RSS
Facebook
Twitter

Jumat, 02 Oktober 2020

The Power of DOA

 


02/10/2020


Malam itu, aku menjadi saksi atas kebaikan Allah yang mengabulkan sebuah doa sepele yaitu Milan menang lawan Rio Ave di pertandingan kualifikasi terakhir sebelum masuk ke fase grup. Bukan pertandingan besar memang, namun bagi sebuah klub yang dalam 8 tahun terakhir terpuruk karena tak mampu menembus 4 besar, lagi ini tentu sangat penting bagi AC Milan dan seluruh tifosinya.


Jika saja di laga ini kalah, mungkin kita (AC Milan dan seluruh tifosinya) akan kena bully habis-habisan selama 1 musim  (12 bulan) kedepan. Ketika orang lain berterima kasih kepada Donnaruma yang melakukan penyelamatan penting di akhir laga, aku memaknai lagi ini sebagai kebaikan yang Allah berikan atas secuil doa yang kuucap pada dini hari itu.


Jadi, begini cerita dibalik jalannya laga semalam..


Pertandingan yang digelar di Estadio Dos Arcos, Portugal ini Milan bertandang ke markas Rio Ave untuk melakoni laga hidup mati sebelum masuk ke babak grup Liga Eropa. Bagi kedua tim, laga ini tentu sangat penting, terlebih karena pemenang sudah dijanjikan mendapat kucuran dana sebesar 15 juta euro dari panitia.


Bagi Milan sendiri nominal itu sangat berarti untuk mencari tambahan amunisi baru jika harus bermain di 3 kompetisi, nama terpanas yang belakangan dikaitkan dengan Milan adalah Bakayoko, Chiesa, Tomiyasu dan Luca Jovic. Nama-nama tersebut sudah dipastikan tidak akan bergabung apabila Milan kalah di laga ini. Bukan hanya dananya yang penting, tapi meskipun dihantam badai cedera dan beberapa pemain terinfeksi corona, namun squad saat ini dirasa sudah cukup untuk sekedar bermain di 2 kompetisi setelah masuknya Brahim Diaz, Kalulu, Tonali dan Tatarusanu.


Jalannya laga, di babak pertama Rio Ave memang bermain lebih bagus karena menguasai penguasaan bola sebesar 59% dibanding Milan yang hanya 41%. Namun justru di awal babak kedua Milan berhasil memecah kebuntuan di menit 51 melalui sepakan Alexis Saelemakers.


Sempat merasa diatas angin, namun semua berubah semenjak tendangan Geraldes menembus jala gawang Donnaruma pada menit ke 72. Play on! Kedua tim kembali sama kuat dan jual beli serangan sudah berjalan lebih berimbang pada babak kedua.


Karena skor imbang dan harus ada salah satu tim yang gugur, maka dilanjutkanlah dengan 2x15 menit babak perpanjangan waktu. Baru 1 menit wasit meniup peluit kick off, Milan kembali kecolongan lewat sepakan kaki kiri Gelson Dala yang membuan Donnaruma tak bisa berkutik. Skor 2-1 untuk Rio Ave dan semua pemain Milan pun mulai panik dengan menggempur habis-habisan pertahanan Rio Ave.


Aku sendiripun sudah pasrah atas kekalahan ini, 4 menit jelang laga berakhir aku putuskan untuk solat subuh dan segera tidur dan menyiapkan hati dari segala rasa kecewa apabila Milan memang benar-benar kalah. Waktu itu aku berpikir, Milan boleh saja kalah tapi aku tak mau kalah juga dengan menunda subuh ku. Akhirnya aku solat subuh dan selepasnya hanya mengucap sebuah doa yang kurang lebih meminta supaya Milan bisa menyamakan kedudukan dan di lanjutkan ke babak adu pinalti. Setelah adu pinalti aku serahkan kepadaMu ya Allah bagaimana kelanjutannya nanti.


Dan BOOM, setelah sarung dan sajadah kulipat dan kuarahkan pandangan ke layar HP yang sudah masuk menit ke 120 (kurang 1 menit dari peluit akhir dibunyikan), tampilan layar menunjukkan wasit mengeluarkan kartu merah untuk lawan dengan latar area pertahanan lawan. Akupun bertanya-tanya, apakah kita dapat pinalty? Dan YA! Calhanoglu sudah memegang bola tepat di titik 12 pas. WHAT A MIRACLE! Doaku langsung diijabah saat itu juga! Allahu Akbar.


Hasilnya tentu kita tau, pinalty berhasil masuk dan wasit langsung meniup peluit akhir pertanda kedua tim harus melanjutkan ke babak adu pinalty. Setelah masuk ke penendang kedua, sepertinya saya harus berdoa lagi untuk kemenangan Milan.


Tibalah ke penendang ke 8, Lorenzo Colombo seorang bocah 18 tahun mengambil eksekusi pinalti. Boom, bola gagal masuk dan melambung tinggi di atas mistar gawang. Ah, mungkin inilah saatnya Milan kalah. Di penendang penentuan dari Rio Ave ternyata penendang mereka juga gagal dengan hanya membentur tiang kanan gawang lalu lari ke tiang kiri tanpa melewati garis gawang, Alhamdulillah kita masih bisa bernafas.


Lanjut ke penendang ke 10, kali ini Donnaruma yang menjadi eksekutor, bisakah seorang kiper mencetak gol pinalti? Dan Boom, lagi-lagi pemain Milan gagal, tendangan Donnaruma kembali melambung ke atas mistar gawang. Selanjutnya apabila tendangan pemain Rio Ave masuk maka pudarlah mimpi Milan bermain di Europa League. Lalu, penendang  sisi lawan juga merupakan seorang kiper dan juga sama melambung ke atas mistar gawang, padahal Donnaruma sudah bergerak ke arah yang salah. Keberuntungan macam apa lagi ini haha.


Penendang ke 11 kali ini Bennacer, yang di kesempatan pertama berhasil menjebol gawang kiper lawan di arah kiri gawang, namun di tendangan kedua tendangannya yang mengarah ke sisi yang sama sudah berhasil ditepis kiper, Lagi-lagi beruntung bagi Milan karena penendang Rio Ave kembali gagal karena tendangannya menghantam tiang kiri gawang.


Terhitung sudah 4 kali Milan diselamatkan oleh Dewi Fortuna dari kekalahan. Sebuah laga yang akan menjadi senam jantung bagi siapapun yang menontonnya.


Last kick, kali ini penendan ke 12 adalah Simon Kjaer yang berhasil mengeksekusi tendangan dengan baik. Lalu disinilah moment senam jantung berhenti dan berganti dengan euforia seluruh pemain, staff dan para tifosi Milan ditandai dengan berhasilnya Donnaruma menepis tendangan terakhir pemain Rio Ave pada malam ini.


