Pakde
Him mengajarkan teknik melukis dan mewarnai dengan menggunakan crayon. Lukisan
saya tak begitu bagus namun saya hanya tau cara mewarnai dengan crayon yang
waktu itu menggunakan teknik gradasi.
Dari melukis saya banyak sekali mendapat penghargaan, dari tingkat RT,
tingkat dabin iv dan tingkat kabupaten juga pernah. Bahkan puncaknya saya
pernah mewakili kota Demak dalam porseni tingkat Jawa Tengah. Sebelum mewakili,
itu saya menjadi juara 2 tingkat kabupaten Demak. Seperti yang saya bilang
diawal tadi, saya tak punya bakat melukis, hanya tau trik mewarnai yang bagus
saja. Dalam waktu durasi melukis selama 2 jam itu, si juara 1 tadi
menyelesaikan lukisannya dalam waktu 45 menit + 10 menit menebali menggunakan
spidol dan sisanya digunakan untuk mewarnai. Sedangkan saya perlu menghabiskan
1 jam 30 menit untuk menggambar dan 30 menit untuk mewarnai, hal ini yang
membuat saya minder dan menyadari bahwa saya memang tidak berbakat. Maka dari
itu, meskipun telah banyak memberi saya gelar juara, saya tak begitu mau men-seriusi
melukis dan beruntung di masa kuliah saya bisa menemukan kegiatan lain yaitu
“menulis” yang bisa menjadi ladang selanjutnya dalam menambah koleksi piagam
penghargaan.
Sedikit mundur kebelakang mengenai bahasa inggris, juga
Pakde Him yang mengenalkan saya dengan bahasa inggris. Metode yang diajarkan
cukup simple, hanya mengajari Grammar dan disuruh menghafal 5 kata irregular setiap
les sore sehingga membuat saya menjadi siswa paling menonjol di kelas mengenai
pelajaran bahasa inggris saat itu. Sebagai gambaran setiap ulangan saya bisa
mendapat nilai 70-80, tidak terlalu tinggi memang, namun tetap menjadi siswa
yang paling diingat guru karena teman-teman lain rata-rata hanya mendapat nilai
40-50. Memang bukan saya yang terlalu pintar, hanya kebetulan diwaktu SMP itu
teman-teman saya yang lain tak begitu memfokuskan bahasa inggris sebagai mata
pelajaran yang diseriusi, mungkin salah satu alasannya karena bahasa inggris
tak masuk dalam maple Ujian Nasional. Jujur, saya sebenarnya tidak 100%
memahami Grammar, saya hanya mengandalkan intuisi saja yang membuat ilmu itu
terus memudar seiring berjalannya waktu. Terutama diwaktu akhir-akhir masa SMA
yang terus terang saya mulai malas belajar untuk UN. Namun beruntungnya saya masih
punya semangat untuk membelajari soal-soal SNMPTN sehingga waktu itu Alhamdulillah
saya masih bisa masuk PTN.
Agak meloncat-loncat memang, saya tak pernah menseriusi 1
bidang pasti untuk didalami sehingga semua ilmu yang saya punya hanya
setengah-setengah saja. Namun dari kesemuanya itu adalah sekian sedikit hal
yang bisa membuat survive dan merasa berguna. Untuk itu, kalian harus tetap
berusaha menemukan apa yang membuat kalian merasa berguna. Jangan pernah lelah
untuk mencoba seperti kata Pak Habibie, “Setiap orang punya jatah gagal,
habiskan jatah gagalmu sewaktu muda, agar kamu bisa meraih kesuksesan secepat
mungkin”.
Rabu, 20 Mei 2020
Sepak Bola, PSIS Semarang dan AC Milan
Posted by Handi on 07.18 with No comments
Handi kecil adalah bocah kecil cupu, suka menangis dan juga
mudah pingsan ketika upacara bendera. Maka dari itu, aktivitas olahraga/ fisik
bukan hal yang paling disukai pada masa SD. Namun pertengahan kelas 6 SD ketika
saya hanya sekedar ‘formalitas’ berdiri di depan gawang ketika bermain sepak
bola bersama teman sekelas lainnya, saya pertama kali mendapat pujian dari
teman-teman karena beberapa kali melakukan penyelamatan di depan gawang. Hal
ini adalah momen pertama yang membuat saya mulai bisa menikmati bermain sepak
bola, sebagai pemain belakang.