Milan kali ini memang beda, dengan squad seadanya, kita bahkan sudah melalui 17 match di semua kompetisi tanpa melalui sebuah kekalahan sekalipun, sebuah rekor yang terkhir terjadi pada squad bintang Milan di tahun 2002 di bawah pelatih Carlo Anchelotti.


Liga Europa kami datang!


Terima Kasih YA ALLAH sudah menjawab doa-doa ku. Hari ini aku benar-benar bersyukur bisa merasakan sedekat ini denganNya.

 

Minggu, 27 September 2020



Ketika baru mendengar kabar kekalahan Manchester United dari Crystal Palace di pertandingan pembuka Liga Inggris musim ini, saya pun penasaran dan berusaha mencarinya dengan mengetikkan keyword tersebut di kotak pencarian YouTube. Dari sekian banyak rekomendasi video teratas yang muncul, tak satupun terlihat Channel YouTube dari Manchaster United menampilkan hasil pertandingan tersebut, loh kok bisa?


Masih berfikir positif, barangkali Channel YouTube Manchester United terlambat meng-upload. Namun setelah ditunggu hingga 24 jam berselang belum ada tanda-tanda peng-upload-an di Channel tersebut. Jadi bisa disimpulkan jikalau benar adanya bahwa YouTube Channel dari Manchester United adalah satu-satunya channel yang selalu konsisten untuk tidak mengupload highlight pertandingan kekalahan timnya.


Padahal, sebelum pertandingan berlangsung Channel Youtube Manchester United sudah menampilkan beberapa video pre-match tentang pertandingan ini. Namun setelah pertandingan justru Channel Tersebut bersembunyi dan buru-buru mengupload konten lain untuk mengalihkan isu kekalahan ini.


Hal itulah yang menjadikan sampailah saya di Channel Youtube Crystal Palace untuk menyaksikan highlight pertandingan tersebut sekaligus bersafari ke kolom komentar yang muncul di video tersebut untuk sekedar mencari hiburan mengenai komentar-komentar yang me-mojok-kan fans Manchester United.


Namun pada akhirnya saya dibuat kecewa karena dari sekian banyak fans Manchester United yang ada di dunia ini, hanya sedit yang hadir di Channel tersebut. Padahal Channel Crystal Palace sudah berbaik hati mengupload highlight pertandingan tersebut salah satunya untuk para fans Manchester United yang tak bisa menyaksikan langung dari Channel YouTube nya tim kesayangannya tersebut.


Dalam waktu kurang dari 24 jam, highlight pertandingan video di Channel YouTube Crystal Palace sudah disaksikan sebanyak 1,7 juta viewers. Sangat mencolok jika saya bandingkan dengan beberapa video dibawahnya yang paling banyak hanya mencapai 150 ribu viewers. Bukti bahwa silaturahmi fans lain menjadi sangat erat ketika Manchester United mengalami kekalahan.


Uniknya, dalam pertandingan tersebut salah satu live komentatornya adalah Gery Neville yang merupakan seorang legenda dan telah memenangkan banyak throphy bersama Manchester United. Meski dalam beberapa hal komentar yang dilontarkannya cukup objektif, namun ada salah satu moment dimana Gery mempertanyakan keputusan wasit yang memutuskan mengulang tendangan pinalty Jordan Ayew yang telah berhasil diamankan oleh De Gea.


Padahal dalam tayangan ulang sudah terlihat dengan jelas bahwa De Gea bergerak sedikit lebih maju dari garis gawang bahkan ketika bola belum ditendang oleh Jordan Ayew. Selanjutnya, justru Wilfried Zaha yang pernah berseragam Manchester United memutuskan untuk maju mengambil kesempatan kedua tendangan pinalti tersebut.


Kali ini De Gea sudah benar karena gerakannya tidak melewati garis lagi, tebakan arah bolanya pun sudah tepat ke sisi kanan gawang, namun sayang sekali bola tak dapat dijangkau dan jebol lah kembali gawang Manchester United untuk kedua kalinya yang membuat fans Crystal Palace dan para haters dari Manchester United menjadi kegirangan.   


Sempat memperkecil ketertinggalan melalui sebiji Gol yang sangat beruntung dari pemain baru mereka yaitu Donny Van De Beek di menit 80’, namun kekalahan di pertandingan ini kembali ditegaskan oleh sang mantan yaitu Wilfried Zaha yang merayakan kembalinya ke Old Trafford dengan cara mencetak gol melalui tendangan keras yang membuat De Gea sama sekali tak berkutik. Sebuah kemenangan yang begitu istimewa bagi siapapun yang bukan fans Manchester United.


Entah kenapa, atau mungkin hanya perasaan saya saja ketika Manchester United mengalami kekalahan begitu banyak fans dari klub lain berkumpul dan turut merayakan kemengangan tim lawan. Bahkan mungkin apabila haters Manchester United digabungkan semuanya, jumlahnya mungkin masih lebih banyak dari fans Crystal Palace itu sendiri.


Sebenarnya apa yang membuat Manchester United tiba-tiba bisa menjadi pemersatu dari berbagai fans klub lain ketika mengalami kekalahan?


Tak bisa dipungkiri bahwa dulu, Manchester United nya versi Sir Alex Ferguson sempat mendominasi Liga Inggris selama bertahun-tahun. Mungkin ketika beberapa tahun ini Manchester United belum berada di posisi seharusnya, membuat banyak fans klub lain menjadi lebih ‘peduli’ terhadap setiap kekalahan Manchester United. Hal itulah yang mungkin belum bisa diterima beberapa fans bahwa Manchester United kini sama seperti AC Milan di Liga Italia. Dulu pernah berjaya, namun sekarang sudah tak lagi sama.


Ketika disisi lain, channel tetangga semacam Chelsea atau Man City selalu konsisten mengupload hasil pertandingan baik itu kekalahan, imbang ataupun kemenangan di channel YouTube mereka. Bahkan pun tim sekelas Barcelona saja masih mengupload kekalahan memalukan 8-2 dari Bayern Munchen. Channel YouTube Manchester United selalu konsisten untuk tidak meng-upload hasil kekalahan timnya. Satu hal yang membuktikan kedewasaan dan kelapangdadaan pemilik Channel YouTube beserta pendukung klub-klub tersebut (Chelsea, Man City & Barcelona) sedikit lebih baik dari Manchester United yang selalu siap mendukung disaat menang ataupun kalah.

Sabtu, 26 September 2020

 

Stop Bullying

Pembullyan bisa menimpa siapapun, dari yang muda hingga yang sedah berumur, dari yang mental nya lemah hingga orang yang punya kekuatan untuk melawan balik. (Apa itu bullying? Lihat disini).

 

Tingkat ketahanan seseorang dalam menghadapi pembullyan tentu saja berbeda. Maka dari itu berikut beberapa tips menghadapi pembullyan yang semoga saja benar.

 

Pertama, playing victim. (Apa itu playing victim? Lihatdisini) Intinya, kita mengiyakan saja apa yang 'mereka' lontarkan kepada kita. Karena semakin kita melawan, justru kita semakin lemah dan mereka semakin punya bahan bullyan.

 

Contoh yang direkomendasikan:

P : Hei ngapain kesini? Cari makan gratisan ya haha.

B : Iya ni bro w belum makan 3 abad

P : Elah kasian amat..

B : hehe..

Obrolan pun selesai.. Dan alihkan ke pembicaraan lain.

 

Kedua, mengiyakan apa yang dilontarkan 'mereka' kepada kita.

 

Contoh yang direkomendasikan:

P : Hei ngapain kesini? Cari makan gratisan ya haha.

B : Lah kalo ada kalian yang udah nyediain makanan kenapa w mesti repot2 beli juga.

P : Elah bisa aja lu..

Obrolan pun selesai.. Langsung saja alihkan ke pembicaraan lain dengan perasaan tanpa dosa sedikitpun.

 

Terakhir, diamkan dengan gelagat pura-pura tak mendengar.

 

Contoh yang direkomendasikan:

P : Hei ngapain kesini? Cari makan gratisan ya haha.

B : Hening pura-pura tak mendengar.

Langsung alihkan pembicaraan dengan mengajak lawan bicara lain.

B ke C : Eh si anu kemana, kok belum nongol batang idungnya. Biasanya dateng paling awal.

Dan obrolan pun berlanjut ke pembahasan lain.

 

Walaupun terkesan menjengkelkan kan tidak friendly. Tapi hal-hal tersbut sepertinya cukup membantu buat saya pribadi yang kadang menemui lingkungan yang toxic.

 

Semua kembali ke mental sih, kita tak bisa mencegah orang lain supaya tidak mem-bully kita. Tapi kita sendirilah yang harus menyiapkan diri bagaimana cara bersikap ketika ter-bully.

Sabtu, 19 September 2020

Berandai-Andai

 


Di usia 26, mungkin merupakan usia yang cukup matang untuk menikah dan aku sangat berharap untuk bisa menikah di usia maksimal 27.

 

Sebagai orang dengan gaji pas-pasan, banyak hal yang mau tidak mau harus ditahan untuk tidak dilakukan demi tujuan menabung untuk pernikahan. Mulai dari tidak sering main dan nongkrong, mengurangi anggaran makan harian hingga yang lebih parah mengurangi jatah bulanan ke orang tua.

 

Semoga aku tak menjadi anak durhaka karena ini.

 

Apakah semua pengorbanan itu sebanding demi sebuah pernikahan? Demi hidup dengan orang baru yang belum tentu kadar cintanya setidaknya mendekati 50% dari cinta orang tua kepada kita.

 

Beberapa teman kantor yang usianya diatasku juga bahkan belum terlihat memiliki calon. Apakah usia segini memang belum terlalu matang untuk menikah ya?

 

Aku sendiri terkadang merasa masih kekanak-kanakan dan emosional dalam menanggapi permasalahan. Apakah aku pantas menikah dalam kondisi yang setengah dewasa seperti ini?

 

Kata orang, bisa learning by doing kok. Ah, klise.

 

Namun, jika berandai-andai pernikahan bukan menjadi tujuan terpenting dalam hidupku, mau diapakan semua tabungan yang dikumpulkan bertahun-tahun ini?

 

1.       Untuk Orang Tua

Hidup matiku tak lebih berharga dibanding kebahagiaan mereka. Aku mungkin tak pandai mengungkapkan dan mengekspresikan betapa aku mencintai kedua orang tuaku. Namun, bila menikah bukan menjadi tujuanku selanjutnya, aku siap memberikan semua uang ini untuk orang tua dengan hanya menyisakan uang untuk bertahan hidup selama sebulan saja.

 

2.       Membuka Usaha

Sebagai anak dari seorang pedagang mie ayam, jiwa dagang sudah mengalir didarahku. Namun, karena resikonya masih 50:50 aku harus rela untuk saat ini tidak mengambil resiko itu hanya demi mempertahankan tabungan ini.

 

3.       Men-DP Rumah

Sepertinya membeli rumah dengan sistem KPR yang katanya haram ini merupakan satu-satunya alasan paling masuk akal buat karyawan bergaji pas-pasan dan tak punya harta warisan ini. Kalau sudah punya rumah sendiri rasanya sudah sangat aman mengingat rumah pun bisa dijadikan investasi karena harganya bisa dipastikan selalu naik dari tahun ke tahun.

 

4.       Memulai Hidup lagi di tempat baru

Beberapa rekan dan kenalan sudah membuka pintu untuk mengajak saya bergabung ditempatnya. Beberapa lowongan yang lebih menggiurkan juga berseliweran di media sosial. Namun saya putuskan saat ini masih bertahan di kota ini sampai saat ini.

 

Keempat opsi tersebut merupakan opsi yang juga memiliki resiko yang besar yaitu apabila mengalami kegagalan atau kendala bisa berakibat terhadap tertundanya pernikahan sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Makanya hal tersebut belum dilakukan secara maksimal saat ini, semoga suatu saat bisa terealisasi sebelum atau sesudah menikah, Aamiin.


Senin, 14 September 2020

Senin, 14 September 2020

Dimasa pandemi ini Rapid Test dan Swab Test (Apa itu Rapid dan Swab?) menjadi lahan bisnis baru bagi rumah sakit dan klinik kesehatan hal yang wajar dilakukan siapapun untuk mendeteksi ada tidaknya virus corona dalam tubuh seseorang.  


Protokol kesehatan semacam jaga jarak ±1 meter, pakai masker ketiga pergi kemanapun, face shield dan APD lengkap bagi tenaga kesehatan, selalu rutin cuci tangan pakai sabun dll menjadikan pergerakan umat manusia sangat-sangat dibatasi.


Karena Covid-19, pertengahan tahun 2020 ini sudah tidak ada konser musik, banyak tempat wisata ditutup untuk meminimalisir terjadinya kerumunan, dan akses ke transportasi sangat dibatasi dengan manjaraki tempat duduknya.


Akibatnya banyak sektor usaha yang tidak bisa berjalan, pengangguran semakin meningkat, ekonomi semakin terjun bebas, warga dibatasi pergerakannya sehingga banyak masyarakat yang stress karena tak bisa kemana-mana.


Salah satu strategi ‘New Normal’ yang diterapkan di Indonesia adalah untuk menggunakan transportasi umum semacam kereta jarak jauh dan pesawat terbang kita diwajibkan untuk melampirkan hasil rapid atau swab test terlebih dahulu yang biaya testnya cukup mahal untuk seukuran masa pandemi kali ini.