Sewaktu SD itu pula, teman-teman sering bercerita bagaimana bangganya
mereka menonton langsung pertandingan PSIS Semarang langsung dari stadion, yang
kebetulan waktu itu PSIS memang sedang hebat-hebatnya dengan menjadi Runner-Up
Liga Indonesia bersama pemain asing popular saat itu yaitu DE PORRAS DAN ORTIZ yang
berasal dari Italia yang sepertinya masih sangat dicintai supporter hingga saat
ini. Momen itu juga yang membuat saya penasaran dan kemudian juga bisa
menikmati menonton pertandingan sepak bola meski hanya dari layar kaca. Iya
sepertinya saya bisa mencintai klub ini, semakin yakin ketika saya baru diberi
kesempatan menonton langsung pertandingan PSIS ketika kuliah di Semarang
sekitar 5 tahun dari awal saya menontonnya dari layar kaca. Saya jatuh cinta
dan candu dengan atmosfer di dalam stadion, bagaimana supporter saling BERADU NYANYIAN DAN KOREOGRAFI untuk mendukung masing-masing klub kebanggaannya.
Tak jauh dari itu, berlangsunglah moment Piala Dunia 2006 yang
merupakan pertama kali saya benar-benar menonton pertandingan sepak bola luar
secara utuh. Kebetulan waktu itu ada beberapa pertandingan yang mulai pukul
20.00 WIB sehingga masih bisa saya melihat bersama bapak tanpa harus begadang.
Di akhir turnamen secara mengejutkan Italia berhasil menjadi juara dunia
mengalahkan Prancis. Kemenangan itu sedikit kontroversial karena terdapat
moment Zidane dikartu merah langsung setelah MENANDUK DADA MATERAZZI karena
terprovokasi oleh perkataannya. Saya cukup menyesalkan kejadian itu karena nama
Zidane yang merupakan pesepakbola muslim yang memang berbakat luar biasa jadi
tercoreng karena ulah kejadian itu. Namun saya tak bisa sepenuhnya menyalahkan
Materazzi karena provokasi (selama tidak ketahuan wasit) itu tidaklah melanggar
rule of the game, hanya memang
menodai fair play saja dan saya juga
sering memprovokasi lawan –tapi tidak dengan perkataan seperti yang dilakukan materazzi, hanya dengan cara menarik baju atau melakukan dorongan
kecil hanya untuk membuat emosi lawan (tanpa ada niat menciderai) dan hanya
berniat untuk mengacaukan permainannya- ketika bermain futsal haha. Atas dasar
itu, meski mendukung AC Milan, saya tak begitu menjadi supporter italia
(seperti kebanyakan pecinta liga italia lainnya). Saya hanya mengikuti beberapa
pertandingan timnas italia karena sekedar ingin melihat pemain AC Milan yang
bermain di timnas Italia.
Percaya atau tidak, awal mula saya jatuh cinta pada AC Milan
adalah karena fenomena jatuh cinta pada pandangan pertama. Sesimple itu memang,
tak ada alasan apapun. Hanya karena 2 kali saya terbangun di dini hari,
menonton televisi dan melihat seragam kebanggaan merah hitam itu. Jujur saja
waktu itu saya kebingungan, bagaimana bisa ada pemain timnas italia dan brasil
bermain dalam 1 klub. Secupu itu memang waktu itu, namun dimomen ke 3 kalinya
saya kembali tak sengaja terbangun di dini hari dan kembali menonton AC Milan ketika melawan BAYERN MUNCHEN,
saat itulah saya memutuskan untuk menjadi Milanisti.
Ke 4 moment itulah yang membuat saya menyukai menonton, bermain
sepak bola, PSIS Semarang dan AC Milan. Anehnya kesemua moment yang mengubah
alur hidup saya itu terjadi di tahun 2006. Kenapa bisa suka dan bahkan bisa
bertahan sampai sekarang? Simple, karena semua hal itu bisa membuat darah saya
mendidih dan merasakan adrenalin yang membuat saya bersemangat melakukan hal
apapun.