Sebagai seorang kontraktor, pergerakan perusahaan tempat bekerja pun menjadi sangat dibatasi. Beberapa perusahaan yang menggunakan jasa kami mensyaratkan untuk teknisi yang berangkat harus sudah dinyatakan aman dari Covid-19 melalui Rapid atau Swab Test.


Untuk itulah, hari ini saya pertama kalinya harus menjalani Rapid Test di Laboratorium Klinik Prodia. Di Sidoarjo sendiri ada beberapa tempat yang bisa digunakan untuk melakukan test ini. Namun setelah beberapa pertimbangan akhirnya diputuskan untuk melakukan Rapid disini.


Singkat cerita, setelah ±2 jam lebih mengantri tibalah giliran saya untuk melakukan Rapid. Oiya, sewaktu pendaftaran bagian resepsionist sempat mengatakan kalau metodenya yaitu metode ECLIA yang katanya lebih akurat dibanding Rapid Test. (Apa itu ECLIA test?) Saya tak ambil pusing tentang metode tersebut karena memang saya tak punya gejala apapun dan biaya nya yang hanya IDR 150.000 membuat saya langsung mengiyakan saja.

Tangan Setelah ECLIA test

 

Sempat ditakut-takuti oleh beberapa teman, ternyata sewaktu darah diambil tidak begitu sakit. Terus terang saya sama sekali tak melihat jarum suntiknya karena saya memalingkan wajah ke arah sisi yang berlawanan. Namun yang saya rasakan jarum yang masuk ke siku dalam tangan saya sangat tipis sehingga sakitnya masih bisa diminimalisir, masih lebih sakit ketika saya pertama melakukan scalling gigi beberapa waktu lalu, haha.


Setelah selesai, saya langsung pulang karena hasilnya baru bisa diambil lagi nanti pukul 18.00 WIB. Singkat cerita, selepas maghrib dalam kondisi klinik yang sudah sangat sepi saya langsung mengantri mengambil hasil lab nya dan berikut adalah hasilnya :

 

Hasil Rapid Test

Seperti dilihat diatas Alhamdulillah hasilnya adalah Non Reaktif, alhasil saya sudah memenuhi syarat untuk berangkat ke salah satu pabrik minyak goreng di Gresik untuk hari rabu depan.

Jumat, 07 Agustus 2020

Memberi


Kata orang, mencintai adalah tentang saling. Ada juga yang bilang tentang kenyamanan. Tapi, buatku mencintai adalah tentang memberi, titik. Bahkan tanpa mengharap balasan sekalipun. 


Memberi dalam hal ini bisa diartikan oleh masing-masing individu. Bisa memberi kasih sayang, perhatian atau hal lain sesuai keinginan masing-masing (tidak terbatas pasangan, bisa ke orang tua atau lainnya). 


Kenapa hanya memberi? Tidak dilengkapi dengan menerima. Karena kalau mengharap balasan sudah bukan 'tulus' lagi namanya, tapi berbisnis atau transaksi sebagai upaya menguntungkan kedua belah pihak. 


Salah satu bentuk rasa syukur saat mencintai adalah diijinkan untuk 'memberi'. Jika dengan memberi kasih sayang saja sudah bisa bahagia, lalu apabila orang yang dicintai ini tadi mau memberi balik maka kebahagiaan berlipat ganda lah yang akan kita peroleh. 


Muara dari sebuah hubungan tentu yang utama adalah mencari kebahagiaan. Maka dari itu, jika ingin selalu bahagia caranya adalah dengan menurunkan standar kebahagiaan itu sendiri, yang harusnya bisa diciptakan oleh diri sendiri tanpa perlu ketergantungan terhadap orang tertentu. 


Bukankah sangat merepotkan kalau mau bahagia saja perlu kehadiran orang lain? 


Bukan saya tak mau dicintai balik, poin nya disini adalah saya tidak punya kehendak apapun untuk membuat seseorang mencintai balik. Tapi, satu hal yang bisa dikendalikan adalah bagaimana bersikap ketika dicintai atau tidak dicintai. 


Ketika saya sudah bisa bahagia dengan diri sendiri, bukan berarti saya tak butuh orang lain. Tapi, harusnya saya bisa membagikan kebahagiaan yang telah dipunya ke pasangan. 


Terkait kenyamanan, harusnya bisa dikondisikan. Misal ada puluhan alasan untuk membuat tak nyaman. Temukan satu alasan saja untuk membuat bertahan. Temukan setiap hari, setiap waktu dan syukuri apa yang sudah dipunyai saat ini dengan lebih banyak 'memberi'. 


___

Disclaimer : berapa kata diatas hanyalah 'urun rembug'. Boleh setuju atau sebaliknya. Standar cara hidup & berpikir seseorang tidak harus sama satu dengan yang lainnya. 


Rabu, 15 Juli 2020




Bagi seorang mahasiswa, keahlian untuk mampu menulis ilmiah adalah sudah menjadi suatu keharusan. Keahlian itu harus dipupuk sejak dini, karena pada akhirnya nanti para mahasiswa akan merasakan bagaimana menulis skripsi yang tentu saja dalam penulisannya harus sistematis dan ilmiah.

Rabu, 24 Juni 2020



Sewaktu kuliah, saya baru sadar kalau gaji guru sangat rendah. Padahal waktu itu saya adalah calon sarjana pendidikan yang harusnya setelah lulus diproyeksikan untuk menjadi guru.

Waktu itu juga saya baru sadar kalau ibu saya yang hanya seorang tenaga kerja honorer mempunyai bayaran yang sangat kecil. Sangat tidak masuk akal karena bayarannya bahkan masih dibawah tenaga bantu yang bapak pekerjakan di warung mie ayamnya.

Bahkan saya sempat berpikiran kenapa tidak ibu saya saja yang bantu di warung? Kan penghasilannya lebih besar.

Jumat, 22 Mei 2020


Ungkapan ini ternyata benar adanya karena tertawa itu ada tempatnya, tertawa itu ada waktunya, tak bisa disembarang waktu dan tempat.

Kenapa tertawa ada tempatnya? Contohnya kita tidak mungkin tertawa atau bersenda gurau di tempat pemakaman seseorang karena tidak menghargai keluaga yang sedang bersedih ditinggal orang terdekatnya.

Kenapa tertawa ada waktunya? Contohnya kita tidak mungkin tertawa atau bersenda gurau diwaktu meeting penting dengan atasan saat membahas sesuatu yang penting karena ya memang bukan waktunya saja.

Namun, kita semua tentu sepakat kalau tertawa itu baik karena tertawa itu bisa meningkatkan imunitas terutama untuk membuat diri lebih kuat ditengah kepungan pandemi Covid19 ini.

Saya pikir, tiap individu punya selera humor masing-masing yang tak bisa digeneralkan. Pasti kita pernah mengalami kejadian yang niatnya hanya bercanda untuk membuat orang lain tertawa namun yang terjadi justru orang lain jadi tersinggung.

Padahal, komedi itu sudah pasti menyinggung. Hanya saja standar keberterimaan kita sekarang yang mulai menurun menjadikan banyak orang sekarang mudah tersinggung.

Tidak apa tersinggung, tapi tentu kita punya cara yang lebih tepat untuk menunjukkan ketersinggungan kita yaitu dengan cara TABAYYUN, bukan malah memendam dalam hati atau malah marah-marah meluapkan ketersinggungan kita.

Buat saya marah adalah bentuk kelemahan karena marah berarti tak mampu menahan diri. Salah satu bentuk pertahanan diri adalah dengan bersabar.

Pilih sabar atau marah?

Jika diibaratkan dengan gambar diatas, dalam menghadapi ketersinggungan kita cuma 2 pilihan yaitu sabar yang berada di sisi kiri yang mana kita hanya perlu mengeluarkan enegi sebesar 0-50% sedangkan marah yang berada disisi kanan adalah energi yang kita keluarkan sebesar 51-100%.

Beberapa orang bilang, “sabar itu ada batasnya”. Tapi saya kurang sependapat karena sabar itu ya sabar aja. Kalau sudah melewati batas kesabaran berarti ya sedang marah. Mungkin kita pernah sabar namun saat mengatakan “Sabar ada batasnya” bisa dipastikan orang tersebut sedang marah, walau mungkin pernah bersabar namun tidak lama.

Kita hanya bisa memilih untuk sabar atau marah. Kalau dibilang sabar itu ada batasnya, berarti itu bukan sabar, berarti kalian sudah masuk ke sisi kanan yaitu marah. Ibarat kata, titik didih orang berbeda-beda, ada yang bisa menahan tetap dibawah 50% ada yang tidak bisa.

Lomba di Universitas Tanjungpura

Selama menjadi mahasiswa, setidaknya saya sudah berkeliling 4 pulau besar di Indonesia yaitu Sumatra yang diwakili ke Universitas Riau dan hampir ke UNP Padang namun tidak jadi berangkat karena masalah dana, kemudian ke Kalimantan yang diwakili ke Universitas Tanjungpura, lalu ke Sulawesi yang diwakili ke Universitas Hasanuddin dan juga gagal berangkat ke Manado karena dana tombokan yang begitu besar dan yang terakhir tentu pulau yang saya tinggali yaitu Jawa yang diwakili pernah ke Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, ITS Surabaya, Untirta Banten, PKTJ Tegal, Kementrian Perhubungan Jakarta dan tentu saja di kampus sendiri yaitu Universitas Negeri Semarang. Untuk dijawa, seingat saya hanya gagal berangkat sebanyak 2 kali yaitu ke Universitas Brawijaya untuk ke 2 kalinya dan ke Universitas Telkom Bandung.

Kamis, 21 Mei 2020

Catur, Melukis dan Bahasa Inggris



Masih tentang bernostalgia untuk mengisi waktu luang dimasa pandemi Covid-19 yang membuat kita dipaksa #dirumahaja. Kali ini saya ingin kembali menuangkan isi hati mengenai catur dan melukis. 2 hal lain selain sepak bola yang mampu mengubah hidup saya.

Handi kecil adalah bocah pemalu yang tak berani coba-coba. Terus terang saya belajar catur awalnya dari mengamati orang saja bagaimana pion, benteng, kuda dll bergerak. Namun ada 1 kejadian yang benar-benar mengubah dan meningkatkan 89% kemampuan saya bermain catur yaitu ketika diberi tahu oleh Pakde Kus mengenai trik mengalahkan lawan hanya dengan 4 kali gerakan (Kalau ingin tahu caranya membuat skakmat lawan hanya dari beberapa langkah bisa dilihat DISINI).

Dari ajaran itu saya berhasil mengalahkan lebih dari 80% lawan saya ketika lomba catur tingkat RT. Sisanya adalah improvisasi bahwa catur memang permainan strategi, kita harus mampu merencanakan 3 sampai 4 langkah kedepan bagaimana cara men-skakmat raja dan juga harus memprediksi 3 sampai 4 langkah gerakan lawan yang akan men-skakmat kita. Kelemahan saya adalah saya selalu terburu-buru ingin menskakmat lawan hingga tidak memperdulikan gerakan lawan. Misal saya sudah menemukan cara menskakmat dengan 4 langkah, namun karena terlalu bersemangat hingga tanpa saya sadari saya dulu lah yang terkena skakmat hanya dari 3 langkah. Namun, sebagai pemula saya cukup bangga karena waktu itu setidaknya saya selalu masuk 3 besar dalam lomba catur tingkat RT selama 3 tahun berturut-turut sebelum lomba catur benar-benar dihapuskan karena tak ada warga yang punya papan catur.

Berlanjut ke melukis, sebenarnya saya juga tak begitu berbakat melukis. Namun satu hal yang mengubah hidup saya adalah ketika Pakde Him mengajarkan teknik melukis dan mewarnai dengan menggunakan crayon. Lukisan saya tak begitu bagus namun saya hanya tau cara mewarnai dengan crayon yang waktu itu menggunakan teknik gradasi.  Dari melukis saya banyak sekali mendapat penghargaan, dari tingkat RT, tingkat dabin iv dan tingkat kabupaten juga pernah. Bahkan puncaknya saya pernah mewakili kota Demak dalam porseni tingkat Jawa Tengah. Sebelum mewakili, itu saya menjadi juara 2 tingkat kabupaten Demak. Seperti yang saya bilang diawal tadi, saya tak punya bakat melukis, hanya tau trik mewarnai yang bagus saja. Dalam waktu durasi melukis selama 2 jam itu, si juara 1 tadi menyelesaikan lukisannya dalam waktu 45 menit + 10 menit menebali menggunakan spidol dan sisanya digunakan untuk mewarnai. Sedangkan saya perlu menghabiskan 1 jam 30 menit untuk menggambar dan 30 menit untuk mewarnai, hal ini yang membuat saya minder dan menyadari bahwa saya memang tidak berbakat. Maka dari itu, meskipun telah banyak memberi saya gelar juara, saya tak begitu mau men-seriusi melukis dan beruntung di masa kuliah saya bisa menemukan kegiatan lain yaitu “menulis” yang bisa menjadi ladang selanjutnya dalam menambah koleksi piagam penghargaan.