Saya tak pernah sedikitpun menyesal dengan masa muda saya.
Sebelum menyukai sepak bola saya sudah kenyang dengan berbagai permainan
tradisional yang bahkan adik kandung saya tak bisa merasakan karena cepatnya
perubahan kultur sosial budaya. Meskipun tinggal di perumahan namun masa kecil
saya sempat merasakan bermain lompat tali, petak umpet, kelereng, gobak sodor,
layangan, engklek dan masih banyak lainnya. Setelah masa itu terlewat, saya
beruntung menemukan Sepak Bola yang membuat saya ‘diakui’ bahwa saya bukan lagi
bocah cupu tapi saya punya sesuatu yang bisa diandalkan.
Kemampuan sepak bola saya diasah dari lapangan plester yang
sering membuat kaki kapalan atau kuku terkelupas. Sebelum kelas 6 SD, di
kampung saya bermain sepak bola dengan teman-teman yang kesemua usianya diatas
saya yang tentu membuat saya sulit berkembang. Namun masuk masa SMP adalah masa
transisi menjadi saya yang bermain dengan teman yang usianya dibawah saya. Dari
sinilah kemampuan sepak bola saya berkembang pesat. Saya jadi bisa
mempraktekkan drible bola ala Ricardo Kaka’ dan Tendangan melengkung ala Andrea
Pirlo, walau kini diantara teman-teman futsal saya lebih dikenal mempunyai cara
bermain dan mencetak gol mirip Pippo Inzaghi.
![]() |
| Juara 2 Porsaklas Futsal Teknik Elektro 2014 |
Sabtu, 02 Mei 2020
3 Mei
Posted by Handi on 12.05 with No comments
![]() |
| BDAY |
Seseorang pernah bilang kepadaku, Ulang tahun hanyalah soal
angka, tak ada yang spesial dan tak ada bedanya dengan hari-hari lainnya.
Sepertinya saya bisa mengamini hal tersebut.
Jika orang lain ingin menghabiskan waktu dengan orang paling
dicintainya dihari ulang tahunnya, saya tidak. Saya ingin selalu menghabiskan
waktu dengan orang yang saya cintai, setiap harinya--tidak hanya pada hari
ulang tahun saja.
Jika ulang tahun diibaratkan dengan hari bahagia, sepertinya
saya kurang sependapat. Hari bahagia harus datang setiap hari, dengan cara yang
sesederhana mungkin.
Saya ingat betul pertama kali mendapat kue ulang tahun
justru dari kawan-kawan UKMP. Walau saya tak berharap, tapi saya hampir mewek
dibuatnya, untung masih bisa menahan diri.
Ada lagi teman kampus yang rela memberikan jersey AC Milan
di hari ulang tahunku. Terasa sangat spesial namun ada sedikit penyesalan
karena belum mampu melakukan hal serupa untuknya dikarenakan segala
keterbatasan yang saya punya.
Mungkin lebih karena tak ingin kecewa dan tak ingin berharap
apa-apa, makanya saya tak ingin menspesialkan hari ulang tahun. Jadi jika tak
ada apa-apa pun saya tak akan kecewa, namun jika ada yang menspesialkan hari
ulang tahun saya, bahagia bisa tetap saya rasakan karenanya--dari kedua opsi
tersebut tak ada opsi kecewa karena ekspektasi yang tinggi.
Maka dari itu, meski saya tak menspesialkan hari ulang
tahun, tapi karena kebanyakan orang lain tidak. Maka dari itu, dari sekian
sedikit teman dekat yang saya punya, saya ingin berterima kasih dengan
memberikan sesuatu yang istimewa di hari bahagianya-tak hanya. ulang tahun,
tapi hari bahagia lainnya juga.
Ada banyak list teman yang harus saya balas budinya yang
semoga saya sempat membalas setiap kebaikan mereka. Pun begitu saya masih ingin
membahagiakan orang terdekatku saat ini, semoga masih diberi kesempatan.
Langganan:
Postingan (Atom)