Sedikit mundur kebelakang mengenai bahasa inggris, juga Pakde Him yang mengenalkan saya dengan bahasa inggris. Metode yang diajarkan cukup simple, hanya mengajari Grammar dan disuruh menghafal 5 kata irregular setiap les sore sehingga membuat saya menjadi siswa paling menonjol di kelas mengenai pelajaran bahasa inggris saat itu. Sebagai gambaran setiap ulangan saya bisa mendapat nilai 70-80, tidak terlalu tinggi memang, namun tetap menjadi siswa yang paling diingat guru karena teman-teman lain rata-rata hanya mendapat nilai 40-50. Memang bukan saya yang terlalu pintar, hanya kebetulan diwaktu SMP itu teman-teman saya yang lain tak begitu memfokuskan bahasa inggris sebagai mata pelajaran yang diseriusi, mungkin salah satu alasannya karena bahasa inggris tak masuk dalam maple Ujian Nasional. Jujur, saya sebenarnya tidak 100% memahami Grammar, saya hanya mengandalkan intuisi saja yang membuat ilmu itu terus memudar seiring berjalannya waktu. Terutama diwaktu akhir-akhir masa SMA yang terus terang saya mulai malas belajar untuk UN. Namun beruntungnya saya masih punya semangat untuk membelajari soal-soal SNMPTN sehingga waktu itu Alhamdulillah saya masih bisa masuk PTN.

Agak meloncat-loncat memang, saya tak pernah menseriusi 1 bidang pasti untuk didalami sehingga semua ilmu yang saya punya hanya setengah-setengah saja. Namun dari kesemuanya itu adalah sekian sedikit hal yang bisa membuat survive dan merasa berguna. Untuk itu, kalian harus tetap berusaha menemukan apa yang membuat kalian merasa berguna. Jangan pernah lelah untuk mencoba seperti kata Pak Habibie, “Setiap orang punya jatah gagal, habiskan jatah gagalmu sewaktu muda, agar kamu bisa meraih kesuksesan secepat mungkin”.

Rabu, 20 Mei 2020

Sepak Bola, PSIS Semarang dan AC Milan


Handi kecil adalah bocah kecil cupu, suka menangis dan juga mudah pingsan ketika upacara bendera. Maka dari itu, aktivitas olahraga/ fisik bukan hal yang paling disukai pada masa SD. Namun pertengahan kelas 6 SD ketika saya hanya sekedar ‘formalitas’ berdiri di depan gawang ketika bermain sepak bola bersama teman sekelas lainnya, saya pertama kali mendapat pujian dari teman-teman karena beberapa kali melakukan penyelamatan di depan gawang. Hal ini adalah momen pertama yang membuat saya mulai bisa menikmati bermain sepak bola, sebagai pemain belakang.

Sewaktu SD itu pula, teman-teman sering bercerita bagaimana bangganya mereka menonton langsung pertandingan PSIS Semarang langsung dari stadion, yang kebetulan waktu itu PSIS memang sedang hebat-hebatnya dengan menjadi Runner-Up Liga Indonesia bersama pemain asing popular saat itu yaitu DE PORRAS DAN ORTIZ yang berasal dari Italia yang sepertinya masih sangat dicintai supporter hingga saat ini. Momen itu juga yang membuat saya penasaran dan kemudian juga bisa menikmati menonton pertandingan sepak bola meski hanya dari layar kaca. Iya sepertinya saya bisa mencintai klub ini, semakin yakin ketika saya baru diberi kesempatan menonton langsung pertandingan PSIS ketika kuliah di Semarang sekitar 5 tahun dari awal saya menontonnya dari layar kaca. Saya jatuh cinta dan candu dengan atmosfer di dalam stadion, bagaimana supporter saling BERADU NYANYIAN DAN KOREOGRAFI untuk mendukung masing-masing klub kebanggaannya.

Tak jauh dari itu, berlangsunglah moment Piala Dunia 2006 yang merupakan pertama kali saya benar-benar menonton pertandingan sepak bola luar secara utuh. Kebetulan waktu itu ada beberapa pertandingan yang mulai pukul 20.00 WIB sehingga masih bisa saya melihat bersama bapak tanpa harus begadang. Di akhir turnamen secara mengejutkan Italia berhasil menjadi juara dunia mengalahkan Prancis. Kemenangan itu sedikit kontroversial karena terdapat moment Zidane dikartu merah langsung setelah MENANDUK DADA MATERAZZI karena terprovokasi oleh perkataannya. Saya cukup menyesalkan kejadian itu karena nama Zidane yang merupakan pesepakbola muslim yang memang berbakat luar biasa jadi tercoreng karena ulah kejadian itu. Namun saya tak bisa sepenuhnya menyalahkan Materazzi karena provokasi (selama tidak ketahuan wasit) itu tidaklah melanggar rule of the game, hanya memang menodai fair play saja dan saya juga sering memprovokasi lawan –tapi tidak dengan perkataan seperti yang dilakukan materazzi, hanya dengan cara menarik baju atau melakukan dorongan kecil hanya untuk membuat emosi lawan (tanpa ada niat menciderai) dan hanya berniat untuk mengacaukan permainannya- ketika bermain futsal haha. Atas dasar itu, meski mendukung AC Milan, saya tak begitu menjadi supporter italia (seperti kebanyakan pecinta liga italia lainnya). Saya hanya mengikuti beberapa pertandingan timnas italia karena sekedar ingin melihat pemain AC Milan yang bermain di timnas Italia.

Percaya atau tidak, awal mula saya jatuh cinta pada AC Milan adalah karena fenomena jatuh cinta pada pandangan pertama. Sesimple itu memang, tak ada alasan apapun. Hanya karena 2 kali saya terbangun di dini hari, menonton televisi dan melihat seragam kebanggaan merah hitam itu. Jujur saja waktu itu saya kebingungan, bagaimana bisa ada pemain timnas italia dan brasil bermain dalam 1 klub. Secupu itu memang waktu itu, namun dimomen ke 3 kalinya saya kembali tak sengaja terbangun di dini hari dan kembali menonton AC Milan ketika melawan BAYERN MUNCHEN, saat itulah saya memutuskan untuk menjadi Milanisti.

Ke 4 moment itulah yang membuat saya menyukai menonton, bermain sepak bola, PSIS Semarang dan AC Milan. Anehnya kesemua moment yang mengubah alur hidup saya itu terjadi di tahun 2006. Kenapa bisa suka dan bahkan bisa bertahan sampai sekarang? Simple, karena semua hal itu bisa membuat darah saya mendidih dan merasakan adrenalin yang membuat saya bersemangat melakukan hal apapun.

Saya tak pernah sedikitpun menyesal dengan masa muda saya. Sebelum menyukai sepak bola saya sudah kenyang dengan berbagai permainan tradisional yang bahkan adik kandung saya tak bisa merasakan karena cepatnya perubahan kultur sosial budaya. Meskipun tinggal di perumahan namun masa kecil saya sempat merasakan bermain lompat tali, petak umpet, kelereng, gobak sodor, layangan, engklek dan masih banyak lainnya. Setelah masa itu terlewat, saya beruntung menemukan Sepak Bola yang membuat saya ‘diakui’ bahwa saya bukan lagi bocah cupu tapi saya punya sesuatu yang bisa diandalkan.

Kemampuan sepak bola saya diasah dari lapangan plester yang sering membuat kaki kapalan atau kuku terkelupas. Sebelum kelas 6 SD, di kampung saya bermain sepak bola dengan teman-teman yang kesemua usianya diatas saya yang tentu membuat saya sulit berkembang. Namun masuk masa SMP adalah masa transisi menjadi saya yang bermain dengan teman yang usianya dibawah saya. Dari sinilah kemampuan sepak bola saya berkembang pesat. Saya jadi bisa mempraktekkan drible bola ala Ricardo Kaka’ dan Tendangan melengkung ala Andrea Pirlo, walau kini diantara teman-teman futsal saya lebih dikenal mempunyai cara bermain dan mencetak gol mirip Pippo Inzaghi. 

Juara 2 Porsaklas Futsal Teknik Elektro 2014

Sabtu, 02 Mei 2020

3 Mei

BDAY


Seseorang pernah bilang kepadaku, Ulang tahun hanyalah soal angka, tak ada yang spesial dan tak ada bedanya dengan hari-hari lainnya. Sepertinya saya bisa mengamini hal tersebut.

Jika orang lain ingin menghabiskan waktu dengan orang paling dicintainya dihari ulang tahunnya, saya tidak. Saya ingin selalu menghabiskan waktu dengan orang yang saya cintai, setiap harinya--tidak hanya pada hari ulang tahun saja.

Jika ulang tahun diibaratkan dengan hari bahagia, sepertinya saya kurang sependapat. Hari bahagia harus datang setiap hari, dengan cara yang sesederhana mungkin.

Saya ingat betul pertama kali mendapat kue ulang tahun justru dari kawan-kawan UKMP. Walau saya tak berharap, tapi saya hampir mewek dibuatnya, untung masih bisa menahan diri.

Ada lagi teman kampus yang rela memberikan jersey AC Milan di hari ulang tahunku. Terasa sangat spesial namun ada sedikit penyesalan karena belum mampu melakukan hal serupa untuknya dikarenakan segala keterbatasan yang saya punya.

Mungkin lebih karena tak ingin kecewa dan tak ingin berharap apa-apa, makanya saya tak ingin menspesialkan hari ulang tahun. Jadi jika tak ada apa-apa pun saya tak akan kecewa, namun jika ada yang menspesialkan hari ulang tahun saya, bahagia bisa tetap saya rasakan karenanya--dari kedua opsi tersebut tak ada opsi kecewa karena ekspektasi yang tinggi.

Maka dari itu, meski saya tak menspesialkan hari ulang tahun, tapi karena kebanyakan orang lain tidak. Maka dari itu, dari sekian sedikit teman dekat yang saya punya, saya ingin berterima kasih dengan memberikan sesuatu yang istimewa di hari bahagianya-tak hanya. ulang tahun, tapi hari bahagia lainnya juga.

Ada banyak list teman yang harus saya balas budinya yang semoga saya sempat membalas setiap kebaikan mereka. Pun begitu saya masih ingin membahagiakan orang terdekatku saat ini, semoga masih diberi kesempatan.

Jumat, 01 Mei 2020

Wisuda Sarjana Pendidikan Teknik Elektro


Sebagai karyawan swasta di salah satu perusahaan kontraktor berbasis instrumentasi dan kelistrikan, saya sebagai sarjana teknik diharuskan untuk mampu berkolaborasi dengan lulusan SMK untuk berbagi tugas menyelesaikan pekerjaan dari client.

Dikarenakan perusahaan tidak memberikan perbedaan yang jelas dan kita digabungkan dalam 1 divisi yang sama namun dengan beban kerja, tugas dan rate gaji yang berbeda membuat di kantor terdapat semacam perang dingin yang membedakan golongan SMK dan golongan sarjana.

Hal ini diperparah lagi karena ada sentimen perbedaan kota yang mana karyawan lulusan SMK didominasi dari kota M, sedangkan kita yang lulusan sarjana secara kebetulan banyak yang berasal dari kota S. Walau tak semua, namun perbedaan ini semakin kentara. Kita hanya lebih sering ‘fake smile’ di depan karyawan yang lain walau dalam hati seperti ada batasan yang membuat kita saling curiga.

Nah salah satu api yang sering disulut oleh golongan lulusan SMK adalah seringkali sahabat-sahabat saya yang tidak melanjutkan ke jenjang kuliah menggunakan quote dari Najwa Shihab yang isinya “Apa arti ijazah yang bertumpuk, jika kepedulian dan kepekaan tidak ikut dipupuk” (idntimes.com) untuk dibagikan di status WhatsApp dan story Instagram mereka.

Saya yakin itu adalah sindiran untuk golongan kita karena sudah tak terhitung story tersebut muncul di status mereka, bahkan membuat saya hafal setiap katanya. Rasanya ingin memblokir atau menghide status mereka saja, namun hati kecil berkata jangan sampai sama-sama menyulut api seperti mereka yang hanya akan memperkeruh suasana.

Mereka dengan bangga memamerkan quote tersebut seakan mba Nana (sapaan akrab najwa shihab) menomor duakan Pendidikan. Padahal kita tau mba Nana itu sangat mengutamakan pendidikan terbukti dalam quote yang lain nya yang berbunyi,”Hanya pendidikan yang bisa menyelamatkan masa depan. Tanpa pendidikan, Indonesia tak mungkin bertahan.”

Boleh saja, membanggakan skill yang mereka dapat bukan dari bangku kuliah. Namun, mba Nana tentu akan lebih sepakat bahwa pendidikan ke jenjang perkuliahan itu penting. Meski perkuliahan adalah perguruan tinggi yang bisa dicapai seseorang, namun kita bisa belajar dari berbagai hal termasuk pengalaman. Hal ini didukung dengan quote Najwa Shihab lainnya yang berbunyi, “Belajar tentu keharusan yang tak boleh diabaikan, namun merugilah jika disempitkan semata perkuliahan”.

Salah kaprah jika dari quote tersebut banyak diartikan sempit dengan hanya mengambil kalimat pertamanya saja yaitu,”Apa artinya ijazah yang bertumpuk?”  sehingga memojokkan para sarjana. Memang banyak sarjana yang menganggur, namun dari lulusan SMA/ SMK juga tak kalah banyak.

Supaya lebih fair, mari kita tengok data dari BPS terbaru tahun 2019 yang mana Kepala Badan Pusat Statistik mengatakan, tingkat pengangguran terbuka (TPT) didominasi oleh lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebesar 10,42 persen dari total 7,05 juta orang. Selain SMK, SMA menempati peringkat kedua dengan presentase 7,92 persen, diikuti diploma I/II/III dengan 5,67 persen. Sedangkan Universitas ‘hanya’ menduduki peringkat keempat dengan presentase 5,67 persen (kompas.com).

Di usia yang sama, mungkin lulusan SMA/SMK sudah punya lebih banyak pengalaman di lapangan. Namun dengan belajar di bangku perkuliahan harusnya bisa mempersingkat waktu 4 tahun kuliah terkonversi menjadi setara 10 tahun bekerja dari berbagai teori, praktek bahkan skiripsi yang telah ditempuh. Maka tak jarang, berdasarkan itulah lulusan sarjana meski tak punya pengalaman, namun langsung diberi kesempatan menduduki posisi yang lebih tinggi.

Nah, bukan bermaksud menmojokkan golongan SMK/SMA. Kalau kalian memang merasa punya kemampuan yang baik, sudah punya banyak pengalaman serta tabungan sebaiknya juga melanjutkan juga ke perguruan tinggi. Jika kalian tetap berada ditahap itu, yang paling diuntungkan tentu para bos-bos kalian yang bisa seenaknya membayar gaji tak jauh dari UMR. Kalau mau naik level, naikkan nilai tawar kalian dulu dengan menambah nama belakang kalian dengan gelar sarjana.

Sekarang adalah eranya kolaborasi, bukan lagi era kompetisi. Sudah lah tak usah mencoba membanding-bandingkan mana yang lebih hebat yaitu apakah lulusan SMK atau lulusan perguruan tinggi. Sudah saatnya berhenti menyibukkan diri untuk menjatuhkan satu sama lainnya, saatnya bahu membahu menjalankan masing-masing peran yang dilakoni dengan sebaik mungkin.

Sidoarjo, 2 Mei 2020
Selamat Hari Pendidikan Nasional 2020
#HariPendidikanNasional #Hardiknas2020

Terdampak Covid-19

Kalau ini bukan akhir dunia, fenomena Corona (Covid-19) sepertinya akan menjadi catatan sejarah tersendiri bagi dunia secara umum dan bagi Indonesia secara khusus. Di Indonesia sendiri, terakhir kali Negara ini mengalami krisis ekonomi yang hampir menghentikan semua aktifitas masyarakat adalah Krisis tahun 98 (lihat dampak krisis 98 disini). Mungkin ini menjadi ke 2 kalinya setelah krisis 98 setidaknya dalam seperempat abad terakhir ini.  

Beberapa dampak paling kentara bagi masyarakat Indonesia adalah per 24 April 2020 hingga batas waktu yang belum ditentukan sudah tidak ada lagi moda transportasi umum yang beroperasi, baik itu pesawat, kereta, bus semuanya sudah tidak beroperasi. Padahal ini sudah masuk bulan puasa dan pemerintah sudah mewanti-wanti agar masyarakat yang berada di jabodetabek untuk tidak mudik.

Meski saya merantau di jatim, sepertinya juga terancam tidak bisa mudik karena dikhawatirkan menularkan keluarga yang ada di rumah dan dibeberapa kota sudah ada polisi yang berjaga untuk mengembalikan warga yang berniat mudik. Pun kalau sudah bisa kembali kesini harus dikarantina 14 hari dahulu sesuai protokol penganganan corona yang gejalanya akan muncul dalam rentang waktu 14 hari. Secara tidak langsung, pihak kantor juga sudah melarang agar karyawannya tidak keluar kota dulu, bahkan Sidoarjo-Malang pun tak diijinkan.

Selain itu, di Surabaya-Sidoarjo-Gresik sendiri sudah mulai muncul SK Gubernur tentang pelarangan adanya kerumunan warga (berjualanb, beribadah dll) dan diterapkannya jam malam antara jam 21.00-04.00 WIB dilarang keluar rumah yang semakin membatasi gerak warga dan terutama berdampak besar pada masyarakat kecil yang mencari makan dari hari ke hari karena sudah tak bisa berjualan lagi.

Sebuah pilihan sulit karena kalau keluar rumah akan terancam terpapar corona hingga membahayakan nyawa mereka sendiri. Pun kalau tidak keluar juga bisa kelaparan karena tak mendapat uang yang biasanya hanya bisa didapatkan dari hari ke hari. Tapi memang kondisinya seperti ini, semuanya sudah saling curiga, mau memaksakan berjualan pun warga sudah ragu adanya paparan corona dan lebih banyak memilih memasak sendiri. Situasi seperti ini membuat perekomomian masyarakat mengengah kebawah hancur sehancur-hancurnya.

Kantor Tutup Karena Covid-19
Secara pribadi saya tak begitu terdampak karena kantor saya saat ini yang bahkan sudah menerapkan semi WFH (Work From Home) masih bisa survive walau banyak orderan yang tertunda namun belum ada karyawan yang ter-PHK seperti pabrik-pabrik di sebelah yang memang tak bisa dipungkiri dalam masa seperti ini daya beli masyarakat menjadi menurun drastis.

Minggu, 19 April 2020


Sepak bola adalah salah satu olahraga terpopuler di Indonesia. Baik itu sepak bola nasional hingga sepak bola eropa sudah terdapat kelompok supporternya sendiri-sendiri. Untuk supporter sepak bola nasional kita mungkin bisa berkontribusi dengan membeli tiket dan menonton langsung pertandingannya di stadion terdekat, namun bila menjadi supporter klub sepak bola dari luar negeri apakah dengan melakukan nonton bareng (nobar) saja cukup?

Minggu, 29 Maret 2020

Pesona Hutan Pinus Pengger

Bulan lalu, sebelum gencar-gencarnya Covid-19 mewabah ke seluruh penjuru negeri, kita menyempatkan untuk berlibur ke Jogja lagi. Kali ini salah satu destinasi yang dituju adalah Hutan Pinus Pengger.

Perjalanan menuju ke tempat ini kami tempuh selama kurang lebih 40 menit menggunakan sepeda motor yang kami sewa seharga 60k pernah hari dari SINI.

Sesampainya disana, tiket masuknya cukup murah. Hanya dengan merogoh kocek senilai 7k untuk parkir sepeda motor + tiket masuk untuk 2 orang kita sudah bisa masuk ke lokasi wisata ini.

Seperti hutan pinus pada umumnya disini ditumbuhi banyak pohon pinus yang menjulang tinggi. Cukup teduh untuk menjadi tempat persinggahan sembari bersantai dan melepas penat.

Kami pun menyempatkan untuk memutari beberapa spot foto yang tersusun dari semacam akar dan pohon pinus yang menjulang tinggi. Berikut beberapa diantaranya;
Hutan Pinus Pengger

Selasa, 11 Februari 2020

Terima Kasih Gresik


Gresik dikenal sebagai kota santri yang mana disini terdapat 2 makam walisongo yaitu Sunan Giri dan Sunan Maulana Malik Ibrahim. Selain itu, Gresik juga dikenal sebagai kota industri karena terdapat banyak pabrik beroperasi dan mengembangkan bisnisnya disini.